Kisah Kantin Mem di USU, Murah Meriah dan Tempat Makan Sebelum Demo

Kompas.com - 02/09/2019, 09:29 WIB
Warung makan ini dikenal dengan nama Kantin Mem. Lokasinya berada di sebelah Puslit SDAL, Pusat Jasa Ketenagakerjaan. Berdekatan dengan Fakultas Ilmu Budaya USU. Pemilik kantin, Ermiyati (63) yang selalu menyapa dengan ramah. KOMPAS.com/DEWANTOROWarung makan ini dikenal dengan nama Kantin Mem. Lokasinya berada di sebelah Puslit SDAL, Pusat Jasa Ketenagakerjaan. Berdekatan dengan Fakultas Ilmu Budaya USU. Pemilik kantin, Ermiyati (63) yang selalu menyapa dengan ramah.

MEDAN, KOMPAS.com - Angin semilir di sebuah warung makan di Jalan Perpustakaan di Universitas Sumatera Utara ( USU), Sumatera Utara, terasa begitu sejuk.

Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi duduk hampir memenuhi semua kursi, menyantap makan siang.

Warung makan ini dikenal dengan nama Kantin Mem. Lokasinya berada di sebelah Puslit SDAL, Pusat Jasa Ketenagakerjaan. Berdekatan dengan Fakultas Ilmu Budaya USU.

Pemilik kantin, Ermiyati (63) menyapa dengan ramah. Sebotol air mineral diletakkannya di meja.

"Dan ini, silakan diminum. Di sini manis dingin harganya Rp 2.000 saja," kata Ermiyati memulai cerita.

Baca juga: Kantin Mbok Jum, Warung Makan Legendaris di Kampus UNS Solo

Kepada Kompas.com, ibu dari empat anak ini bercerita, dulunya dia merupakan pegawai kantor di USU sejak tahun 1982. Pada tahun 1995, Ermi mengalami musibah, rumahnya terbakar.

Sejak saat itu dia dia aktif di dharma wanita. Ada beberapa kegiatan dan salah satunya adalah dia diminta untuk mengelola sebuah ruangan untuk berjualan.

"Saya buka kantin itu sejak 1997. Saat itu menjelang krisis moneter dan zaman banyaknya demo-demo menjatuhkan Soeharto," katanya, beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya, Kantin Mem sudah tiga kali berpindah. Pertama kali 1997 berada di depan mushala. Kemudian pindah bergeser ke gedung sebelahnya pada tahun 2013.

Di tempat saat ini, sudah ditempati sejak 2018.

"Pindah-pindah itu karena ada renovasi, dibuat jadi ruang kelas dan lainnya lah," ujar Ermiyati.

Namun demikian, Kantin Mem tetap menjadi pilihan banyak mahasiswa USU. Tidak hanya dari FIB, bahkan dari fakultas lain juga menjadi pelanggan tetap di kantin ini.

Orang-orang penting di Kota Medan, kata dia, semasa kuliah juga pernah menjadi pelanggan di sini.

"Ada Yulhasni, yang sekarang di KPU Sumut itu, ada juga Agus Mulia yang sekarang di Balai Bahasa Indonesia (BBI), ada lagi Parulian, banyak lagi lah," katanya.

Dalam berjualan dengan pembeli mayoritas mahasiswa, Ermiyati tak pernah menargetkan hasil.

Berapapun penghasilan setiap hari, dibagikan kepada pekerja yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Selebihnya dibelanjakan untuk bahan-bahan masakan keesokan hari.

Menurutnya, menu yang disajikan pun sebenarnya biasa saja. Tak beda dengan rumah makan lainnya.

Bedanya, Ermiyati memberi harga yang bersahabat untuk mahasiswa. Misalnya, untuk nasi putih hanya Rp 6.000, teh manis dingin Rp 2.000, aneka kue seperti bakwan dan pisang goreng Rp 500, air mineral Rp3.000, dan lainnya.

Ermiyati mengatakan, tidak menghitung keuntungan dan kerugian adalah lebih baik. Dia mencontohkan, pernah ada seseorang yang datang mengaku dulunya pelanggan kantin dan kemudian memberikan sejumlah uang. Namun, Ermiyati menolaknya.

"Tapi dia bilang, sudah lah Bu. Mungkin dulu ada makan kue yang belum dikerah. Saya tolak dan mengembalikannya, tapi dia tak mau. Katanya dia mahasiswa lama yang dulu sering ke sini," katanya.

Baca juga: Atmi Tak Menyangka Kepergian Anaknya ke Warung Jadi Perjumpaan Terakhir...

Menurut Ermiyati dengan harga semurah itu, orang akan berpikir dua kali untuk tidak membayar.

Lalu untungnya berapa, yang jelas, Ermiyati bisa mempekerjakan enam orang dan ada beberapa orang lagi untuk membantu.

"Anak saya juga ada yang jadi dosen, ya dari sini biayanya," katanya.

