Sidang Perdana Kasus Pencabulan Santri, Pimpinan dan Guru Pesantren Didampingi 5 Pengacara

Kompas.com - 11/10/2019, 09:46 WIB
Suasana Pesantren AN, yang tutup di Jalanan Kompleks Panggoi Indah, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh, Senin (22/7/2019) KOMPAS.com/MASRIADISuasana Pesantren AN, yang tutup di Jalanan Kompleks Panggoi Indah, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh, Senin (22/7/2019)

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Mahkamah Syariah Lhokseumawe menggelar sidang perdana kasus dugaan pencabulan santri di Pesantren AN, Kamis (10/10/2019).

Sidang yang berlangsung tertutup itu dipimpin oleh hakim Azmir dan didampingi dua hakim anggota yaitu Muh Amin dan Ahmad Lutfi.

Agenda pertama sidang ini, jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Lhokseumawe, membacakan dakwaan terhadap dua tersangka yaitu pimpinan Pesantren AN berinisial AI dan seorang guru berinisial MY.

Dalam dakwaannya, JPU terdiri dari Syahril dan Fakhrillah menyampaikan bahwa keduanya mencabuli santri dan dijerat dengan Pasal 47, 48, dan 50 Qanun (peraturan daerah) Aceh tentang jinayat.

“Tadi pembacaan dakwaan, lalu sidang diagendakan Kamis depan lagi,” ujar Fakhrillah seusai sidang.

Baca juga: Terjadi Lagi, Belasan Santri Putri Diduga Korban Pencabulan Pimpinan Pesantren

Kedua terdakwa didampingi lima pengacaranya yaitu Khairil Fadri Basri, Armia, Muzakir, Fadhlullah, Ade Oscar, dan Al Kausar.

Salah satu pengacara Armia menyatakan akan melakukan eksepsi atas dakwaan jaksa.

“Begitu selesai dakwaan kami langsung nyatakan ke hakim untuk eksepsi Kamis depan. Kami menganggap dakwaan jaksa itu kabur dan tidak tepat dituduhkan ke klien kami, ” sebut Armia.

Sebelumnya diberitakan AI dan MY ditangkap polisi atas dugaan mencabuli santri di Pesantren AN, Aceh.

Baca juga: Mungkinkah Pimpinan Pesantren di Aceh Utara yang Cabuli 15 Santri Divonis Kebiri?

Polisi memeriksa lima korban dari total 15 korban dalam kasus itu.

Pesantren itu pun kini dipindah dan memulai aktivitas di Desa Alue Awe, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh.

Sebanyak 20 persen dari 300 santri di Pesantren AN dilaporkan pindah ke pesantren atau sekolah lainnya di Aceh.

Mereka pindah menyusul terungkapnya kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan pimpinan pesantren dan seorang guru masing-masing berinisial AI dan MY terhadap sejumlah santri.

Kepala Hubungan Masyarakat, Pemerintah Kota Lhokseumawe, Muslem, Senin (22/7/2019), menyebutkan, 20 persen santri yang pindah itu umumnya santri yang baru mendaftar untuk tahun ajaran 2019-2020.

Mereka meminta pindah ke sekolah atau pesantren lainnya.

“Kalau santri lama, rata-rata ingin menamatkan pendidikan di pesantren itu. Yang pindah itu umumnya santri baru mendaftar. Anak baru tahun ini,” kata Muslem.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X