Seluruh Peserta Upacara HUT RI Ini Menutup Mata untuk Ungkapkan Protes - Kompas.com

Seluruh Peserta Upacara HUT RI Ini Menutup Mata untuk Ungkapkan Protes

Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Kompas.com - 17/08/2017, 13:29 WIB
Peserta upacara bendera di Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (17/8/2017), menutup mata dengan kain sebagai protes sejarah.KOMPAS.com/M.Agus Fauzul Hakim Peserta upacara bendera di Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (17/8/2017), menutup mata dengan kain sebagai protes sejarah.


KEDIRI, KOMPAS.com -
Hampir seluruh peserta mengenakan penutup mata saat upacara memeringati hari kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu (17/8/2017), di Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Peserta upacara yang merupakan pelajar dan masyarakat umum, maupun petugas upacara mengenakan penutup mata.

Rangkaian upacara itu dilakukan secara lengkap sebagaimana upacara bendera pada umumnya. Ada pembacaan naskah Undang-Undang Dasar 1945, pembacaan teks Pancasila, pengibaran bendera Merah Putih, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Penutup mata dari kain itu baru dilepas saat upacara memasuki agenda pembacaan amanat pimpinan upacara oleh Kushartono.

Petugas upacara bendera di Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (17/8/2017), menutup mata dengan kain sebagai protes sejarah.KOMPAS.com/M.Agus Fauzul Hakim Petugas upacara bendera di Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (17/8/2017), menutup mata dengan kain sebagai protes sejarah.

Ndalem Pojok merupakan sebuah kompleks di mana terdapat sebuah rumah yang diyakini mantan Presiden Soekarno pernah menetap pada masa kecilnya.

Penggantian nama dari Kusno ke Soekarno juga diyakini berlangsung di rumah milik RM Soemosewojo, ayah angkat Bung Karno, itu.

Kushartono yang juga selaku pengelola Ndalem Pojok menyebut, upacara itu dilakukan dengan menutup mata sebagai bentuk protes adanya pembelokan sejarah. Yaitu tentang penggunaan frasa Kemerdekaan Republik Indonesia yang kerap digunakan saat ini.

"Seharusnya yang benar adalah Kemerdekaan Bangsa Indonesia," ujarnya, saat ditemui seusai upacara.

Dua frasa itu menurut dia, mempunyai perbedaan makna karena ada peristiwa penting yang melatarinya. Yaitu peristiwa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka pada 17 Agustus 1945 dan peristiwa berdirinya Indonesia sebagai negara Republik pada 18 Agustus 1945.

Baca juga: Kami Bersumpah Akan Jernih Melihat Dunia dan Menghargai Perbedaan

Kushartono mendasari pemikirannya itu dari beberapa dokumen sejarah, salah satunya adalah naskah teks Proklamasi.

"Dalam teks proklamasi disebut dengan jelas 'Kami Bangsa Indonesia' bukan 'Kami Republik Indonesia'. Lalu 'Dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia' bukan 'Dengan ini menyatakan kemerdekaan Republik Indonesia'" kata pria yang juga penulis buku tersebut.

"'Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain lain diselenggarakan dalam cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya'. Ini maksudnya mendirikan negara yang berarti besok (setelah pembacaan Proklamasi). Kemudian 'atas nama Bangsa Indonesia', bukan atas nama Republik Indonesia. 'Soekarno/Hatta' disebut langsung, bukan Presiden Indonesia Soekarno/Hatta," ucap Kushartono.

Dia berharap para pemangku kebijakan mengambil sikap untuk meluruskan sejarah.

"Karena sejarah adalah sangat penting bagi kehidupan bernegara dan berbangsa," ucap Kushartono.

Usai upacara, digelar selamatan berupa kenduri dengan sajian nasi tumpeng dan juga dilanjut dengan sarasehan kebangsaan dengan topik soal yang berhubungan dengan frasa "Kemerdekaan Republik Indonesia" itu.

Baca juga: Di Yogyakarta, Warga Upacara di Tengah Sungai Code

Kompas TV Presiden Joko Widodo Pimpin Upacara Renungan Malam

PenulisKontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
EditorIndra Akuntono
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM