Kisah-kisah Mereka yang Berhasil Bangkit di Tengah Pandemi, Ternak Cacing hingga Jual Ikan Cupang

Kompas.com - 17/10/2020, 06:07 WIB
Ilustrasi pandemi corona (Covid-19) SHUTTERSTOCKIlustrasi pandemi corona (Covid-19)

KOMPAS.com- Sektor perekonomian turut terimbas pandemi Covid-19 yang telah terjadi selama delapan bulan di Indonesia.

Sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan Maret 2020, gelombang PHK terjadi di berbagai daerah.

Ini kisah-kisah mereka yang berhasil membalikkan keadaan, mengubah keterpurukan ekonomi menjadi sebuah kesuksesan.

Baca juga: Cerita Rian Raup Jutaan Rupiah dari Ternak Cacing, Berawal Pekerjaan Terdampak Pandemi

1. Berhenti jadi sopir dan sukses beternak cacing

TERNAK CACING--Varian Arsyagam Isbandi (27), warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun menyirami cacing di kolam ternaknya. Mantan sopir rental kini sukses beternak cacing setelah keluar dari pekerjaannya karena terdampak pandemic covid-19.KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWI TERNAK CACING--Varian Arsyagam Isbandi (27), warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun menyirami cacing di kolam ternaknya. Mantan sopir rental kini sukses beternak cacing setelah keluar dari pekerjaannya karena terdampak pandemic covid-19.
Salah satu warga yang berhasil bangkit di tengah pandemi adalah Varian Arsyagam Isbandi (27).

Rian, demikian sapaan akrabnya, awalnya mengalami masa-masa terpuruk selama kurang lebih tujuh bulan lantaran pandemi.

Ia yang mulanya menjadi sopir rental terpaksa berhenti karena sepi penumpang.

Padahal ia memiliki dua orang anak dan keluarga yang harus dihidupi.

Tak menyerah dalam kondisi sulit itu, Rian mencari tahu mengenai budidaya cacing tanah dari saudaranya yang tinggal di Ponorogo.

Ia pun mantap memilih beternak cacing tanah lantaran kesulitan mencari kerja di perusahaan.

Rian kali pertama memulai bisnisnya pada Juli 2020 dengan modal Rp 35 juta. Uang itu ia peroleh dari tabungan serta utang.

Ia lalu membuat kolam cacing tanah di belakang rumah, menyiapkan oven pengering cacing serta membeli dua kuintal bibit.

Ilustrasi cacingshutterstock Ilustrasi cacing
Beternak cacing, kata Rian, cukup mudah. Ia hanya perlu menyirami air serta memberi ampas tahu.

Rian menuturkan, cacing tanah bisa kawin, bertelur sendiri serta tidak mudah sakit.

Cacing tersebut dipanen dua pekan sekali. Sekali panen, 36 kilogram cacing basah bisa dikumpulkannya.

"Untuk dijual di pasaran cacing yang dijual harus kering. Kalau panen 36 cacing basah maka bila dikeringkan menjadi enam kilogram,” ujar Rian.

Cacing lumbricus kering dijual dengan harga Rp 500.000 per kilogram.

Artinya, jika sebulan dia panen 72 kilogram cacing basah atau 12 kilogram kering, maka bisa meraup omzet Rp 6.000.000.

Selama ini Rian banyak memasok perusahaan jamu, karena cacing dianggap sebagai obat.

“Biasanya warga membeli untuk mengobati sakit maag , tipus, hingga melancarkan peredaran darah,” kata Rian.

Menurutnya, kebutuhan pabrik jamu herbal terhadap cacing kering masih sangat besar. Dari kebutuhan tujuh ton cacing kering, saat ini baru terpenuhi dua ton.

Baca juga: Cerita Soalihin, Guru yang Melayani Masyarakat dan Siswa di Pelosok Selama Pandemi Covid-19

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X