Cerita di Balik Pernikahan Pelajar SMP, Belum Ingin Nikah tetapi Terdesak (1)

Kompas.com - 29/04/2018, 19:21 WIB
FA (14), pelajar SMP asal Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang akhirnya menikah dengan pacarnya, SY (15), Senin (23/4/2018). Pernikahan dini keduanya menuai kontroversi. KOMPAS.com/Hendra CiptoFA (14), pelajar SMP asal Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang akhirnya menikah dengan pacarnya, SY (15), Senin (23/4/2018). Pernikahan dini keduanya menuai kontroversi.

Daripada dicap nakal

FA yang masih duduk di bangku kelas VIII pun harus bekerja sambil bersekolah. Sepulang dari
sekolah, FA yang berbekal pakaian ganti langsung ke tempat kerjanya di tepi Pantai Seruni.

Dia bekerja sebagai pelayan kafe di tepi pantai dari pukul 15.00 Wita hingga dinihari, sekitar pukul 02.00 Wita. Dia biasanya dibayar Rp 30.000 dalam sekali kerja. Kadang, pemilik kfe memberinya Rp 50.000 jika pengunjung Pantai Seruni sedang banyak-banyaknya pada malam minggu.

Dari penghasilan itu, dia bisa membeli makanan untuk adiknya dan membeli vocer listrik saat kiriman dari sang ayah tak cukup.

(Baca juga: Tangis Histeris Ibu Wakapolres Labuhan Batu, "Andi, Mamak Ini, Anakku...")

Namun, konsekuensinya, FA kerap kelelahan saat kembali bersekolah pada pagi harinya. Dia juga jadi digunjingkan oleh teman dan tetangganya karena sering pulang tengah malam.

"Saya biasa dibilangi anak nakal oleh orang-orang dan teman-teman sekolah karena pulang setiap malamnya pada tengah malam. Mereka bahkan, menuduh saya sebagai pencurilah, penjual obatlah, dan berbagai macam. Saya pun sering di-bully teman-teman sekolah di SMP Negeri 2 Bantaeng," ungkapnya.

Mendapat perlakuan itu, FA yang bercita-cita sebagai dokter ini pun sempat patah semangat untuk bersekolah. Padahal, dia menuturkan, sering mendapat rangking 1 sejak masih duduk di kelas 1 SD.

Dari semua mata pelajaran di sekolah, FA mengaku paling suka mata pelajaran matematika dan mengaji ayat-ayat suci Al Quran.

"Saya dulu bersekolah di Madrasah Tsanawiyah, tapi pindah sekolah karena waktu belajarnya sampai sore. Saya terpaksa pindah sekolah, karena saya harus bekerja mulai jam 3 sore. Tapi di SMA 2, saya malah di-bully dan sering dibilangi anak nakal, pencuri dan sebagainya. Makanya saya mau pindah sekolah lagi, karena saya tidak tahan di sana," tuturnya.

(Baca juga: Kisah Mas Rinto, Tukang Bakso Berdasi yang Terinspirasi James Bond)

FA juga mengaku tidak mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) seperti yang telah diperoleh teman-temannya. Padahal, dia aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti OSIS, organisasi kesenian sekolah, dan Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS).

"Saya pernah tanya kepada kepala sekolah dan guru-guru di SMP 2, kenapa saya tidak dapat KIP dan KIS. Kata pihak sekolah, karena saya tidak terdaftar. Saya pun diam saja dan pasrah," tuturnya.

 

BERSAMBUNG: Cerita di Balik Pernikahan Pelajar SMP, Tunda Hamil demi Sekolah (2)

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Erick Thohir: Bio Farma Siap Produksi 250 Juta Dosis Vaksin Covid-19, Tersedia Mulai Desember 2020

Erick Thohir: Bio Farma Siap Produksi 250 Juta Dosis Vaksin Covid-19, Tersedia Mulai Desember 2020

Regional
Masuk Zona Hijau Covid-19, Pemkot Kupang Pertimbangkan Buka Sekolah

Masuk Zona Hijau Covid-19, Pemkot Kupang Pertimbangkan Buka Sekolah

Regional
Kronologi Lengkap Temuan Kerangka Wanita Berjaket Merah Wonogiri, Hilang Jejak Usai Jual Motor

Kronologi Lengkap Temuan Kerangka Wanita Berjaket Merah Wonogiri, Hilang Jejak Usai Jual Motor

Regional
Soal Klaim Risma Surabaya Jadi Hijau, Kadis: Yang Berubah Bukan Zona, tapi Reproduksi Efektif

Soal Klaim Risma Surabaya Jadi Hijau, Kadis: Yang Berubah Bukan Zona, tapi Reproduksi Efektif

Regional
Anggota DPRD Maluku Positif Covid-19: Sebelum Swab, Saya Ikut Rapat di Kantor

Anggota DPRD Maluku Positif Covid-19: Sebelum Swab, Saya Ikut Rapat di Kantor

Regional
Mahasiswa Unnes Adukan Mendikbud Nadiem Makarim ke Komnas HAM

Mahasiswa Unnes Adukan Mendikbud Nadiem Makarim ke Komnas HAM

Regional
Pegunungan Menoreh Akan Dilengkapi Kereta Gantung

Pegunungan Menoreh Akan Dilengkapi Kereta Gantung

Regional
Keluar Masuk Makassar Tak Perlu Lagi Surat Bebas Covid-19

Keluar Masuk Makassar Tak Perlu Lagi Surat Bebas Covid-19

Regional
Berstatus OTG, Anggota DPRD Maluku yang Positif Covid-19 Jalani Karantina Mandiri

Berstatus OTG, Anggota DPRD Maluku yang Positif Covid-19 Jalani Karantina Mandiri

Regional
Pemkot Cilegon Pertama Kali Uji Coba Belajar di Sekolah, Ini Hasilnya

Pemkot Cilegon Pertama Kali Uji Coba Belajar di Sekolah, Ini Hasilnya

Regional
Viral, Surat Terbuka Istri ABK Kapal China kepada Jokowi: Dia Tak Sanggup Lagi Bekerja

Viral, Surat Terbuka Istri ABK Kapal China kepada Jokowi: Dia Tak Sanggup Lagi Bekerja

Regional
Perempuan ODGJ Diperkosa Bergantian di Hadapan Anaknya hingga Hamil dan Melahirkan

Perempuan ODGJ Diperkosa Bergantian di Hadapan Anaknya hingga Hamil dan Melahirkan

Regional
Penyelundupan Sabu Dalam Bungkus Permen Wafer Cokelat Digagalkan

Penyelundupan Sabu Dalam Bungkus Permen Wafer Cokelat Digagalkan

Regional
Tak Terima Lahannya Dibangun, Warga di Sragen Tutup Jalan dengan Tembok

Tak Terima Lahannya Dibangun, Warga di Sragen Tutup Jalan dengan Tembok

Regional
Kasus Kepemilikan Sabu di Jambi, 2 Pemuda Divonis 6 Tahun Penjara

Kasus Kepemilikan Sabu di Jambi, 2 Pemuda Divonis 6 Tahun Penjara

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X