Kisah Marta, “Ciblek Lawang Sewu” (BAGIAN I)

Kompas.com - 05/09/2019, 08:05 WIB
Suasana gedung bekas kantor pusat NISM, Lawang Sewu, di Semarang pada Juli 2019 lalu. J OsdarSuasana gedung bekas kantor pusat NISM, Lawang Sewu, di Semarang pada Juli 2019 lalu.

Ketika pulang ke rumahnya, sekitar jam 02.00 pagi, kedua orangtuanya masih bangun, belum tidur. Kedua orangtuanya masih bercerita dengan tante Marta (adik ayah Marta) yang baru datang dari Jakarta.

“Tante saya waktu itu bilang mau mengajak saya ke Tangerang, tapi dia tidak punya ongkos untuk tiket kereta api buat saya. Lalu saya bilang, saya punya uang. Kami sepakat untuk ke Jakarta dua hari lagi” ujar Marta.

Sebelum berangkat ke Jakarta, Marta ingin mengucapkan terima kasih pada bapak yang memberi uang padanya. Tapi Marta tidak tahu nama dan alamat bapak itu.

“Akhirnya sebelum saya berangkat ke Jakarta dan Tangerang, saya datang ke Lawang Sewu dan mengucapkan terima kasih pada Lawang Sewu,” kisah Marta.

Kenapa harus berterima kasih pada Lawang Sewu ? Saya tanya pada Marta. “Saya juga tidak tahu. Tapi bapak yang saya tidak kenal itu datang di saat saya mengamati gedung Lawang Sewu,” jawab Marta.

Di Tangerang, Marta belajar berdagang dari tantenya dan sukses. Ia bersyukur kepada Sang Pencipta. Tiap dia pulang ke Semarang, selalu menyempatkan diri ke Lawang Sewu.

Kesedihan dan kemarahan Marta karena difitnah dengan sebutan ciblek Lawang Sewu kini berubah jadi perasaan jenaka di hatinya, bahkan ia bersyukur karena fitnahan itu.

"Saya malah bungah (gembira) dan ngguyu (tertawa) bila sekarang dipanggil Marta ciblek Lawang Sewu. Tulis saja judulnya begitu. Karena saya sukes berkat saya tahan melek (buka mata) sejak kecil,” begitulah kisah “Marta, Ciblek Lawang Sewu”.


Saran Staf Khusus Presiden

Setelah berkeliling di gedung bertingkat tiga itu saya bertemu dengan anggota Tim Komunikasi Istana Presiden Joko Widodo, Ari Dwipayana, di sebuah hotel tidak jauh dari Lawang Sewu.

Saya ceritakan kisah Marta ciblek Lawang Sewu ini kepada staf khusus Presiden Joko Widodo asal Bali itu. “Itu bagus untuk ditulis. Ini kisah inspiratif dan bagus untuk Lawang Sewu sebagai ikon pariwisata Jawa Tengah, ” kata Ari Dwipayana.

Gedung Lawang Sewu adalah warisan sejarah dari sekitar lebih dari 100 tahun lalu. Marta, salah satu pewaris rejeki dari Lawang Sewu.

Marta hanya tidak tahu persis sejarah Lawang Sewu. Ia hanya tahu gedung itu kantor kereta api Belanda di masa lalu. Ia juga tahu gedung itu disebut Lawang Sewu, karena banyak sekali lubang pintunya, walau jumlah persisnya tidak sampai seribu.

Pemerintah Indonesia saat ini berjuang membuat Indonesia jadi tempat yang diburu oleh para turis di dunia. Lawang Sewu sudah ditetapkan sebagai situs budaya yang dilindungi, untuk objek turisme.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X