Demo Tolak "Omnibus Law" di Palembang, DPRD Sumsel Diblokade Mahasiswa, 100 Terduga Penyusup Diamankan

Kompas.com - 07/10/2020, 18:25 WIB
Ribuan massa aksi dari mahasiswa se-Sumatera Selatan memblokade jalan depan gedung DPRD Sumsel lantaran menolakan pengesahan RUU Omnibus Law Cipta Kerja, Rabu (7/10/2020). KOMPAS.COM/AJI YK PUTRARibuan massa aksi dari mahasiswa se-Sumatera Selatan memblokade jalan depan gedung DPRD Sumsel lantaran menolakan pengesahan RUU Omnibus Law Cipta Kerja, Rabu (7/10/2020).

PALEMBANG, KOMPAS.com- Ribuan massa aksi demo penolakan RUU Omnibus Law yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Pemuda untuk Rakyat (Ampera) Sumatera Selatan, memblokade jalan Pom IX,  Kecamatan Ilir Timur 1, Palembang, Rabu (7/10/2020).

Lokasi jalan di blokade mahasiswa tersebut, merupakan akses menuju gedung DPRD Sumatera Selatan. 

Pantauan di lapangan, mahasiswa mulanya melakukan orasi di depan taman simpang lima DPRD Sumsel dengan pengawalan ketat dari kepolisian. 

Namun, mahasiswa kembali merangsek masuk menuju gedung DPRD Sumsel. 

Baca juga: Viral Video DPRD Kota Jambi Diserang Anak STM Sampai Hancur, Begini Kronologinya

Sebabkan macet total

Kapolresta Palembang Kombes Pol Anom Setiyadji pun sempat beberapa kali memperingatkan kepada massa aksi demo untuk tidak menutup akses jalan. 

"Kalau mau masuk (halaman kantor DPRD) sekalian nggak apa-apa. Jangan menutupi jalan, kalau tidak dipinggir sekalian," kata Anom di depan ribuan massa aksi. 

Peringatan itu ternyata tak dihindarkan para mahasiswa, mereka tetap mempertahankan posisi mobil komando di tengah jalan depan gedung DPRD Sumsel. 

Akibatnya, akses jalan pun menjadi macet total. Pihak kepolisian yang berjaga sejak pagi akhirnya mengalah dengan menutup sementara akses jalan di Pom VIII. 

Baca juga: Demo Tolak Omnibus Law di Lampung Berujung Ricuh

100 terduga penyusup

Hingga berita ini diturunkan, terhitung sudah lebih dari 100 orang yang diduga penyusup diamankan polisi. 

Mereka diduga bakal membuat situasi penyampaian orasi menjadi ricuh. 

"Sudah lebih seratus, kami mohon jaga barisan kalian jangan sampai ada penyusup. Kita sudah amankan bom molotov hingga sajam,"imbuh Kapolres. 

Sementara, Humas massa aksi Ampera Sumsel Bagus Pratama mengatakan, mereka meminta pemerintah untuk mencabut omnibus law UU Cipta Kerja yang telah disahkan. 

Penolakan omnibus law tersebut, karena dapat menyesengsarakan masyarakat. 

"Presiden harus mencabut RUU Omnibus Law. Jika tidak kami akan mengawal judicial review ke Mahakamah Konstitusi (MK)," ujarnya. 

Baca juga: Ridwan Kamil Sarankan Demonstran Omnibus Law Lakukan Judicial Review ke MK



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

Regional
Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Regional
'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X