Harga Tinggi, Petani Garam di Aceh Utara Stop Produksi - Kompas.com

Harga Tinggi, Petani Garam di Aceh Utara Stop Produksi

Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Kompas.com - 03/08/2017, 15:22 WIB
Seorang petani garam membuat tabung penampung air garam di Desa Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Selasa (2/8/2017)Kompas.com/Masriadi Seorang petani garam membuat tabung penampung air garam di Desa Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Selasa (2/8/2017)

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com - Mayoritas petani garam di Kabupaten Aceh Utara berhenti memproduksi garam sejak sepekan terakhir. Pasalnya, ketersediaan cadangan air garam yang ditampung telah habis.

Selain itu, bahan baku senyawa kimia yang dikenal oleh petani lokal dengan sebutan bibit garam juga melambung tinggi.

Salah seorang petani garam di Desa Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, Jauhari menyebutkan saat ini harga jual garam tradisional juga melambung.

“Saat ini memang harga jual mahal. Kami bisa jual satu kaleng itu seharga Rp 100.000 atau Rp 10.000 per kilogram,” ujar Jauhari.

(Baca juga: "Bingung, Garam Kok Bisa Langka...")

Namun, harga itu tak berdampak untuk kemakmuran petani garam. Pasalnya, stok bahan baku air juga sudah habis.

“Makanya tidak produksi. Stok kita habis di sumur penyimpanan. Apalagi cuaca juga sering hujan,” katanya.

Sementara itu, lanjut Jauhari, berharap dari bibit garam juga tak mungkin.

“Sekarang per harganya mahal sampai Rp 300.000 per karung ukuran 50 kilogram,” katanya.

Seorang pedagang bibit garam, Hamdani AW, di Kecamatan Lapang, Aceh Utara, membenarkan kenaikan harga bibit garam asal India itu.

“Sekarang mahal betul. Pasti tak untung petani kalau menggunakan bibit garam lalu diekstrak menjadi garam. Dulu harganya Rp 70.000 per 50 kilogram, lalu naik Rp 100.000 per 50 kilogram. Sekarang malah Rp 300.000 per kilogram,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Hamdani, tak ada petani yang memilih bibit garam sebagai bahan baku.

“Karena pasti tidak untung. Mending petani milih menabung air garam dengan mekanisme tradisional. Masalahnya sekarang kan musim hujan, tak bisa juga menambung air laut itu menjadi garam,” ucapnya.

Di Kecamatan Lapang, Aceh Utara, terdapat dua desa penghasil garam, yaitu Desa Kuala Cangkoi dan Desa Matang Tunong. Ada sekitar 81 petani garam di dua desa tersebut.

 

Kompas TV Langka dan mahalnya garam membuat produsen ikan asin di Kota Tegal, Jawa Tengah terancam bangkrut.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKontributor Lhokseumawe, Masriadi
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM