Kasus Gratifikasi Rp 100 Miliar, Bupati Nonaktif Lampung Utara Dituntut 10 Tahun Penjara

Kompas.com - 09/06/2020, 20:04 WIB
Suasana sidang Bupati Nonaktif Lampung Utara, Agung Ilmu Mangkunegara di Pengadilan Tipikor Tanjung Karang, Selasa (9/6/2020). Agung dituntut selama 10 tahun penjara. KOMPAS.com/TRI PURNA JAYASuasana sidang Bupati Nonaktif Lampung Utara, Agung Ilmu Mangkunegara di Pengadilan Tipikor Tanjung Karang, Selasa (9/6/2020). Agung dituntut selama 10 tahun penjara.

LAMPUNG, KOMPAS.com - Bupati nonaktif Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara dituntut selama 10 tahun penjara.

Tuntutan itu disampaikan Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ikhsan dalam sidang daring (online) di Pengadilan Tipikor Tanjung Karang, Selasa (09/06/2020).

Jaksa menyatakan Agung terbukti menerima ratusan miliar uang suap selama menjabat sebagai bupati.

Baca juga: Kasus Suap Bupati Lampung Utara, Pemenang Lelang Diduga Sudah Diatur

Agung, menurut Jaksa KPK, terbukti dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana korupsi secara berkelanjutan seperti dalam Pasal 12 B UU Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi.

"Memohon majelis hakim menjatuhkan pidana selama 10 tahun penjara dikurangi selama terdakwa menjalani masa tahanan," kata Jaksa Ikhsan, Selasa (9/6/2020).

Jaksa Ikhsan juga meminta majelis hakim menjatuhkan denda sebesar Rp 1 miliar subsider 1 tahun kurungan penjara.

Baca juga: Suap Bupati Nonaktif Lampung Utara, Candra Divonis 1 Tahun 10 Bulan Penjara

Selain tuntutan pidana penjara dan uang denda, Jaksa Ikhsan juga meminta majelis hakim menjatuhkan pidana uang pengganti sebesar Rp 77,5 miliar.

"Bila terdakwa tidak bisa membayar uang pengganti, harta bendanya akan disita. Jika tidak mencukupi diganti hukuman selama 3 tahun penjara," kata Ikhsan.

Terdakwa lain

Sementara itu, Raden Syahrir (berkas sama dengan Agung) dituntut selama lima tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 4 bulan penjara.

Sedangkan Syahbudin (berkas terpisah) dituntut 7 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 6 bulan penjara.

Syahbudin juga dijatuhi pidana uang pengganti sebesar Rp 2,3 miliar. Jika tidak bisa dibayar diganti hukuman selama 1 tahun.

Kemudian satu terdakwa lain, Wan Hendri (berkas terpisah) dituntut selama 5 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 6 bulan penjara.

"Terdakwa Wan Hendri juga dijatuhi uang pengganti sebesar Rp 60 juta. Jika tidak bisa dibayar diganti pidana kurungan selama 3 bulan penjara," kata Jaksa Ikhsan.

Baca juga: Kasus Suap Lampung Utara, Relasi Keluarga Bupati Diduga Ambil Uang Suap

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bawaslu Rekomendasikan Pilkada Boven Digoel Ditunda, Faktor Keamanan dan Logistik Belum Siap

Bawaslu Rekomendasikan Pilkada Boven Digoel Ditunda, Faktor Keamanan dan Logistik Belum Siap

Regional
36 Pelajar SMP di Surabaya Positif Covid-19

36 Pelajar SMP di Surabaya Positif Covid-19

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 2 Desember 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 2 Desember 2020

Regional
Rizieq Minta Maaf soal Acara di Bogor, Bagaimana dengan Kasus Hukumnya?

Rizieq Minta Maaf soal Acara di Bogor, Bagaimana dengan Kasus Hukumnya?

Regional
Bupati Pati Larang Kerumunan Saat Perayaan Natal dan Tahun Baru 2021

Bupati Pati Larang Kerumunan Saat Perayaan Natal dan Tahun Baru 2021

Regional
Buru Kelompok MIT Pimpinan Ali Kalora, Kapolda Sulteng Berkantor di Poso

Buru Kelompok MIT Pimpinan Ali Kalora, Kapolda Sulteng Berkantor di Poso

Regional
Polisi Tembak Mati Kurir Sabu 30 Kg yang Punya 7 Identitas

Polisi Tembak Mati Kurir Sabu 30 Kg yang Punya 7 Identitas

Regional
Gudang Sekolah di Samarinda Jadi Pabrik Narkoba, Bahan Bakunya dari Jakarta

Gudang Sekolah di Samarinda Jadi Pabrik Narkoba, Bahan Bakunya dari Jakarta

Regional
Ibu Mahfud MD Batal Diungsikan Setelah Ada Jaminan Keamanan

Ibu Mahfud MD Batal Diungsikan Setelah Ada Jaminan Keamanan

Regional
Meski Tak Diwajibkan, Bawaslu Bali Berharap Saksi Paslon di Pilkada Jalani Rapid Test

Meski Tak Diwajibkan, Bawaslu Bali Berharap Saksi Paslon di Pilkada Jalani Rapid Test

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 2 Desember 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 2 Desember 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 2 Desember 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 2 Desember 2020

Regional
Bisa Tampung Ribuan Pasien Covid-19, Asrama Haji di Solo Diusulkan Jadi Tempat Isolasi

Bisa Tampung Ribuan Pasien Covid-19, Asrama Haji di Solo Diusulkan Jadi Tempat Isolasi

Regional
Sopir Truk Penyebab Kecelakaan Maut di Sumedang Jadi Tersangka

Sopir Truk Penyebab Kecelakaan Maut di Sumedang Jadi Tersangka

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 2 Desember 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 2 Desember 2020

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X