Fenomena La Nina, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Ekstrem di Maluku

Kompas.com - 06/10/2020, 20:57 WIB
Warga di kawasan Batu Merah Dalam, Kecamatan Sirimau, Kota AMbon, Minggu (4/10/2020)  membersihkan perabot dan barang-barang mereka pasca  banjir yang merendam kawasan itu Sabtu malam (3/10/2020). KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTYWarga di kawasan Batu Merah Dalam, Kecamatan Sirimau, Kota AMbon, Minggu (4/10/2020) membersihkan perabot dan barang-barang mereka pasca banjir yang merendam kawasan itu Sabtu malam (3/10/2020).

AMBON, KOMPAS.com - Hujan ekstrem dengan intensitas tinggi yang dipengaruhi fenomena alam la nina masih berpotensi terjadi di wilayah Maluku khususnya di Pulau Ambon, Pulau Seram, dan Pulau Buru hingga Desember.

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Ambon Oral Sem Wiral mengatakan, meski fenomena la nina di Maluku cukup lemah, masyarakat tetap diminta waspada.

Baca juga: Banjir dan Longsor di Ambon, 120 Rumah Warga dan Sejumlah Fasilitas Umum Rusak

Sebab, potensi terjadinya hujan ekstrem di sebagian wilayah Maluku masih ada.

“Fenomena ini di Maluku lemah, tapi kita perkirakan hujan ekstrem karena la nina ini masih berpotensi terjadi di Pulau Ambon, Buru dan Pulau Seram sampai desember mendatang, jadi istilahnya kemarau basah,” kata Oral kepada Kompas.com via telepon seluler, Selasa (6/10/2020).

Menurutnya, fenomena la nina bisa memengaruhi penguapan air laut sehingga membentuk awan tebal yang berpotensi menimbulkan hujan lebat.

Saat ini, kata dia, wilayah Maluku sudah memasuki musim kemarau. Namun, hujan masih berpotensi turun karena fenomena la nina tersebut.

“Jadi fenomena la nina ini membuat suhu air laut naik dan membentuk awan tebal dan itu masih cukup tinggi ya makanya kita prediksi sampai Desember itu maih ada hujan secara berlebihan di Maluku,” katanya.

Fenomena la nina dipengaruhi faktor regional, global, dan lokal. Secara lokal, Maluku memiliki banyak pegunungan. Sehingga, kelembaban udara di wilayah itu mencapai 80-100 persen dan memengaruhi suhu air laut dan pembentukan awan.

“Kebetulan di Ambon ini faktor lokalnya juga kuat karena ada banyak daerah berbukit jadi agak berpengaruh, jadi kalau pagi suhu air tinggi dia bisa memicu kumpulan awan semakin banyak,” katanya.

Ia pun mengimbau warga khususnya yang tinggal di daerah bantaran sungai dan lereng agar tetap waspada.

“Karena itu kita minta warga yang tinggal di bantaran sungai dan lereng gunung agar selalu waspada, juga untuk warga yang tinggal di pesisir pantai,” katanya.

Baca juga: Kelompok Remaja Paling Banyak Terpapar Covid-19 di Kota Ambon

Sebelumnya, banjir dan longsor melanda empat kecamatan di Kota Ambon pada Sabtu (3/10/2020).

Sebanyak 120 rumah warga rusak akibat banjir dan longsor itu. Bencana itu juga merusak sejumlah fasilitas umum.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Disuntik Vaksin Covid-19, Bupati Pati: Tidak Sakit Kok, Malah Dokternya yang Keringetan

Disuntik Vaksin Covid-19, Bupati Pati: Tidak Sakit Kok, Malah Dokternya yang Keringetan

Regional
Tewas Tertimpa Batu Saat Longsor di Kupang, Pasutri Ini Baru 3 Bulan Menikah

Tewas Tertimpa Batu Saat Longsor di Kupang, Pasutri Ini Baru 3 Bulan Menikah

Regional
Pasien Covid-19 Terus Bertambah, Seluruh RS Swasta di Wonogiri Wajib Sediakan Ruang Isolasi Perawatan

Pasien Covid-19 Terus Bertambah, Seluruh RS Swasta di Wonogiri Wajib Sediakan Ruang Isolasi Perawatan

Regional
Berteduh di Bawah Jembatan Saat Hujan Deras, 2 Pemancing Tewas Terseret Banjir

Berteduh di Bawah Jembatan Saat Hujan Deras, 2 Pemancing Tewas Terseret Banjir

Regional
Tren Covid-19 di Pangandaran Naik, Pemkab Siapkan Bekas SD untuk Rawat Pasien

Tren Covid-19 di Pangandaran Naik, Pemkab Siapkan Bekas SD untuk Rawat Pasien

Regional
Hilang Semalaman, Bocah 12 Tahun Ditemukan Tewas di Sendang

Hilang Semalaman, Bocah 12 Tahun Ditemukan Tewas di Sendang

Regional
Tabrakan Kapal di Alur Pelayaran Barat Surabaya, Tim Selam Diterjunkan Cari 5 ABK yang Hilang

Tabrakan Kapal di Alur Pelayaran Barat Surabaya, Tim Selam Diterjunkan Cari 5 ABK yang Hilang

Regional
Kabar Ada yang Meninggal Setelah Divaksin, Bupati Cilacap: Hoaks, Tidak Ada Itu

Kabar Ada yang Meninggal Setelah Divaksin, Bupati Cilacap: Hoaks, Tidak Ada Itu

Regional
Kecelakaan di Alur Pelayaran Barat Surabaya, Tug Boat Mitra Jaya XIX Ditemukan di Perairan Madura

Kecelakaan di Alur Pelayaran Barat Surabaya, Tug Boat Mitra Jaya XIX Ditemukan di Perairan Madura

Regional
Penambahan Kasus Covid-19 di Banten Pecah Rekor, Kota Serang Jadi Zona Merah

Penambahan Kasus Covid-19 di Banten Pecah Rekor, Kota Serang Jadi Zona Merah

Regional
Gubernur Banten Perpanjang PPKM Tangerang Raya hingga 8 Februari 2021

Gubernur Banten Perpanjang PPKM Tangerang Raya hingga 8 Februari 2021

Regional
Sempat Tertunda karena Darah Tinggi, Bupati Brebes Divaksin Covid-19 Usai Istirahat 4 Jam

Sempat Tertunda karena Darah Tinggi, Bupati Brebes Divaksin Covid-19 Usai Istirahat 4 Jam

Regional
Jajal Mobil Listrik, Emil Dardak: Nyaman, Seperti Mengendarai Mobil Bahan Bakar Fosil

Jajal Mobil Listrik, Emil Dardak: Nyaman, Seperti Mengendarai Mobil Bahan Bakar Fosil

Regional
4 Hari Setelah Disuntik Vaksin, Kadis Kesehatan Mataram Terkonfirmasi Positif Covid-19

4 Hari Setelah Disuntik Vaksin, Kadis Kesehatan Mataram Terkonfirmasi Positif Covid-19

Regional
Viral Foto Ikan Paus Ukuran 7 Meter Terdampar di Perairan Ogan Komering Ilir

Viral Foto Ikan Paus Ukuran 7 Meter Terdampar di Perairan Ogan Komering Ilir

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X