Diduga Aniaya Anak 5 Tahun, Pasutri Diamankan Polisi - Kompas.com

Diduga Aniaya Anak 5 Tahun, Pasutri Diamankan Polisi

Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
Kompas.com - 26/10/2017, 18:29 WIB
Ilustrasi penganiayaan anak-anak.Kompas.com/ERICSSEN Ilustrasi penganiayaan anak-anak.

YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Sepasang suami istri berinisial SS (41) dan DA (34) ditangkap Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda DIY karena melakukan tindak kekerasan terhadap keponakannya FR (5). Akibat kekerasan yang dilakukan oleh pasangan suami istri ini, FR harus menjalani opname di Rumah Sakit Bhayangkara.

Dir Reskrimum Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo mengatakan, awalnya pada Jumat (20/10/2017) korban FR tidak masuk sekolah. Pihak komite Sekolah termasuk guru lantas datang ke rumah korban bertujuan untuk menjenguk.

"Saat berkunjung kerumah, komite sekolah dan guru melihat kondisi kedua mata korban lebam," ujar Dir Reskrimum Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo, Kamis (26/10/2017)

Melihat kondisi korban, komite sekolah dan guru merasa curiga sebab lebam di mata tidak wajar. Komite sekolah lantas berinisiatif melaporkan ke polisi. Mendapat laporan, polisi lalu melakukan pemeriksaan awal.

Baca juga : Empat Polisi Tersangka Kekerasan Wartawan Dibawa ke Polda Jateng

"Kita melakukan pendekatan dengan kasih sayang untuk pemeriksaan awal, karena masih anak-anak. Saat ditanya, korban mengaku kalau luka di mata karena dipipisi kecoa," sebutnya.

Guna memastikan penyebab luka di mata, korban dibawa ke Rumah Sakit Jogja International Hospital (JIH) guna menjalani visum. Dari hasil visum, diketahui jika luka lebam di mata korban disebabkan oleh benda tumpul.

"Hasil visum menyebutkan lebam di mata akibat benda tumpul. Bukti -bukti itu menambah keyakinan kami," tuturnya.

Berdasarkan bukti yang didapat dan gelar perkara, polisi akhirnya menetapkan pasangan suami istri SS (41) dan DA (34) warga Sleman sebagai tersangka serta dilakukan penangkapan. "Kita tangkap dirumahnya. Tersangka sendiri berdasarkan bukti yang ada tidak bisa mengelak lagi," ucapnya.

Akibat kekerasan yang dilakukan oleh SS dan DA  korban FR harus menjalani opname di RS Bhayangkara. Sebab setelah dua hari, luka lebam di mata korban menjadi parah dan bengkak. Selain dibagian mata, beberapa tubuh korban juga terdapat bekas luka, seperti di punggung dan jari kanan.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sari Murti Widyastuti menambahkan, tersangka SS dan DA bukan orangtua kandung dari korban FR.  "Jadi statusnya korban ini keponakan SS dan DA. Hanya dari informasi yang kita dapat, memang sudah tiga tahun ini korban di asuh oleh keduanya," ucapnya.

Menurut dia, korban masih memiliki orangtua dan sampai saat ini pihaknya masih mendalami alasan FR diasuh oleh SS dan DA.

"Korban FR ini masih memiliki orangtua dan belum kita ketahui latarbelakang sampai bisa diasuh oleh FR dan SS. Kita tunggu hasil penyidikan, apakah kedudukan sebagai orangtua asuh itu legal atau tidak, kalau tidak tentu ada persoalan hukum yang lain," ucapnya.

Kompas TV Di Surabaya, Jawa Timur, seorang siswi kelas IV Sekolah Dasar diduga menjadi korban pemukulan guru olahraganya. Orangtua siswi korban dugaan penganiayaan guru olahraga langsung melaporkan tindakan kekerasan ini kepada kepala sekolah. Diduga korban yang tidak fokus mengikuti pelajaran akibat kelelahan, kemudian ditegur dan langsung dipukul menggunakan gagang kayu di bagian kepala hingga terluka. Saat ini, korban masih didampingi tim psikolog untuk pemulihan. Sementara kasus ini ditangani anggota Satreskrim dan Inafis Polrestabes Surabaya untuk dilakukan penyelidikan serta identifikasi awal.

PenulisKontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
EditorErlangga Djumena
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM