Dedi Mulyadi: Ide dan Gagasan Pak Jakob Harus Tetap Hidup Sepanjang Zaman

Kompas.com - 09/09/2020, 23:26 WIB
[ARSIP] Portrait foto Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (27/9/2016). Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88) meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020). KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULU[ARSIP] Portrait foto Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (27/9/2016). Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88) meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020).

KOMPAS.com - Mantan bupati Purwakarta yang juga anggota DPR RI Dedi Mulyadi mengenang sosok pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama, sebagai sosok jurnalis yang memiliki komitmen terhadap kebangsaan yang kuat. Komitmen itu tercrmin dari media Kompas.

Dedi menyebutkan, ada dua hal yang menjadi titik fokus utama Kompas. Pertama adalah media ini berkomitmen pada demokrasi dan memiliki sikap objektif serta kritis.

"Saya kan lahir di era Pak Harto, Gus Dur, Bu Megawati, Pak SBY dan hari ini. Dia (Kompas) memposisikan diri sebagai jurnalisme independen. Siapa pun yang pimpin dia punya sikap dalam memandang kehidupan bernegara," kata Dedi kepada Kompas.com via telepon, Rabu malam (9/9/2020).

Baca juga: Gubernur Banten: Pak Jakob Oetama Kebanggaan Masyarakat Indonesia

Selain itu, lanjut Dedi, Kompas memiliki komitmen terhadap keragaman alam dan budaya nusantara, sehingga Kompas cetak selalu mengulas sisi kebudayaan nusantara, baik keindahan alamnya maupun keanekaragaman budaya.

"Dan, saya adalah pembaca setia rubrik itu setiap minggu," kata wakil ketua Komisi IV ini.

Seiring dengan perkembangan zaman, lanjut Dedi, Kompas mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi yang saat ini sudah masuki era digital dan era media sosial.

Maka tumbullah Kompas.com, Kompas.id dan Kompas TV  yang menjadi garda terdepan dari Kompas dalam membaca kebutuhan publik terhadap informasi melalui media digital.

"Idealisme inilah yang saya, sebagai pembaca setia, titipkan kepada penerus Pak Jakob Oetama agar pinsipnya dipegang teguh," katanya.

Menurut Dedi, Jakob Oetama adalah penoreh sejarah perkembangan media di Indonesia, mulai cetak, elektronik hingga digital. Jakob adalah tokoh di balik itu dan sekaligus pelaku sejarah.

Dedi berharap bahwa idealisme dan gagasan Jakob Oetama akan tetap hidup sepanjang zaman.

"Pak Jakob boleh pergi, tetapi ide dan gagasannya harus tetap hidup sepanjang zaman," katanya.

Jakob Oetama meninggal dunia pada usia 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (9/9/2020).

Baca juga: Jakob Oetama Tutup Usia, Bupati Tapanuli Utara: Selamat Jalan Pahlawan Jurnalistik

 

Jakob tutup usia pada pukul 13.05 WIB setelah sempat dirawat karena mengalami gangguan multiorgan.

Rencananya, jenazah dimakamkan esok hari, Kamis (10/9/2020), di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X