Nikmatnya Roti Canai di Perbatasan, Silakan Bayar Pakai Rupiah atau Ringgit - Kompas.com

Nikmatnya Roti Canai di Perbatasan, Silakan Bayar Pakai Rupiah atau Ringgit

Kontributor Nunukan, Sukoco
Kompas.com - 20/03/2017, 08:00 WIB
Kontributor Nunukan, Sukoco Roti Canay Muhajirin di pasar perbatasan Pancang Sebatik. Roti yang biasanya disantap warga perbatasna untuk sarapan tersebut dijual 1 porsi 5 ribu rupiah atau 2 ringgit.Letak pasar yang berada di wilayah perbatasn membuat penggunaan mata uang dua negara tak bisa terelakan.

NUNUKAN, KOMPAS.com - Selepas subuh, tangan Muhajirin tak berhenti memipihkan adonan kemudian menuangnya di wajan pipih berbentuk lingkaran tanpa minyak.

Setelah dibalik, adonan yang masih panas tersebut kemudian dipindahkan di meja yang berlapis plastik dan di tepuk dengan keras agar bisa menimbulkan lapisan yang terpisah di bagian dalam.

Muhajirin mengaku tangannya sudah kebal terhadap panas roti yang harus ditepuknya.

"Jualan dari subuh biasanya sampai jam 10.00," ujarnya, Minggu (19/3/2017).

Selama 7 tahun terakhir, Muhajirin dibantu istrinya berjualan di pasar perbatasan Pancang di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Pada hari Minggu, seporsi makanan yang berisi dua buah roti canai dan kuah kari dijual dengan harga Rp 5.000 atau 2 ringgit.

"Kalau hari Minggu bisa menghabiskan 20 kilogram (adonan)," imbuhnya.

Anik, seorang warga Sebatik, mengaku sering membeli roti canai karena seluruh keluarganya menyukai rasa gurih dari roti canai buatan Muhajirin. Dia mengaku, membeli roti canai untuk sarapan pagi.

"Dari anak saya sampai neneknya suka karena rasanya gurih dan murah," ujarnya.

Pasar perbatasan Pancang merupakan satu dari beberapa pasar di wilayah perbatasan tempat interaksi penjual dan pembeli dari warga yang tinggal di perbatasan dua negara. Letaknya yang berada di wilayah perbatasan membuat penggunaan mata uang kedua negara tak bisa dihindari.

"Kami terima dua mata uang di sini. Nanti beli bahan untuk buat roti juga pakai ringgit," ucap Muhajiri.

Kontributor Nunukan, Sukoco Rusmini, salah satu pedagang di pasar perbatasan Pancang Sebatik Kabupaten Nunukan. Penggunaan 2 mata uang di pasar perbatasan Pancang dipengaruhi oleh kedekatan wilayah serta nilai tukar kedua mata uang.
Ringgit lebih menarik

Selain menggunakan dua mata uang, ratusan pedagang di pasar perbatasan Pancang Sebatik juga kerap saling berteriak menawarkan dagangannya dengan menyebut harga dengan menggunakan rupiah dan ringgit.

Sebagian pedagang bahkan mengaku lebih mudah menawarkan dagangan mereka dengan nilai ringgit.

H Tami, salah satu pedagang ikan, mengaku, ketika dia menjual barang dagangannya dengan mata uang ringgit, banyak pembeli yang langsung datang dan tidak menawar. Berbeda jika dia menawarkan dagangan dengan nilai rupiah.

"Kalau teriak 7 ringgit orang bayar uang pas, kalau teriak Rp 20.000, orang pasti nawar," ujarnya.

Menawarkan dagangan dengan nilai rupiah atau ringgit, menurut sebagian pedagang, tergantung dari kurs tukaran ringgit ke rupiah.

Jika nilai rupiah menguat terhadap ringgit, pedagang biasanya lebih suka menawarkan dagangan mereka dengan berteriak menggunakan nilai rupiah.

Dalam tiga bulan terakhir, menurut Rusmini, nilai rupiah terus menguat terhadap nilai tukar ringgit. Hal ini membuat pedagang sayur tersebut lebih suka menawarkan dagangannya dengan menggunakan mata uang rupiah.

Nilai tukar uang rupiah terhadap ringgit dalam 3 bulan terakhir terus menguat hingga Rp 3.000 per 1 ringgit dari sebelumnya mencapai Rp 3.400 - Rp 3.600.

"Tetapi kalau sayur seikat lebih mudah teriak Rp 5.000 daripada 1 ringgit 50 sen," ujarnya.

(Baca selengkapnya: Saat Barang dengan Harga Ringgit Lebih Menarik Pembeli di Pasar Perbatasan)

PenulisKontributor Nunukan, Sukoco
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM