Minggu, 26 Maret 2017

Regional

Saat Barang dengan Harga Ringgit Lebih Menarik Pembeli di Pasar Perbatasan

Minggu, 19 Maret 2017 | 17:45 WIB
Kontributor Nunukan, Sukoco Rusmini, salah satu pedagang di pasar perbatasan Pancang Sebatik Kabupaten Nunukan. Penggunaan 2 mata uang di pasar perbatasan Pancang dipengaruhi oleh kedekatan wilayah serta nilai tukar kedua mata uang.

NUNUKAN, KOMPAS.com - Penggunaan mata uang rupiah dan ringgit sekaligus untuk transaksi sudah jadi hal biasa di pasar perbatasan Pancang Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Kedekatan wilayah membuat penjual dan pembeli di pasar perbatasan bukan hanya dari warga Indonesia saja, tetapi sebagian juga merupakan warga Malaysia.

"Ada juga biasanya pembeli dari warga Malaysia yang tinggal dekat dari sini," ujar Amin, seorang pedagang tas, Minggu (19/3/2017).

Pedagang Pasar Perbatasan Pancang Sebatik kebanyakan merupakan pendatang dari Pulau Sulawesi.

Mereka menjajakan hampir semua kebutuhan pokok yang dibutuhkan warga perbatasan dari ubi, ikan, sayuran, gula, tepung, makanan serta gadget seperti charger HP, senter dan kebutuhan pakaian semua dijajakan di pasar perbatasan.

Asri, seorang penjual ubi, mengatakan, dia mendatangkan ubi rambatnya dari Sulawesi dengan menumpang kapal laut.

Untuk membeli ubi dari Sulawesi, dia menggunakan uang rupiah, sementara untuk menjual di pasar perbatasan, dia menggunakan mata uang ringgit. Menurut dia, ubi rambat yang dijual 7 ringgit lebih menguntungkan daripada dijual dalam rupiah.

"Satu kilo kami jual di sini 7 ringgit, itu setara dengan Rp 20.000," ujarnya.

Selain itu, sebagian pedagang juga mendatangkan kebutuhan seperti ikan, sayuran juga kebutuhan pokok, seperti gula, minyak dan tepung terigu dari Tawau Malaysia.

Kota Tawau merupakan salah satu kota besar di Negara Bagian Sabah yang paling dekat dengan Kecamatan Sebatik. Hanya dibutuhkan 15 menit dari Sebatik untuk menuju Tawau Malaysia dengan menggunakan speedboat.

Untuk mendatangkan kebutuhan dari Tawau tersebut, otomatis para pedagang menggunakan uang ringgit.

"Ngambilnya kalau sayur atau minyak, gula sama ikan biasanya ke Tawau lebih murah, " ujar Sinar, pedagang sembako.

Pakai ringgit, tak banyak yang menawar

Selain menggunakan dua mata uang, ratusan pedagang di pasar perbatasan Pancang Sebatik juga saling berteriak menawarkan dagangannya dengan menyebut harga dalam rupiah dan ringgit.

Sebagian pedagang mengaku lebih mudah menawarkan dagangan mereka dengan nilai ringgit.

H Tami, salah satu pedagang ikan, mengaku, ketika dia menjual barang dagangannya dengan mata uang ringgit, banyak pembeli yang langsung datang dan tidak menawar. Berbeda jika dia menawarkan dagangan dengan nilai rupiah.

"Kalau teriak 7 ringgit orang bayar uang pas, kalau teriak Rp 20.000, orang pasti nawar," ujarnya.

Menawarkan dagangan dengan nilai rupiah atau ringgit, menurut sebagian pedagang, tergantung dari kurs tukaran ringgit ke rupiah.

Jika nilai rupiah menguat terhadap ringgit, pedagang biasanya lebih suka menawarkan dagangan mereka dengan berteriak menggunakan nilai rupiah.

Dalam tiga bulan terakhir, menurut Rusmini, nilai rupiah terus menguat terhadap nilai tukar ringgit. Hal ini membuat pedagang sayur tersebut lebih suka menawarkan dagangannya dengan menggunakan mata uang rupiah.

Nilai tukar uang rupiah terhadap ringgit dalam 3 bulan terakhir terus menguat hingga Rp 3.000 per 1 ringgit dari sebelumnya mencapai Rp 3.400 - Rp 3.600.

"Tetapi kalau sayur seikat lebih mudah teriak Rp 5.000 daripada 1 ringgit 50 sen," ujarnya.

Penulis: Kontributor Nunukan, Sukoco
Editor : Caroline Damanik
TAG: