Kisah Siswa di Pulau Seram, Jalan Kaki 3 Kilometer hingga Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Demi Bisa Sekolah

Kompas.com - 17/07/2020, 12:46 WIB
Sejumlah siswi SMP Negeri 16 Seram Bagian Timur, Maluku harus menyeberangi derasnya sungai saat pergi ke sekolah mereka di Desa Batuasa, Kecamatan Werinama, Kamis (16/7/2020) KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTYSejumlah siswi SMP Negeri 16 Seram Bagian Timur, Maluku harus menyeberangi derasnya sungai saat pergi ke sekolah mereka di Desa Batuasa, Kecamatan Werinama, Kamis (16/7/2020)

AMBON, KOMPAS.com - Perjuangan para siswa SMP di Desa Tobo, Kecamatan Werinama, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku untuk meraih cita-citanya bukanlah sebuah perkara yang mudah.

Demi mendapatkan pendidikan di sekolah, para siswa di desa tersebut harus rela menempuh perjalanan sejauh lebih dari tiga kilometer ke desa seberang sambil berjalan kaki menyusuri pesisir pantai yang bergelombang.

Selain harus berjalan kaki menempuh jarak yang jauh, para siswa di desa Tobo ini harus melewati rintangan teramat berat.

Mereka harus menyeberangi aliran sungai yang sangat deras untuk sampai ke sekolah mereka yang berada di Desa Batuasa.

Baca juga: Cerita Orangtua Hadapi Anak Selama Sekolah Ditutup, dari Kecanduan Game Online hingga Lupa Pulang

Jika sedikit saja salah melangkah, maka akibatnya pun akan sangat fatal, para siswa bisa hanyut terbawa aliran sungai ke laut.

Seperti yang dialami oleh Nanda, siswa SMP Negeri 16 Seram Bagian Timur asal Desa Tobo yang nekat menyeberangi sungai Ulil bersama teman-temannya untuk bisa sampai ke sekolah pada Kamis (16/7/2020).

Zubaidah, orangtua Nanda mengaku, meski merasa sangat khawatir, namun demi cita-cita anaknya, ia rela putrinya itu tetap ke sekolah walaupun harus berjalan kaki dan melewati aliran sungai yang sangat deras.

“Saya sangat khawatir, tapi mau bagaimana lagi, itu satu-satunya jalan menuju ke sekolah,” kata Zubaidah, kepada Kompas.com, saat dihubungi dari Ambon, Kamis malam.

Zubaidah menuturkan, putrinya bersama para siswa lain di desa tersebut harus berjalan kaki menyusuri pesisir pantai ke sekolah karena tidak ada jalan darat yang menghubungkan desa mereka dengan Desa Batuasa tempat putrinya bersekolah.

Padahal, dalam beberapa pekan terakhir ini, hujan deras telah menyebabkan sungai-sungai di desa tersebut meluap hingga sulit dilewati.

Kondisinya semakin memprihatinkan karena tidak ada jembatan di sungai-sungai tersebut.

“Kali-kali banjir, anak-anak pergi sekolah itu menyebrang sungai yang banjir, jadi kami sebagai orangtua takutnya saat mereka lewat lalu hanyut terbawa banjir,“ kata dia.

Ia mengungkapkan, beberapa tahun lalu ada anak-anak yang hanyut karena terbawa derasnya air sungai tersebut.

Kondisi itu membuatnya merasa khawatir karena saat ini sungai yang akan dilewati anak-anak desa juga sedang kebanjiran.

Karena itu, mulai besok, Zubaeda akan mengantar putrinya langsung ke sekolah supaya bisa membantunya melewati aliran sungai yang deras di perbatasan desa tersebut.

Baca juga: Demo Tuntut Pembukaan SD Diduga Suruhan, Bupati Pamekasan akan Panggil Kepala Sekolah

“Besok itu mungkin kami akan antar anak-anak karena takut juga,” ujar dia.

Prihatin

Salah seorang guru SMP Negeri 16 Seram Bagian Timur, Werto Wailissahalong mengatakan, siswa di sekolah tersebut mulai kembali bersekolah seperti biasa sejak tanggal 13 Juli 2020.

Namun, sayangnya, saat mulai masuk sekolah, para siswa harus melewati jalan terjal dengan melewati aliran sungai yang deras demi bisa mendapatkan pelajaran di sekolah.

“Tiap hari seperti begini, siswa jalan kaki sepanjang tiga kilo karena jalan raya memang tidak ada, di sini juga tidak ada jembatan,” kata Werto, saat dihubungi secara terpisah.

