"Meuripe", Gerakan Patungan untuk Pengobatan Warga Miskin Aceh - Kompas.com

"Meuripe", Gerakan Patungan untuk Pengobatan Warga Miskin Aceh

Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Kompas.com - 12/08/2017, 18:00 WIB
Musfendi menemani korban luka bakar sekujur tubuhnya di Rumah Sakit PMI Kota Lhokseumawe, Agustus 2017. Kompas.com/Masriadi Musfendi menemani korban luka bakar sekujur tubuhnya di Rumah Sakit PMI Kota Lhokseumawe, Agustus 2017.

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Pria muda ini baru saja meninjau lokasi pembangunan rumah duafa di Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (11/8/2017). Dialah Musfendi. Koordinator Lembaga Peduli Duafa Aceh (LPDA) itu baru berusia 29 tahun.

Namun, sejak tahun 2009 lalu, warga Desa Blang Asan, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara itu mulai mencanangkan gerakan sosial meuripe (patungan) di wilayah itu.

Sepanjang 2009 hingga kini, puluhan warga yang sakit telah dibantu oleh Musfendi. Gerakan meuripe yang digagasnya awalnya tak mendapat respons publik.

Seiring waktu, Musfendi menerapkan transparansi pengelolaan dana sumbangan dari warga. “Sekarang ini sudah banyak donatur tetap. Saya bersyukur banyak yang bergabung dan menyisihkan uangnya. Kami patok tidak usah banyak, Rp 5.000 saja per bulan per orang itu sudah sangat membantu masyarakat kita,” terang pria lajang ini.

Baca juga: Polisi Usut Pemotongan Gaji ke-13 Guru di Aceh Utara

Ide awal membangun gerakan sosial ini berasal dari pengalaman pribadi Musfendi. Dia bercerita, ketika kecil ayahnya meninggal dunia saat dia berusia dua tahun, enam tahun berikutnya ibunya menyusul sang ayah.

Setelah itu, dia dibesarkan oleh sang nenek dengan segala keterbatasannya. “Ibu saya pernah sakit parah, tapi tak ada uang, di situ keluarga bingung bagaimana caranya berobat. Bahkan, empat bulan ibu terbaring di rumah tanpa ada uang untuk dibawa ke rumah sakit,” kenangnya melambung ke peristiwa masa lampau.

Saat sekolah, Musfendi bahkan nyaris putus sekolah karena tak ada biaya. Bukan itu saja penderitaannya semakin lengkap karena neneknya tak mampu membelikan seragam sekolah.

“Ini yang mendasari saya membuat gerakan sosial ini,” terangnya. Dia juga mengajak anak muda lainnya menjadi relawan. Praktis tak ada gaji untuk para relawan itu.

Semangat meuripe yang dibangun ditanamkan dalam jiwa para relawan. “Bahwa membantu sesama itu menyenangkan,” terangnya.

Berbagai cara penggalangan dana dilakukan, melalui media sosial hingga mengajak para dermawan menyumbangkan uangnya untuk membantu orang lain.

“Misalnya, kita foto seorang anak penderita kanker, lalu kita kirimkan pada para dermawan ini. Jadi, uang yang diberikan khusus disalurkan untuk pasien ini, tidak untuk yang lain,” sebutnya. 

Sepanjang tahun ini, Musfendi telah membawa 50 pasien dari berbagai penyakit ke rumah sakit. “Mulai dari penyakit kulit ekstrem, kanker, dan lainnya. Kami membantu biaya pendampingan untuk keluarga yang menjaga, termasuk biaya obatnya. Pasiennya beragam dari berbagai kabupaten/kota di Aceh,” sebutnya.

Pria berambut ikal yang kerap mengenakan peci ini juga mengumpulkan dana untuk membangun empat rumah kaum duafa di Aceh Utara. “Donatur kami juga dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan ada tenaga kerja Indonesia di Hongkong yang menjadi donatur tetap. Kami juga kerap menggalang dana lewat platform Kitabisa.com,” sebutnya.

Musfendi juga memberikan beasiswa bagi anak yatim dan piatu. Setiap tahun ajaran baru dia berbelanja ke pasar, membelikan kebutuhan seragam sekolah, sepatu hingga buku tulis untuk dibagikan pada puluhan anak yatim piatu di kabupaten itu.

“Saya berharap, gerakan meuripe ini bisa terus didukung publik. Pertanggungjawaban keuangan saya publish lewat website lpd-aceh.org,” pungkasnya.

PenulisKontributor Lhokseumawe, Masriadi
EditorAmir Sodikin
Komentar