Peran NU Rekatkan Persatuan dan Pembangunan Nasional dalam Kajian Akademisi Universitas Brawijaya

Kompas.com - 15/09/2019, 09:55 WIB
Rachmat Kriyantono saat berbicara dalam sebuah acara yang diadakan oleh NU Perum IKIP Tegalgondo, Kabupaten Malang, Sabtu (14/9/2019) malam. Dok. Rachmat KriyantonoRachmat Kriyantono saat berbicara dalam sebuah acara yang diadakan oleh NU Perum IKIP Tegalgondo, Kabupaten Malang, Sabtu (14/9/2019) malam.

MALANG, KOMPAS.com - Umat Islam memegang peran penting dalam pembangunan Indonesia. Peran penting tersebut membutuhkan pondasi yang kuat berupa akhlak dan terjaganya persatuan dan kesatuan umat.

Hal itu disampaikan oleh akademisi Universitas Brawijaya (UB) Rachmat Kriyantono dalam suatu acara yang diadakan oleh Nahdlatul Ulama ( NU) di Perum IKIP Tegalgondo, Kabupaten Malang, Sabtu (14/9/2019) malam.

Menurutnya, penguatan pondasi itu penting karena tujuan pembangunan itu untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Rachmat berharap, NU bisa mengambil peran dalam penguatan pondasi itu. Terlebih, NU memiliki struktur hingga ke lapisan tatanan masyarakat terbawah.

Baca juga: Nasi Lengko, Legenda di Universitas Brawijaya yang Bikin Kangen

Selain itu, NU dan Indonesia tidak bisa dipisahkan. Sejak perang kemerdekaan, NU sudah berdiri di garis depan untuk melawan penjajahan.

"Saat perumusan dasar negara, para ulama NU dengan yakin menghilangkan kata kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Ini bentuk kesadaran ulama tentang kebhinekaan bangsa kita," imbuhnya seperti dalam rilis yang diterima Kompas.com.

Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (UB) mengatakan, hoaks dan saling mencaci menjadi fenomena terbaru yang dialami oleh Bangsa Indonesia. Jika dibiarkan, fenomena dapat memecah persatuan.

"Sebagai antisipasi menurunnya kesadaran umat atas maraknya hoaks, fitnah, saling mengolok antar anak bangsa yang bisa memecah umat . Di tambah lagi, munculnya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama tapi bermaksud mengancam persatuan. Kami hadir untuk mengedukasi bahwa Islam dan nasionalisme tidak dapat dipisahkan," katanya.

Baca juga: Universitas Brawijaya Jadi Kampus Paling Diminati Pendaftar SBMPTN 2019

KH Achmad Subhan, selaku Ketua Tanfidziah Pengurus Anak Ranting NU Perum IKIP Tegalgondo mengatakan, perbedaan tidak menjadi alasan untuk bercerai-berai.

"Meski berbeda-beda, kita tetap bersatu. Kita memang berbeda suku, bangsa, hingga ada yang berbeda pemahaman agama dan praktek beragama, tapi, kita harus tetap bersatu," katanya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X