Werto sendiri mengakui ia juga setiap hari harus berjalan kaki dari kampungnya ke sekolah bersama para siswanya tersebut.

Saat musim penghujan tiba, kata dia, sungai-sungai yang ada di wilayah itu kebanjiran sehingga mereka harus rela menyeberangi sungai yang deras.

“Tadi itu syukurnya air sedang surut, jadi bisa lewat. Tapi, kalau airnya pasang itu sudah tidak bisa lewat lagi. Jadi, kita prihatin juga, kami merasa sangat kasihan kepada mereka (siswa) ini karena mereka kan masih sangat kecil,” ujar dia.

Berjalan kaki menyusuri pantai dan menyeberangi sungai yang deras telah menjadi kebiasaan para siswa dan guru di desa tersebut selama ini.

Dia menuturkan, orangtua para siswa kadang merasa khawatir dengan kondisi anaknya sehingga mereka kerap memutuskan tidak mengizinkan anak-anaknya anaknya ke sekolah.

“Kami guru juga ada empat orang yang selalu menyeberangi sungai ini, kadang hanyut apalagi anak-anak yang masih kecil, jadi kalau anak-anak sudah tidak ke sekolah itu kami para guru sudah paham sudah mengerti, pasti mereka tidak bisa menyeberangi sungai,” kata dia.

Baca juga: Seorang Kepala Dinas di Maluku Positif Covid-19, Dirawat di RSUP Ambon

Ia berharap pemerintah daerah dapat membangun akses jalan darat di wilayah itu agar anak-anak di desa tersebut tidak lagi kesulitan untuk mengecam pendidikan demi mencapai masa depan mereka.

“Harapan kami itu, pemerintah bisa memperhatikan kami di sini, bisa bangun jalan dan jembatan agar masyarakat dan anak-anak di sini bisa lepas dari penderitaan ini,” harap dia.

Butuh perhatian

Dua ornag guru SMP Negeri 16 Seram Bagian Timur, Maluku harus menyeberangi derasnya sungai saat pergi ke sekolah mereka di Desa Batuasa, Kecamatan Werinama, Kamis (16/7/2020)KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTY Dua ornag guru SMP Negeri 16 Seram Bagian Timur, Maluku harus menyeberangi derasnya sungai saat pergi ke sekolah mereka di Desa Batuasa, Kecamatan Werinama, Kamis (16/7/2020)

Senada dengan Werto, tokoh masyarakat setempat, Azrul Wailissa berharap, pemerintah dapat membuka keterisolasian di desa tersebut yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya itu.

Ia berharap pemerintah dan pihak berwenang dapat memberikan rasa keadilan bagi masyarakat di desa tersebut, sehingga mereka dapat menikmati pembangunan dan mengenyam pendidikan secara layak.

“Kondisi ini sudah puluhan tahun lamanya, di sini tidak ada akses jalan tidak ada jembatan, jadi kami berharap pemerintah bisa memperhatikan kami di sini,” ujar dia.

Desa Tobo sendiri berada tepat di perbatasan antara kabupaten Seram Bagian Timur dan Maluku Tengah.

Baca juga: Gubernur Banten Tegaskan Sekolah Tatap Muka Hanya untuk Daerah Tertentu

Sayangnya meski berada di perbatasan kedua kabupaten itu, namun akses penghubung desa tersebut dengan desa-desa lainnya belum dibangun sampai saat ini.

Kondisi tersebut menyebabkan banyak warga desa tidak bisa menjual hasil kebun karena tidak ada akses jalan yang bisa dilewati.

“Mau lewat laut juga saat ini cuaca sangat buruk dan gelombang tinggi jadi mau bagaimana lagi,” kata dia. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Regional
Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Regional
Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Regional
DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

Regional
Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Regional
BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

Regional
Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Regional
Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Regional
Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Regional
Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-'bully' Warganet

Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-"bully" Warganet

Regional
Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Regional
Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Regional
Bantuan Tunai Kurang Efektif Entaskan Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pembangunan RSLH

Bantuan Tunai Kurang Efektif Entaskan Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pembangunan RSLH

Regional
Hasil Monitor Dishub, Ada 162 Truk Angkutan Batu Bara Lintasi Underpass Banjarsari Per Jam

Hasil Monitor Dishub, Ada 162 Truk Angkutan Batu Bara Lintasi Underpass Banjarsari Per Jam

Regional
Cek Langsung ke Pasar Sukomoro, Wagub Emil Dapati Harga Bawang Merah Turun

Cek Langsung ke Pasar Sukomoro, Wagub Emil Dapati Harga Bawang Merah Turun

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.