Lama bergaul dengan mahasiswa, dia pun sangat paham dengan beragam karakter. Ada perbedaan antara mahasiswa dulu dan sekarang.

Mahasiswa dulu, di waktu senggang mengisi waktu dengan buku. Mahasiswa sekarang, kata dia, sudah lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget.

"Sejak ada si Samsung dan si Sony, kebiasaan orang memang berubah," ujar nenek dari 10 cucu ini.

Ermiyati berharap di masa tuanya ini dia bisa berbuat hal yang bermanfaat bagi banyak orang.

"Mau mengembangkan diri, bagaimana lah usia sudah segini. Yang penting berbuat yang positif dan badan pun sehat walafiat saja lah," katanya.

Rahmad, mahasiswa Fakultas Teknik USU yang baru saja makan siang di Kantin Mem mengatakan, kantin ini direkomendasikan oleh seniornya karena murah meriah dan enak.

"Banyak senior saya yang dulu sering makan di sini. Banyak sejarahnya dengan Mem (panggilan mahasiswa kepada Ermiyati). Tak sekedar untuk makan dan minum saja, bahkan mau demo dulu, makan atau kumpulnya di sini," katanya.

Widy, seorang mahasiswa FIB jurusan ilmu sejarah mengatakan, Kantin Mem menjadi pilihan karena kantin ini paling murah dan paling lengkap di USU. 

"Bagusnya lagi, di sini makanannya terjamin untuk kesehatan mahasiswa. Masak hari ini, habis hari ini, besok masak lagi," katanya.

 

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejak Januari 2020, 300 Jemaah Minta Rekomendasi Umrah pada Kemenag Jember

Sejak Januari 2020, 300 Jemaah Minta Rekomendasi Umrah pada Kemenag Jember

Regional
Hidup Sebatang Kara, Murtinah Penderita Katarak Kini Bisa Melihat Dunia

Hidup Sebatang Kara, Murtinah Penderita Katarak Kini Bisa Melihat Dunia

BrandzView
Jemaah Umrah asal Pamekasan Terkejut Batal Diberangkatkan

Jemaah Umrah asal Pamekasan Terkejut Batal Diberangkatkan

Regional
7 Jam Pria Ini Mematung di Pinggir Jalan Meski Diguyur Hujan, Ternyata...

7 Jam Pria Ini Mematung di Pinggir Jalan Meski Diguyur Hujan, Ternyata...

Regional
Transit di Singapura, Jemaah Umrah dari Surabaya Kembali ke Indonesia

Transit di Singapura, Jemaah Umrah dari Surabaya Kembali ke Indonesia

Regional
Jasad Delis Ditinggalkan 5 Jam, Diboncengkan Sepeda Motor oleh Ayahnya

Jasad Delis Ditinggalkan 5 Jam, Diboncengkan Sepeda Motor oleh Ayahnya

Regional
Dedi Mulyadi: Hutan Harus Jadi Kekayaan Spiritual untuk Cegah Banjir

Dedi Mulyadi: Hutan Harus Jadi Kekayaan Spiritual untuk Cegah Banjir

Regional
Paus Terdampar dalam Kondisi Mati di Pantai Kulon Progo

Paus Terdampar dalam Kondisi Mati di Pantai Kulon Progo

Regional
Buat Geger, Tikus Gigit Ular di Kantor Wali Kota Salatiga, Kelabang Muncul di Ruangan Staf Ahli

Buat Geger, Tikus Gigit Ular di Kantor Wali Kota Salatiga, Kelabang Muncul di Ruangan Staf Ahli

Regional
Bentrok TNI-Polri di Tapanuli Utara, 6 Orang Terluka dan 1 Kantor Polisi Rusak

Bentrok TNI-Polri di Tapanuli Utara, 6 Orang Terluka dan 1 Kantor Polisi Rusak

Regional
Dilipat Beda Arah, Cara Difabel Tunanetra Kenali Nominal Rupiah

Dilipat Beda Arah, Cara Difabel Tunanetra Kenali Nominal Rupiah

Regional
Tersangka Tragedi Susur Sungai Sempor: Tanggung Jawab Kami kepada Allah dan Hukum

Tersangka Tragedi Susur Sungai Sempor: Tanggung Jawab Kami kepada Allah dan Hukum

Regional
Menyesal Bela Mantan Suami yang Bunuh Putrinya, Ibu Delis: Dasar Tukang Bohong

Menyesal Bela Mantan Suami yang Bunuh Putrinya, Ibu Delis: Dasar Tukang Bohong

Regional
Air yang Tampak Mendidih di Persawahan Warga Sumenep Akan Diuji di Laboratorium

Air yang Tampak Mendidih di Persawahan Warga Sumenep Akan Diuji di Laboratorium

Regional
Aniaya Ibu Kandung, Remaja Jebolan The Voice Indonesia Diamankan Polisi

Aniaya Ibu Kandung, Remaja Jebolan The Voice Indonesia Diamankan Polisi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X