Mengenal Luki, Petani yang Sukses Budidayakan Jagung Warna-warni

Kompas.com - 27/06/2019, 09:32 WIB
Luki Lukmanulhakim, petani asal Cianjur, Jawa Barat yang terus berinovasi dalam merekayasa genetik tanaman IstimewaLuki Lukmanulhakim, petani asal Cianjur, Jawa Barat yang terus berinovasi dalam merekayasa genetik tanaman

“Jadi usaha saya sekarang selain usaha pokok menjual produk segar, juga (jualan) dalam bentuk benih. Namun masih untuk kalangan terbatas saja, tidak secara masif dikomersialkan,” ucapnya.

Meski begitu, Luki mengakui jika menjual benih atau bibit tanaman lebih memiliki nilai ekonomis dibandingkan menjual produk segar.

“Misalnya jagung warna warni ini. Kalau dijual segar paling Rp 8.000-Rp10.000 per kilogram, tetapi kalau dijual dalam bentuk benih, dari 1 kilogram segar bisa diperoleh sekitar 1000 biji benih. Kalau harga Rp100 per butirnya saja maka diperoleh Rp 100 ribu per kilogram. Tapi ini juga tergantung permintaan pasar, karena industri benih di Indonesia sudah sangat ketat persaingannya,” tuturnya.

Terapkan Konsep Biodynamic Farm

Saat mengelola lahan pertaniannya, Luki selalu menerapkan konsep biodynamic farming, yaitu kebun yang di dalamnya melibatkan aspek-aspek ekologi, nilai-nilai spiritual ,serta memerhatikan kearifan lokal seperti adat  dan kebiasaan di sekitar lokasi kebun.

Untuk ekologi, Luki menjelaskan pengolahan tanah harus arif dengan banyak menggunakan pupuk kompos atau organik sehingga tidak mudah erosi jika terkena air hujan. Selain itu dia menanam tanaman pembatas seperti jagung dan bunga yang memiliki warna mencolok.

“Kalau nilai spiritualnya, setiap masuk ke area kebun mengucapkan kata-kata positif dan penuh hikmah seperti salam. Bekerja sambil berdoa dan tidak berkata kotor serta selalu perpikiran positif. Sedangkan kaitan dengan adat dan budaya setempat, tidak boleh membuang sampah sembarangan, mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja, serta adat dan kebiasaan lainnya,” paparnya.

Baca juga: Sebelum Panen Raya, Petani di Blitar Gelar Ritual Manten Kopi

Sebelum membuka kebun di tempat sekarang ini, Luki pernah membangun kebun di beberapa tempat di Cianjur, seperti Cipanas dan Sukanagara, Bogor, Sukabumi dan dibeberapa lokasi kebun hortikultura di seputaran Jawa Barat.

Luki juga pernah diminta sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian untuk membangun kebun dengan konsep yang sama di Tuban, Gorontalo, Halmahera dan Pulau Seram.

Luki mengaku senang dan terbuka untuk sharing berbagi pengalaman dan konsep dalam mengolah lahan pertanian.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

Regional
Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Regional
'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X