Menyoal Prostitusi Online, Pakai Tagar Khusus di Twitter hingga Modus Perdagangan Orang

Kompas.com - 07/11/2019, 11:44 WIB
Polisi membawa pria berinisial SD yang diduga sebagai mucikari dalam kasus dugaan prostitusi yang melibatkan finalis Putri Pariwisata tahun 2016 berinisial PA. AntarafotoPolisi membawa pria berinisial SD yang diduga sebagai mucikari dalam kasus dugaan prostitusi yang melibatkan finalis Putri Pariwisata tahun 2016 berinisial PA.
Editor Rachmawati

Sebelumnya diberitakan sejumlah media bahwa Polda Jatim menduga ada 100 figur publik yang terlibat dalam jaringan prostitusi daring di bawah SD.

Pengungkapan kasus ini bermula saat Polda Jatim mengamankan tiga orang yang terlibat dalam dugaan praktik prostitusi online di Batu, Jawa Timur, pada tanggal 25 Oktober lalu.

Salah seorang yang diamankan, PA, disebut sebagai finalis Putri Pariwisata Indonesia. Ia telah dibebaskan dengan status sebagai saksi.

Baca juga: Fakta Kasus Prostitusi Onilne Pelajar di Tasikmalaya, 8 Orang Diamankan hingga Pelanggannya Pejabat dan Politikus


Banyak terjadi

Frans menyebut praktik prostitusi online yang memanfaatkan media sosial banyak terjadi di seluruh Indonesia. Tapi tidak semuanya bisa diusut oleh polisi karena sebagian pelaku prostitusi bertindak sendiri.

"Kalau pribadi enggak bisa (diusut) kalau jaringan baru bisa," kata Frans.

Novelina Purba, data scientist di Indonesia Indicator yang pernah melakukan studi tentang prostitusi online, mengatakan ada beberapa akun di media sosial yang memasarkan prostitusi dengan menggunakan tagar-tagar tertentu dan ada indikasi jumlah akun tersebut bertambah setiap tahun.

Baca juga: Polisi Bongkar Bisnis Prostitusi Online Pelajar di Tasikmalaya

Kebanyakan akun berlokasi di Pulau Jawa, dengan jumlah akun tertinggi di Yogyakarta.

Salah satu tagar yang banyak dipakai adalah #OpenBO. BO merupakan singkatan dari "booking out" yang berarti menyewa jasa seks. Layanan lainnya yang ditawarkan ialah VCS alias video call sex atau seks lewat panggilan video.

Berdasarkan pengamatannya, Novelina mengatakan ada akun yang mempromosikan dirinya sendiri, ada juga yang mempromosikan akun orang lain.

Kebanyakan akun yang mempromosikan diri memajang foto perempuan.

Baca juga: Kasus Prostitusi PA, Mucikari Masih Mahasiswa hingga Berhasil Ditangkap

Menurut Novelina, para pelaku prostitusi memanfaatkan platform media sosial untuk promosi karena jangkauannya lebih luas. Media sosial Twitter secara khusus dipilih karena sifatnya lebih terbuka.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X