Debat Pilgub Jambi, Walhi Sebut Semua Cagub Beri Karpet Merah untuk Investor Tambang

Kompas.com - 27/10/2020, 06:07 WIB
Tampak tiga calon gubernur Jambi sedang mengikuti debat kandidat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jambi, Minggu malam, (24/10/2020) KOMPAS.com/SuwandiTampak tiga calon gubernur Jambi sedang mengikuti debat kandidat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jambi, Minggu malam, (24/10/2020)

JAMBI, KOMPAS.com - Walhi Jambi mencatat semua kandidat gubernur Jambi memberi karpet merah untuk investor tambang.

Solusi yang ditawarkan cagub Cek Endra dan Al Haris dalam debat kandidat, Minggu malam (24/10/2020) belum menyentuh persoalan ekonomi rakyat yang berkelanjutan.

"Fokusnya itu menyelesaikan persoalan perusahaan batu bara, bukan mencari solusi untuk energi baru terbarukan," kata Direktur Walhi Jambi Rudiansyah di kantornya, Senin (26/10/2020).

Seharusnya, cagub memperkuat Perda Energi Baru Terbarukan (EBT) Jambi untuk mendukung pengurangan gas rumah kaca dan perubahan iklim.

Baca juga: Anggota Polisi di Jambi Ditangkap karena Kasus Narkotika

Semangat meninggalkan energi kotor atau fosil sudah tertuang dalam rencana kerja Presiden Jokowi, bahkan global mendorong EBT.

Pertambangan batu bara telah merusak lingkungan. Secara ekonomi juga tidak dapat dirasakan masyarakat secara langsung.

Menurut catatan kita, perusahaan batu bara baru 20 persen mereklamasi lubang-lubang raksasa. Itu pun hanya ditutup dengan tanah, tidak melakukan revegetasi.

Solusi yang ditawarkan kandidat adalah dengan membuat jalan khusus batu bara, memberi sinyal keberpihakan kepada pemilik modal.

Rencana jalan khusus batu bara sudah muncul saat Gubernur Hasan Basri Agus (HBA). Namun belum memenuhi studi kelayakan, sehingga tidak dapat direalisasikan.

Solusi lain adalah dengan membangun PLTU mulut tambang, sementara rasio elektrifikasi Jambi sudah 98 persen, juga diduga untuk kepentingan pemilik modal.

"PLN sampaikan ke kita bahwa energi sudah surplus. PLTU itu akan menjadi kepentingan investasi, bukan masyarakat," kata Rudi menegaskan.

Pertambangan batu bara telah merusak ekosistem air, udara dan alih fungsi lahan pertanian. Masyarakat akhirnya tidak berdaulat secara ekonomi.

Dalam debat kandidat Pilgub Jambi, Minggu malam (24/10/2020), jalan khusus tambang batu bara menjadi solusi untuk mengurai kemacetan dan korban jiwa dari angkutan batu bara.

Al Haris, cagub nomor urut 3 memunculkan solusi jalan khusus batu bara untuk mengurangi kemacetan dan debu angkutan batu bara.

Menurut Cek Endra, tidak hanya jalan khusus, dia juga telah memberi izin PLTU mulut tambang dengan kapasitas 300×2 megawatt, untuk membantu defisit energi nasional.

"Ketika PLTU mulut tambang bekerja, maka jumlah angkutan batu bara Sarolangun-Jambi akan berkurang," katanya.

Menurut Sukma Reni, Manager Komunikasi KKI Warsi, jalan khusus batu bara akan memunculkan konflik lahan baru.

Masalah lainnya adalah bahwa jalan tersebut akan mengiris kawasan hutan sehingga akan berdampak lagi pada kerusakan ekologi.

Baca juga: Di Tengah Pandemi, Jambi Ekspor 2,1 Ton Kopi Arabika Kerinci ke Jepang

Selanjutnya, PLTU adalah energi kotor yang melepas banyak karbon dan berpengaruh pada perubahan iklim.

