Kisah Ferdiyanti dari Pengumpul Kotoran Sapi hingga Pengusaha Rotan Halaman 1 - Kompas.com

Kisah Ferdiyanti dari Pengumpul Kotoran Sapi hingga Pengusaha Rotan

Kompas.com - 09/03/2018, 15:46 WIB
Ferdiyanti, seorang perempuan perajin rotan asal Desa Lamgaboh, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, tengah menganyam rotan menjadi tudung saji.KOMPAS.com/Daspriani Y Zamzami Ferdiyanti, seorang perempuan perajin rotan asal Desa Lamgaboh, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, tengah menganyam rotan menjadi tudung saji.

BANDA ACEH, KOMPAS.com – Hari masih Subuh, namun perempuan berkulit gelap ini sudah berada di balik setir mobil jenis pick-up tua.

Lokasi yang akan ia tuju bukanlah tempat yang lazim. Dia akan menuju lokasi kandang sapi, kemudian mengumpulkan kotoran sapi untuk diantarkan kepada pelanggannya.

“Ya, kotoran sapi. Saya bekerja membantu orang-orang yang membutuhkan kotoran sapi untuk diolah menjadi pupuk, saya mendatangi banyak kandang sapi di Banda Aceh dan Aceh Besar untuk memenuhi permintaan,” ujar Ferdiyanti, perempuan asal Gampong Gaboh, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, belum lama ini.

Bekerja sebagai pencari dan pengantar kotoran sapi kini menjadi kenangan bagi perempuan yang akrab disama Mak Yan ini. Pekerjaan itu sudah ditinggalkan sejak setahun lalu. 

(Baca juga : Kisah Mas Rinto, Tukang Bakso Berdasi yang Terinspirasi James Bond)

Kini ia mencoba peruntungan baru. Menjadi perajin anyaman rotan dan bermimpi menjadi eksportir kerajinan anyaman rotan. 

Sebenarnya, kemampuan menganyam rotan sudah dimiliki Mak Yan sejak kecil. Bisa disebut, usaha ini turun temurun dari orangtua dan neneknya.

“Sambil mencari kotoran sapi, saya juga menganyam rotan. Pagi sampai siang mencari dan mengantar kotoran sapi, di sore hari saya menganyam rotan,” jelas Mak Yan.

Hingga suatu hari, Mak Yan memutuskan untuk fokus pada usaha menganyam rotan. Ia menamai usahanya Le Bagoe Rotan, yang berarti ada banyak rotan.

Mak Yan memulai usaha dengan modal seadanya. Ia mengumpulkan rotan asli dari hutan, lalu dianyam di rumah yang sekaligus gudang rotannya.

“Pikiran saya mulai terbuka saat banyak mendapat masukan dan ide dari mahasiswa yang KKN (kuliah kerja nyata) di kampung saya. Kami banyak berdiskusi. Saat itulah saya memutuskan untuk fokus pada usaha menganyam rotan ini,” ujar perempuan kelahiran 1975 ini.


Page:
Komentar

Close Ads X