Gulma Tutup Sungai Mahakam di 3 Desa, Ini Penjelasan DLH Kukar

Kompas.com - 24/11/2020, 16:02 WIB
Tumpukan gulma yang memenuhi perairan sungai mahakam di sekitar Desa Jantur, Kecamatan Muara Muntai, Kukar, Minggu (22/11/2020). Istimewa. Tumpukan gulma yang memenuhi perairan sungai mahakam di sekitar Desa Jantur, Kecamatan Muara Muntai, Kukar, Minggu (22/11/2020).

SAMARINDA, KOMPAS.com – Kawasan Sungai Mahakam di sekitar Desa Jantur, Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, dipenuhi tanaman gulma.

Penumpukan gulma tersebut membuat akses masyarakat dan nelayan di tiga desa terhambat.

Ketiganya, Desa Jantur, Desa Jantur Baru, dan Desa Jantur Selatan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Kertanegara, Alfian Noor menjelaskan tumpukan gulma tersebut bukan fenomena baru.

Baca juga: Perbedaan Pesut Sungai Mahakam dan Pesut Teluk Balikpapan, Keduanya Terancam Punah

Hal itu terjadi ketika air pasang membuat tanaman gulma yang berada di danau-danau bergerak menuju kawasan perairan Sungai Mahakam.

“Biasa terjadi saat hujan deras dan air naik. Tanaman itu keluar dari danau, karena terbuka akses sehingga terjadi penumpukan di titik tertentu di Sungai Mahakam. Jadi bukan fenomena alam tertentu atau hal baru,” ungkap dia saat dihubungi Kompas.com, Selasa (24/11/2020).

Alfian mengakui tumpukan tersebut mengganggu akses sungai bagi nelayan maupun masyarakat yang melintas di daerah tersebut.

“Saat ini ada BPBD (Badan Penanggulan Bencana Daerah) dan Dishub (Dinas Perhubungan) Kukar sedang membersihkan itu,” terangnya.

Fenomena air bangar

Alfian juga menerangkan ada fenomena lain, ketika sebagian jenis gulma tertahan dan membusuk pada saat bersamaan.

Proses pembusukan tersebut, akan mengubah kualitas air. Sebab ada zat-zat kimia dari tanaman tersebut.

Baca juga: Cerita Mamalia Langka Penghuni Sungai Mahakam yang Terancam Punah karena Industri

Pada musim hujan ketika air pasang di danau dan rawa terdorong keluar ke aliran Sungai Mahakam.

Air tersebut berwarna hitam kemerahan dan berbau, hingga membuat ikan-ikan mati.

“Fenomena ini kami biasa bilang air bangar,” katanya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mayat Perempuan Setengah Telanjang Ditemukan di Tengah Sawah di Karawang

Mayat Perempuan Setengah Telanjang Ditemukan di Tengah Sawah di Karawang

Regional
Tega Bunuh Ibu gara-gara Uang Rp 300.000, Pria Ini Divonis Penjara Seumur Hidup

Tega Bunuh Ibu gara-gara Uang Rp 300.000, Pria Ini Divonis Penjara Seumur Hidup

Regional
Tak Ada Sengketa Pilkada, KPU Bantul dan Gunungkidul Tetapkan Paslon Terpilih Besok

Tak Ada Sengketa Pilkada, KPU Bantul dan Gunungkidul Tetapkan Paslon Terpilih Besok

Regional
Patroli di Selat Malaka, Bea Cukai Amankan 17.000 Botol Miras dan 500.000 Batang Rokok Ilegal

Patroli di Selat Malaka, Bea Cukai Amankan 17.000 Botol Miras dan 500.000 Batang Rokok Ilegal

Regional
SMS Terkendala, Pendaftaran Vaksinasi di RSUP M Djamil Padang secara Manual

SMS Terkendala, Pendaftaran Vaksinasi di RSUP M Djamil Padang secara Manual

Regional
48 Pengungsi Gempa Majene Dipulangkan ke Asalnya di Jawa Timur

48 Pengungsi Gempa Majene Dipulangkan ke Asalnya di Jawa Timur

Regional
Paslon Ngebas Ditetapkan sebagai Pemenang Pilkada Kabupaten Semarang

Paslon Ngebas Ditetapkan sebagai Pemenang Pilkada Kabupaten Semarang

Regional
Selain Haji Permata, Anak Buahnya Juga Tewas Tertembak Petugas Bea Cukai

Selain Haji Permata, Anak Buahnya Juga Tewas Tertembak Petugas Bea Cukai

Regional
Wacana Polantas Tak Perlu Menilang, Warga: Kalau Jadi Diterapkan Pasti Kita Lebih Percaya Polisi

Wacana Polantas Tak Perlu Menilang, Warga: Kalau Jadi Diterapkan Pasti Kita Lebih Percaya Polisi

Regional
67,5 Persen Tempat Tidur Isolasi Covid-19 di Lampung Sudah Terisi

67,5 Persen Tempat Tidur Isolasi Covid-19 di Lampung Sudah Terisi

Regional
Registrasi Vaksinasi Sulit, Nakes di Palembang Baru 9,19 Persen Disuntik Vaksin

Registrasi Vaksinasi Sulit, Nakes di Palembang Baru 9,19 Persen Disuntik Vaksin

Regional
115 Nakes Kulon Progo Positif Covid-19, Mayoritas Tak Tertular di Fasilitas Kesehatan

115 Nakes Kulon Progo Positif Covid-19, Mayoritas Tak Tertular di Fasilitas Kesehatan

Regional
Pria Asal Sumbar Cetak Uang Palsu, Dibelikan HP hingga Sepeda Motor

Pria Asal Sumbar Cetak Uang Palsu, Dibelikan HP hingga Sepeda Motor

Regional
Tak Punya Hasil Rapid Test Antigen, Sejumlah Kendaraan Putar Balik di Perbatasan Banyumas

Tak Punya Hasil Rapid Test Antigen, Sejumlah Kendaraan Putar Balik di Perbatasan Banyumas

Regional
Bupati Sleman Positif Covid-19, Dinkes Sebut Bukan gara-gara Vaksin

Bupati Sleman Positif Covid-19, Dinkes Sebut Bukan gara-gara Vaksin

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X