Rekonstruksi Pembunuhan Ketua DPRD Kolaka Utara, Anak Korban Histeris

Kompas.com - 26/10/2017, 09:16 WIB
AE (37) tersangka saat memperagakan adegan di terali besi pintu kamar ketua DPRD Kolaka Utara yang tak lain suaminya sendiri. KOMPAS.com/KIKI ANDI PATIAE (37) tersangka saat memperagakan adegan di terali besi pintu kamar ketua DPRD Kolaka Utara yang tak lain suaminya sendiri.
|
EditorReni Susanti

KENDARI, KOMPAS.com – Tersangka pembunuh Ketua DPRD Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) AE (37) yang tak lain istri korban menjalani proses rekonstruksi di rumah jabatan (rujab) ketua DPRD setempat, Rabu (25/10/2017).

Dalam reka ulang, AE memperagakan 22 adegan di sekitar kamar tidur rujab Ketua DPRD Kolaka Utara. Proses reka ulang itu dijaga ketat 80 personel anggota Polres Kolaka Utara.

Sementara itu, R (10), putri sulung Ketua DPRD Kolaka Utara, Musakkir Sarira, menangis histeris lantaran ingin melihat secara dekat proses rekonstruksi, namun tak diizinkan oleh pihak keluarga maupun kepolisian.

Begitu melihat tersangka yang tak lain ibu kandungnya sendiri, R spontan berteriak histeris memaksa untuk bertemu sang ibu. Namun ia tetap tak diperbolehkan bertemu dengan sang ibu.

(Baca juga : Istri Ketua DPRD Kolaka Utara Akui Bunuh Suaminya)

Setelah ayahnya meninggal dan ibunya menjadi tersangka atas kematian ayahnya, ketiga anak dari pasangan tersebut diasuh salah satu kerabat dekat almarhum yang kediamannya tepat berada di samping Rujab Ketua DPRD Kolut.

Salah seorang kerabat korban yang enggan menyebutkan namanya mengatakan, pertimbangan mental psikologis menjadi alasan R tidak diperbolehkan melihat rekonstruksi.

Saat reka ulang itu, puluhan keluarga almarhum yang hadir tidak diizinkan melihat secara dekat proses rekonstruksi itu. Mereka dan para warga hanya melihat dari luar pagar lokasi reka ulang.

Kasubbag Humas Polres Kolut, AKP Hasanuddin mengatakan, penjagaan ketat dilakukan demi keamanan dan kelancaran proses rekonstruksi.

(Baca juga : Istri Ketua DPRD Kolaka Utara Bantah Tikam Suaminya karena Cemburu)

 

Soal motif di balik kasus pembunuhan ini, masih tetap sama, yakni berawal dari cekcok antara tersangka dan almarhum yang berujung pada kematian almarhum.

"Kasus pembunuhan ini terjadi secara spontan. Jadi untuk unsur perencanaan, sejauh ini belum ada. Proses hukum selanjutnya tetap berjalan tidak lama lagi kita akan limpahkan ke kejaksaan," tuturnya.

Sementara itu, penasihat hukum tersangka, Nurleli Sihotang menegaskan, pihaknya terus memberikan perlindungan dan pendampingan terhadap AE dalam menjalani proses hukum.

Selain itu, pihaknya berkoordinasi untuk menyiapkan pembelaan terhadap kliennya di pengadilan nanti. 

Kompas TV Sepupu Musakkir meminta hukum berlaku adil terhada pelaku pembunuhan Musakkir.




25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Tukang Becak Iuran untuk Ganti Bendera Merah Putih yang Lusuh, Ini Kisahnya

5 Tukang Becak Iuran untuk Ganti Bendera Merah Putih yang Lusuh, Ini Kisahnya

Regional
Cerita Jayani Rawat Al Quran Tulisan Tangan Berusia Hampir 200 Tahun

Cerita Jayani Rawat Al Quran Tulisan Tangan Berusia Hampir 200 Tahun

Regional
Fakta Oknum Satpol PP Rampas Uang Pengemis, Alasan Penertiban hingga ASN Jadi Korlap

Fakta Oknum Satpol PP Rampas Uang Pengemis, Alasan Penertiban hingga ASN Jadi Korlap

Regional
Agar Program Diketahui Publik, Paslon di Pilkada Mataram Cantumkan Barcode di Spanduk

Agar Program Diketahui Publik, Paslon di Pilkada Mataram Cantumkan Barcode di Spanduk

Regional
Seorang Pemuda Tewas Diduga Gantung Diri, Tulis Pesan di Buku Tabungan

Seorang Pemuda Tewas Diduga Gantung Diri, Tulis Pesan di Buku Tabungan

Regional
2 dari 3 Debat Kandidat Pilkada Makassar Bakal Berlangsung di Jakarta

2 dari 3 Debat Kandidat Pilkada Makassar Bakal Berlangsung di Jakarta

Regional
Kabupaten Banyumas Akan Dimekarkan Jadi 3 Daerah Otonom

Kabupaten Banyumas Akan Dimekarkan Jadi 3 Daerah Otonom

Regional
Stadion Mattoanging Dibangun Ulang, Telan Anggaran hingga Rp 1 Triliun

Stadion Mattoanging Dibangun Ulang, Telan Anggaran hingga Rp 1 Triliun

Regional
Antisipasi Kelangkaan Pangan, IPB Serukan Revolusi Meja Makan

Antisipasi Kelangkaan Pangan, IPB Serukan Revolusi Meja Makan

Regional
'Saya Lihat Narik-narik Senar Layangan, Kemudian Saya Lari Takut Senar Layangannya Lepas'

"Saya Lihat Narik-narik Senar Layangan, Kemudian Saya Lari Takut Senar Layangannya Lepas"

Regional
'Kami Terkena Gas Air Mata, Banyak yang Sesak Napas dan Pingsan'

"Kami Terkena Gas Air Mata, Banyak yang Sesak Napas dan Pingsan"

Regional
Antre Pencairan BPUM Membeludak sejak Subuh, Ternyata Salah Informasi

Antre Pencairan BPUM Membeludak sejak Subuh, Ternyata Salah Informasi

Regional
Kronologi Pria Diduga Depresi Tewas Ditembak, Tetap Menyerang Polisi Usai Diberi Peringatan

Kronologi Pria Diduga Depresi Tewas Ditembak, Tetap Menyerang Polisi Usai Diberi Peringatan

Regional
'Ini Bendera yang Diperjuangkan Para Pahlawan, Pejuang Bangsa, Kok sampai Seperti Ini'

"Ini Bendera yang Diperjuangkan Para Pahlawan, Pejuang Bangsa, Kok sampai Seperti Ini"

Regional
Tiba-tiba Serang Polisi, Seorang Pria yang Diduga Depresi Tewas Ditembak

Tiba-tiba Serang Polisi, Seorang Pria yang Diduga Depresi Tewas Ditembak

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X