Kaki yang Terlipat - Kompas.com

Kaki yang Terlipat

Aji Chen Bromokusumo
Kompas.com - 30/09/2016, 20:47 WIB
unknown Golden Lilies, seorang wanita cantik legendaris di masa Dinasti Qing

Adakah sebagian dari pembaca yang masih ‘menangi’ (masih sempat bertemu atau berinteraksi) dengan para nenek, emak, mak-co/nenek buyut yang memiliki penampilan seperti gadis di foto kuno ini.

Perhatikan kakinya! Lihat betapa kecil dan mungilnya sepasang kaki yang nampak dalam foto itu dibanding ukuran tubuhnya. Terlebih bentuk yang runcing dan aneh tersebut.

Pernahkah anda melihat kaki yang demikian? Pernahkah anda mendapati kaki emak atau mak-co (nenek buyut) anda mempunyai kaki yang demikian semasa hidupnya?

Norma kecantikan

unknown Bentuk kaki perempuan Tiongkok jaman dahulu
Beginilah bentuk kaki tersebut sebenarnya. Ini bukan tipuan, hoax atau rekayasa foto, tapi ini benar-benar asli, walaupun bukan saya yang memotretnya. Kelihatan aneh? Jari-jari kaki terkecuali jempol kaki terlipat ke arah telapak kaki, dan di tumit terdapat garis lekukan yang menyambung ke arah kaki.

Itulah bentuk dan ‘norma’ kecantikan wanita di masa Dinasti Qing!

Anda tidak salah membaca. Itulah standar wanita cantik di masa Dinasti Qing yang dimulai tahun 1644 dengan runtuhnya Dinasti Ming.

Dinasti Qing yang didirikan oleh orang-orang Manchu dari klan Aisin Gioro,  adalah dinasti penutup Negeri China, dinasti terakhir dan sekaligus dinasti yang paling berpengaruh dalam meletakkan dasar China Modern saat ini.

Sebenarnya Dinasti Qing awalnya bernama Later Jin Dynasty, atau dalam bahasa Manchu sendiri adalah Amaga Aisin Gurun di tahun 1616. Di tahun 1636 kemudian berganti nama menjadi Qing yang berarti suci bersih.

Pelipatan kaki ini sebenarnya sudah jauh dimulai sebelum Dinasti Qing, yakni di abad 11. Dimulai dari kalangan The Have yang menunjukkan derajat dan tingkatannya yang lain dibandingkan dengan golongan bawah atau peasant.

Perkembangan kebiasaan ini tidak terlalu pesat, sampai dengan tahun 1644, di mana Dinasti Ming ambruk dan digantikan dengan Dinasti Qing, yang sekaligus merupakan dinasti terakhir China (filmnya Bertolucci, The Last Emperor).

Berkuasanya Dinasti Qing yang dikuasai oleh suku minoritas Manchu membawa reformasi besar-besaran di China. Sampai sekarang masih banyak warisan dari Dinasti Qing yang masih dipakai, termasuk banyak sekali pencapaian-pencapaian dalam penyatuan China.

Provinsi Xinjiang dengan suku Hui yang mayoritas muslim ditaklukkan dan diakuisisi di jaman Dinasti Qing (Film “Shu Jian En Chou Lu”/Pedang dan Kitab Suci) oleh Kaisar Kang Xi.

Akar kata “Hui Jiao” (Islam dalam bahasa Mandarin) diyakini berasal dari sini, karena suku Hui, dan jiao (baca ciau) yang berarti “ajaran”, secara bebas diterjemahkan sebagai “ajaran suku Hui”.

Ciri khas Dinasti Qing yang tidak bisa hilang dari ingatan semua orang adalah: kuncir kepala untuk cowok, dan kaki terlipat untuk cewek.

Anda yang pernah nonton Huang Fei Hong dibintangi oleh Jet Lee, akan bisa membayangkan seperti apa kuncir itu. Konon menurut undang-undang waktu itu, semua cowok diwajibkan mencukur rambut bagian depan, dan memanjangkan bagian belakang.

Ini dilakukan untuk menghormati atribut suku Manchu dan sekaligus menghormati kuda, hewan yang sangat dipuja oleh suku Manchu, karena mereka bangsa nomaden. Kuncir tersebut merupakan lambang kejantanan dan kegagahan seorang pria pada masa itu.

Sementara kaki terlipat merupakan simbol status sosial, kecantikan, keanggunan dan derajat seorang wanita. Makin kecil kaki, makin cantik.

Pada masa itu seorang wanita dengan kaki “utuh” dianggap barbar, biadab dan rendahan, seperti wanita kelas pekerja, buruh, pelayan, dayang di istana, petani.

Bisa dibayangkan dengan kondisi kaki seperti itu, yang bisa dilakukan hanya duduk-duduk sepanjang hari, karena untuk jalan pun susah dan sangat menyakitkan.