Seharusnya, kata Sukma, kandidat mengembangkan EBT. Cahaya matahari dan air di Jambi sangat bisa dikembangkan untuk teknologi energi terbarukan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemprov DIY Siapkan Hotel Mutiara untuk Tampung Dokter dan Perawat Tambahan

Pemprov DIY Siapkan Hotel Mutiara untuk Tampung Dokter dan Perawat Tambahan

Regional
'Jadi Guru Honorer Itu Banyak Membatin, Tidak Tahan kalau Bukan Panggilan Jiwa'

"Jadi Guru Honorer Itu Banyak Membatin, Tidak Tahan kalau Bukan Panggilan Jiwa"

Regional
Kisah Khamdan, Terpilih Jadi Guru Inovatif meski Mengajar di Pedalaman NTT Tanpa Listrik dan Sinyal

Kisah Khamdan, Terpilih Jadi Guru Inovatif meski Mengajar di Pedalaman NTT Tanpa Listrik dan Sinyal

Regional
Cerita Guru Honorer David Berdayakan Lansia untuk Buat Pot Sabut Kelapa: Gaji Minus Tak Masalah

Cerita Guru Honorer David Berdayakan Lansia untuk Buat Pot Sabut Kelapa: Gaji Minus Tak Masalah

Regional
Bahar bin Smith Menolak Diperiksa Polisi, Ini Kata Pengacara

Bahar bin Smith Menolak Diperiksa Polisi, Ini Kata Pengacara

Regional
Seorang Pria Tembak Kepala Ayah Teman Anaknya hingga Tewas

Seorang Pria Tembak Kepala Ayah Teman Anaknya hingga Tewas

Regional
5 Fakta Bocah 8 Tahun Kleptomania di Nunukan, Dicekoki Susu Campur Sabu hingga Ibu Pernah Ditahan di Malaysia

5 Fakta Bocah 8 Tahun Kleptomania di Nunukan, Dicekoki Susu Campur Sabu hingga Ibu Pernah Ditahan di Malaysia

Regional
Kabupaten Cianjur Terancam Zona Merah Covid-19

Kabupaten Cianjur Terancam Zona Merah Covid-19

Regional
Gara-gara Pasien Covid-19 Menolak Diisolasi, Satu Kawasan Dikarantina

Gara-gara Pasien Covid-19 Menolak Diisolasi, Satu Kawasan Dikarantina

Regional
Ketua FPI Pekanbaru dan Seorang Anggotanya Jadi Tersangka

Ketua FPI Pekanbaru dan Seorang Anggotanya Jadi Tersangka

Regional
Suami Bupati dan 36 Pegawai Pemkab Brebes Positif Covid-19 Usai Tur ke Bromo, Ganjar: Kurangi Piknik

Suami Bupati dan 36 Pegawai Pemkab Brebes Positif Covid-19 Usai Tur ke Bromo, Ganjar: Kurangi Piknik

Regional
Gentar, Guru Asli Orang Rimba yang Tak Ingin Lagi Warga Pedalaman Ditipu

Gentar, Guru Asli Orang Rimba yang Tak Ingin Lagi Warga Pedalaman Ditipu

Regional
Ayah Angkat Ceritakan Kelamnya Masa Kecil Bocah Diduga Kleptomania

Ayah Angkat Ceritakan Kelamnya Masa Kecil Bocah Diduga Kleptomania

Regional
Aksara Bali di Proyek Rp 22 Miliar Alun-alun Gianyar Keliru

Aksara Bali di Proyek Rp 22 Miliar Alun-alun Gianyar Keliru

Regional
Cerita Dimas, Sukses Kembangkan Budidaya Tanaman Bonsai Kelapa Beromzet Jutaan Rupiah

Cerita Dimas, Sukses Kembangkan Budidaya Tanaman Bonsai Kelapa Beromzet Jutaan Rupiah

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X