Jauh dari Rumah Sakit, Penderita Bibir Sumbing NTT Sulit Berobat

Kompas.com - 19/07/2019, 19:29 WIB
Seorang balita di NTT penderita bibir sumbing tengah menjalani proses pengobatan di St. Carolus Borromeus Kupang MICO DESRIANTO/Kompas.comSeorang balita di NTT penderita bibir sumbing tengah menjalani proses pengobatan di St. Carolus Borromeus Kupang

KUPANG, KOMPAS.com – Penderita bibir sumbing di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) kesulitan mengakses layanan kesehatan karena tinggal relatif jauh dari rumah sakit.

Direktur Rumah Sakit Santo Carolus Borromeus Kupang mengatakan, mayoritas penderita bibir sumbing di NTT tergolong keluarga pra sejahtera.

Dengan kondisi itu, mereka terkendala untuk menjalani operasi bibir sumbing.

“Secara geografis terbagi dari tiga pulau besar (Flores, Sumba, Timor) membuat penderita bibir sumbing di NTT kesulitan menuju rumah sakit,” ucap Herly kepada Kompas.com, Selasa (16/7/2019).

Menurut dia, tak sedikit penderita bibir sumbing hingga dewasa tidak mendapat layanan kesehatan untuk memperbaiki organ yang bermasalah.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Kupang, Rudi Priyono, mengatakan layanan kesehatan untuk penderita bibir sumbing di NTT belum menjadi prioritas.

Pemerintah daerah, imbuh dia, saat ini fokus pada penyakit berbahaya yang dapat merenggut nyawa manusia.

Bibir sumbing berdasar pada penampilan, mungkin itu sebabnya,” ucap dia.

Meski begitu, lanjut Rudi, Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Kesehatan telah melakukan tindakan pencegahan, dengan rutin melakukan penyuluhan gizi kepada masyarakat.

Tujuannya, masyarakat dapat lebih waspada terhadap berbagai penyebab terjadinya bibir sumbing pada bayi yang baru lahir.

“Terutama pada ibu-ibu hamil agar lebih memperhatikan apa yang mereka makan,” terang Rudi.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Kupang Rudi Priyono mengaku penderita bibir sumbing di wilayahnya kurang mendapatkan perhatianMICO DESRIANTO/Kompas.com Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Kupang Rudi Priyono mengaku penderita bibir sumbing di wilayahnya kurang mendapatkan perhatian
Sebagai informasi, Oganisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan satu dari 700 bayi baru lahir mengalami bibir sumbing atau disebut langit mulut sumbing

Di Indonesia sendiri terdapat 7.500 per tahun kasus bayi menderita bibir sumbing, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013.

Prevalensi kecacatan pada anak usia 24-29 bulan mencapai 0,53 persen dengan 0,08 persen di antaranya adalah penderita bibir sumbing.

Sementara di NTT, Herly memprediksi jumlah penderita bisa mencapai 200 orang dengan usia yang bervariasi.

Rumah singgah

Ia berharap, pemerintah mampu menyediakan rumah singgah kepada para penderita bibir sumbing di NTT. Dengan begitu, mereka tak ragu menempuh perjalanan jauh untuk berobat.

Selama ini, RS Carolus kewalahan menampung penderita bibir sumbing yang rumahnya jauh dengan mengorbankan kamar para suster.

“Di RS Carolus Borromeus ini setiap tahun mengadakan operasi bibir sumbing yang dibiayai oleh donatur. Bagi yang rumahnya jauh, kami sediakan kamar untuk tinggal selama pengobatan,” jelas Herly.

Sebagai informasi, menurut Herly, operasi bibir sumbing dapat memakan waktu hingga berhari-hari tergantung tingkat keparahan penderita.

“Ada juga yang harus sampai tiga kali operasi,” tutup Herly.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dua Jambret 27 Kali Beraksi, Akhirnya Ditembak Polisi

Dua Jambret 27 Kali Beraksi, Akhirnya Ditembak Polisi

Regional
Sungai Meluap, 42 Desa dan 149 Hektar Sawah Terendam Banjir di Aceh Singkil

Sungai Meluap, 42 Desa dan 149 Hektar Sawah Terendam Banjir di Aceh Singkil

Regional
Antisipasi Lonjakan Pasien Covid-19, Tenda Didirikan untuk IGD di RSUD Cilacap

Antisipasi Lonjakan Pasien Covid-19, Tenda Didirikan untuk IGD di RSUD Cilacap

Regional
Penanganan Covid-19, DIY akan Tambah Nakes dan Tempat Tidur

Penanganan Covid-19, DIY akan Tambah Nakes dan Tempat Tidur

Regional
Berkat Belatung, Peternak Ayam Ini Tetap Bertahan meski Dihajar Pandemi

Berkat Belatung, Peternak Ayam Ini Tetap Bertahan meski Dihajar Pandemi

Regional
Jelang Coblosan Pilkada, Kabupaten Tasikmalaya Naik Status Zona Merah

Jelang Coblosan Pilkada, Kabupaten Tasikmalaya Naik Status Zona Merah

Regional
Pemkot Pontianak Pastikan Gelar Belajar Tatap Muka dengan Protokol Kesehatan Ketat

Pemkot Pontianak Pastikan Gelar Belajar Tatap Muka dengan Protokol Kesehatan Ketat

Regional
Rumah Rusak karena Puting Beliung, 25 KK di Kabupaten Dompu Masih Mengungsi

Rumah Rusak karena Puting Beliung, 25 KK di Kabupaten Dompu Masih Mengungsi

Regional
Pasca-acara Rizieq Shihab di Bogor, Dinkes Sebut 20 Orang Reaktif Bukan Positif Covid-19

Pasca-acara Rizieq Shihab di Bogor, Dinkes Sebut 20 Orang Reaktif Bukan Positif Covid-19

Regional
Sehari Beroperasi, Rusunawa di Tegal Sudah Isolasi 3 Pasien Covid-19

Sehari Beroperasi, Rusunawa di Tegal Sudah Isolasi 3 Pasien Covid-19

Regional
5 Kasus Pencurian Kotak Amal, Satu Keluarga hingga Sekdes Jadi Pelaku Pembobolan

5 Kasus Pencurian Kotak Amal, Satu Keluarga hingga Sekdes Jadi Pelaku Pembobolan

Regional
Pelaku Pembunuhan yang Ditangkap di Makassar Terlibat Kasus Penipuan

Pelaku Pembunuhan yang Ditangkap di Makassar Terlibat Kasus Penipuan

Regional
Jejak dan Bekas Cakaran Macan Tutul di Gunung Merapi Tak Lagi Terlihat sejak 2012

Jejak dan Bekas Cakaran Macan Tutul di Gunung Merapi Tak Lagi Terlihat sejak 2012

Regional
Suami Paksa Istri dan Anaknya 26 Kali Mencuri Kotak Amal di Masjid

Suami Paksa Istri dan Anaknya 26 Kali Mencuri Kotak Amal di Masjid

Regional
Gulma Tutup Sungai Mahakam di 3 Desa, Ini Penjelasan DLH Kukar

Gulma Tutup Sungai Mahakam di 3 Desa, Ini Penjelasan DLH Kukar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X