Dibentuk sejak kecil

Lazimnya, seorang anak perempuan, saat berumur 3 atau 4 tahun akan “dikerjain” oleh orang tuanya. Jari-jari kaki, kecuali jempol kaki akan dilipat ke dalam dan arah telapak kaki dan diikat dengan kain kuat-kuat dengan beberapa kali bebatan.

Memang, secara kasar dan kejam, 8 jari kaki dipatahkan. Semua ini dikerjakan tanpa bius atau anestesi. Si anak biasanya meraung-raung sangat kesakitan, dan menderita selama berminggu-minggu sampai kaki yang hancur itu sembuh sendiri, tentunya dengan konstruksi tulang kaki yang sudah berubah dan rusak total.

Biasanya si anak dirawat oleh perawat (embok emban) khusus yang merendam kaki-kakinya ke dalam rendaman obat tradisional. Selama proses penyembuhan, si anak hanya bisa digendong dan ditandu ke mana pun dia pergi.

Setelah beberapa tahun, penderitaan tahap dua dimulai, kaki-kaki tersebut akan dilipat tapi kali ini untuk“mempertemukan” bagian tumit dengan bagian depan, sehingga jarak antara jempol kaki dengan tumit dibuat sekecil mungkin. Ukuran “ideal” kaki wanita pada masa itu adalah 3 inci.

Pembalutan dan pembebatan untuk menahan kaki tersebut dimulai lagi. Setelah 2 tahap itu, si anak wanita akan mencapai masa pubertas dan dianggap sempurna serta diharapkan cepat dapat jodoh.

Willow yang melambai

Sepanjang hidupnya, wanita yang dilipat kakinya ini akan menderita dan kesakitan. Untuk menjaga supaya sepasang kaki tersebut cukup kuat untuk aktivitas sehari-hari, biasanya dibebat dengan kain.

Padai malam hari, saat bebatan kain dibuka dan sepasang kaki direndam dalam air hangat, menjadi saat terbebasnya mereka dari siksaan untuk sementara, walau besoknya memulai saat-saat sakit itu lagi.

Makin kecil kaki makin indah menurut ukuran masa itu. Ungkapan yang digambarkan ketika itu adalah Dahan Willow yang Melambai, untuk menggambarkan cara berjalan para wanita itu seperti dahan pohon willow yang ditiup angin melambai. Demikianlah ukuran cantik dan sexy di masa itu.

Konon sampai sekarang, masih ada masyarakat di pedalaman China yang masih memraktekkan pelipatan kaki seperti itu, yang merupakan peninggalan keyakinan dari jaman Dinasti Qing.

unknown Wanita-wanita dari kelas atas berkaki mungil karena dilipat dan cara berpakaian mereka
Di Indonesia, mungkin sekarang ini masih ada beberapa wanita usia lanjut yang masih memiliki bentuk kaki yang demikian. Masa saya kecil, masih banyak teman-teman angkatan saya yang mempunyai nenek dengan kaki yang terlipat.

Di Semarang, masyarakat kebanyakan menyebutnya dengan ‘emak kathok’ (emak celana), yaitu nenek-nenek yang berpakaian seperti dalam foto pertama di atas. Kelompok nenek-nenek ini mengenakan celana panjang komprang dengan baju atas lengan panjang.

Kelompok ini disebut juga dengan Tionghoa Totok, masih asli dari China, dan merupakan pendatang yang langsung dari China masuk ke Indonesia.

Sementara ada kelompok satu lagi yang biasa disebut ‘emak jarik’ (atau emak berkebaya). Yaitu kelompok nenek-nenek dengan kaki yang tidak terlipat, kebanyakan sudah lahir dan besar di Indonesia. Sebagian bahkan kawin campur dengan penduduk setempat, dan sudah merupakan beberapa generasi keluar dari China.

Kelompok ini sering disebut dengan Tionghoa Peranakan atau Tionghoa Babah. Pakaian yang dikenakan pun merupakan lintas budaya asimilasi antara budaya China dengan budaya setempat, dengan variasi baju kurung dan motif kebaya yang bercorak oriental. Di beberapa daerah di Indonesia, kelompok nenek-nenek ini disebut juga dengan ‘encim’.

Yang saya tahu, masih ada ribuan wanita Tioghoa berusia lanjut mengenakan gaya berbusana seperti itu di Jawa Tengah. Kebanyakan adalah di kota-kota pantai utara Jawa, dari Cirebon, Tegal, Pekalongan, Brebes, Semarang, Jepara, Welahan, Lasem, Kudus, sampai ke Surabaya.

Demikian sekelumit tulisan tentang standar kecantikan di masa Dinasti Qing dan sepenggal tentang budaya Tionghoa Peranakan di Indonesia.

EditorWisnubrata
Komentar

Close Ads X