Saat Sampah Mengotori Rinjani

Kompas.com - 24/11/2013, 07:20 WIB
Danau Segara Anak dilhat dari puncak Gunung Rinjani di ketinggian 3.726 m. Rinjani merupakan bagian dari Gunung Samalas yang meletus hingga melumpuhkan dunia pada tahun 1257. Superletusan mengakibatkan terbentuknya kaldera dan Danau Segara Anak. KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYATDanau Segara Anak dilhat dari puncak Gunung Rinjani di ketinggian 3.726 m. Rinjani merupakan bagian dari Gunung Samalas yang meletus hingga melumpuhkan dunia pada tahun 1257. Superletusan mengakibatkan terbentuknya kaldera dan Danau Segara Anak.
EditorSandro Gatra

KOMPAS.com - Pada Oktober lalu, Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, ditetapkan pemerintah sebagai Geopark Nasional. Sayangnya, meskipun sudah berstatus Taman Geologi, Rinjani terus dikotori oleh tumpukan sampah yang membuat pemandangan tak hanya tak sedap, tetapi juga merusak lingkungan.

”Saya selalu ditanya oleh para wisatawan, kenapa kawasan Gunung Rinjani ini kotor dan penuh sampah,” kata Amin, pemandu wisata, Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, baru-baru ini, saat ditemui tengah mengawal beberapa bule mendaki gunung setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut (dpl) itu.

Menurut Amin, sebenarnya pihaknya bersama sejumlah warga di sekitar Gunung Rinjani rutin membersihkan Gunung Rinjani dari sebaran dan tumpukan sampah. ”Namun, beginilah kenyataannya. Setelah dibersihkan, sampah menyebar dan bertumpuk lagi,” ujarnya, seraya mengalihkan pembicaraan ke topik lain saat seorang bule ikut nimbrung mempersoalkan sampah.

Bagi Amin, sampah yang mengotori kawasan Gunung Rinjani tidak hanya menjadi persoalan utama bagi keindahan dan kebersihan lingkungan, tetapi juga kenyamanan pendaki yang notabene adalah ”sumber” kehidupannya.

Rudy, turis lokal asal Jakarta yang belum lama mendaki Rinjani, juga menyayangkan Rinjani penuh sampah. ”Pemandangannya asyik, tetapi jangan lupa, ya, Rinjani dibersihkan dari sampah,” katanya.

Sejak Agustus lalu, siapa pun tamu yang akan menikmati keindahan dari pintu masuk sebelah timur (Desa Sembalun) dan barat (Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara), pasti akan menemukan sampah yang menyebar dan adakalanya bertumpuk di tepi jalan setapak atau sudut-sudut Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Sampah itu beragam jenisnya, seperti kantong plastik, kaleng, botol kaca, serta wadah minuman air mineral dan penyegar lainnya. Bahkan, celakanya, termasuk kotoran manusia! ”Dari
kejauhan, sampah yang beragam jenis dan warnanya itu menyerupai pelangi jika diterpa cahaya matahari,” kata Amin.

Sebaran dan tumpukan sampah bisa ditemukan di Pelawangan Senaru, Pelawangan Sembalun, pos 3 pendakian, Danau Segara Anak, dan kaldera Gunung Rinjani yang merupakan tempat-tempat pendaki beristirahat dan menginap sebelum mendaki puncak gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia itu setelah Gunung Kerinci (3.805 meter dpl) di Sumatera Barat.

Kotor dan tak sedapnya Rinjani juga dikomentari Sumatim, anggota staf dari Rinjani Track Management Board (RTMB), lembaga yang pernah mengelola TNGR dan menyediakan keperluan pendakian, seperti jasa pemandu dan tenaga porter. RTMB ada di Desa Senaru dan Desa Sembalun.

”Saat ini, jika ke Rinjani, selain melihat panorama alamnya, pendaki juga bakal disuguhkan pemandangan sampah yang menggunung,” katanya.

Persoalan rumit

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebakaran Hanguskan 158 Rumah di Jayapura, Kerugian Ditaksir Capai Rp 20 Miliar

Kebakaran Hanguskan 158 Rumah di Jayapura, Kerugian Ditaksir Capai Rp 20 Miliar

Regional
Banjir dan Longsor di Cianjur, 5 Rumah Terendam, Akses Jalan Tertutup

Banjir dan Longsor di Cianjur, 5 Rumah Terendam, Akses Jalan Tertutup

Regional
2 Pejabat di UNS Meninggal karena Covid-19, Punya Riwayat ke Ubud Bali, Kampus 'Lockdown'

2 Pejabat di UNS Meninggal karena Covid-19, Punya Riwayat ke Ubud Bali, Kampus "Lockdown"

Regional
Sekolah Gratis di Bantaran Kali Gajahwong Yogya, Kurikulumnya Diteliti Mahasiswa Berbagai Negara

Sekolah Gratis di Bantaran Kali Gajahwong Yogya, Kurikulumnya Diteliti Mahasiswa Berbagai Negara

Regional
Nyanyikan Lagu yang Menyinggung Polisi Saat Demo, Seorang Mahasiswa Ditangkap

Nyanyikan Lagu yang Menyinggung Polisi Saat Demo, Seorang Mahasiswa Ditangkap

Regional
'Tak Salah Apa-apa Kena Gas Air Mata, Aku Tuntut Kalian, Polisi'

"Tak Salah Apa-apa Kena Gas Air Mata, Aku Tuntut Kalian, Polisi"

Regional
[POPULER NUSANTARA] Diyakini Meninggal jika Bersatu, Kembar Trena Treni Terpisah 20 Tahun | Pria Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumah

[POPULER NUSANTARA] Diyakini Meninggal jika Bersatu, Kembar Trena Treni Terpisah 20 Tahun | Pria Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumah

Regional
Perjuangan Hidup WNI Eks Kombatan di Filipina Setelah Keluar dari Penjara

Perjuangan Hidup WNI Eks Kombatan di Filipina Setelah Keluar dari Penjara

Regional
Bawaslu Catat 291 Pertemuan Dilakukan Paslon Pilkada Gunungkidul

Bawaslu Catat 291 Pertemuan Dilakukan Paslon Pilkada Gunungkidul

Regional
Inovatif, Mahasiswa di Semarang Ciptakan Alat Pendeteksi Suhu dan Masker

Inovatif, Mahasiswa di Semarang Ciptakan Alat Pendeteksi Suhu dan Masker

Regional
Kronologi Demo Berujung Ricuh, Gas Air Mata ke Permukiman Membuat Warga Marah

Kronologi Demo Berujung Ricuh, Gas Air Mata ke Permukiman Membuat Warga Marah

Regional
Bukti Tagihan Diedit, Perempuan Ini Gelapkan Uang Perusahaan Rp 101 Juta

Bukti Tagihan Diedit, Perempuan Ini Gelapkan Uang Perusahaan Rp 101 Juta

Regional
Gas Air Mata Masuk Permukiman Picu Kemarahan Warga, Polisi Minta Maaf

Gas Air Mata Masuk Permukiman Picu Kemarahan Warga, Polisi Minta Maaf

Regional
Mabuk dan Buat Keributan, 6 Muda-mudi Diamankan Tidur Seranjang di Indekos

Mabuk dan Buat Keributan, 6 Muda-mudi Diamankan Tidur Seranjang di Indekos

Regional
4 Hari Terakhir Positif Covid-19 di Sulut Bertambah 118 Kasus

4 Hari Terakhir Positif Covid-19 di Sulut Bertambah 118 Kasus

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X