6 Fakta Mantan Pemulung Sukses Bisnis Porang, Omzet Miliaran Rupiah hingga Cita-cita Umrah Satu Desa

Kompas.com - 19/06/2019, 13:12 WIB
UMBI PORANG?Paidi, warga Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun menunjukkan umbi porang yang akan diekpsor ke luar negeri. Paidi sukses mengembangkan porang hingga mengubah nasibnya pemulung menjadi milyader.KOMPAS.com/Muhlis Al Alawi UMBI PORANG?Paidi, warga Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun menunjukkan umbi porang yang akan diekpsor ke luar negeri. Paidi sukses mengembangkan porang hingga mengubah nasibnya pemulung menjadi milyader.

KOMPAS.com - Mantan pemulung asal Desa Kepel, Kecamatan Kare, Madiun, meraih sukses usai berbisnis porang.

Porang atau sejenis umbi yang dapat dijadikan bahan maanan, kosmetik, dapat mengubah kehidupan Paidi.

Paidi menjual porang hingga ke luar negeri. Kesuksesannya tak membuat dirinya jumawa. Paidi pun berbagi ilmu dan modal bagi petani di desanya untuk mengembangkan porang.


Berikut ini fakta lengkapnya:

1. Mengenal porang dari seorang teman

Bupati Madiun, Ahmad Dawami menunjukkan umbi porang yang menjadi andalan petani Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Dari bertanam porang, satu hektar warga bisa meraih Rp 110 juta.KOMPAS.com/Dokumentasi Humas Pemkab Madiun Bupati Madiun, Ahmad Dawami menunjukkan umbi porang yang menjadi andalan petani Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Dari bertanam porang, satu hektar warga bisa meraih Rp 110 juta.

Paidi menceritakan, awal muasal mengenal porang adalah saat saat bertemu dengan teman di panti asuhan di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, sepuluh tahun silam.

Saat itu, Paidi dikenalkan tanaman porang yang dibudidayakan warga setempat.

"Setelah saya cek, ternyata porang menjadi bahan makanan dan kosmetik yang dibutuhkan perusahaan besar di dunia," ungkap Paidi.

Setelah belajar, Paidi kemudian mencari berbagai informasi tentang porang di internet.

Dari pencariannya di dunia maya, Paidi menyimpulkan porang merupakan kebutuhan dunia. Melihat peluang itu, Paidi mulai memutar otak.

Baca juga: Cerita Paidi, Mantan Pemulung Beromzet Miliaran Setelah Sukses Tanam Porang

2. Banyak petani belajar menanam porang

Ribuan irisan porang dijemur di halaman rumahn Hartoyo, Rabu ( 3 / 5 / 2017) sore. Muhlis Al Alawi Ribuan irisan porang dijemur di halaman rumahn Hartoyo, Rabu ( 3 / 5 / 2017) sore.

Paidi (37) hanya dikenal sebagai sosok pemulung yang tinggal di Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.

Namun, sejak bisnis porangnya sukses, rumah Paidi berubah drastis. Dulu hanya berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah. Namun, sekarang sudah berubah total.

Tak hanya itu, pria berambut gondrong ini kini menjadi sosok yang banyak dicari kalangan petani kareana keberhasilannya membudidayakan porang.

Ia pun membagi ilmu dari cara bertanam hingga memberikan informasi harga porang dengan membuat blog dan channel YouTube yang bisa diakses siapa pun.

"Saya buat tutorial di akun infoasalan atau paidiporang," ungkap Paidi.

Baca juga: Kisah Mantan Satpam Lolos Jadi Anggota DPRD Berkat Tanaman Hidroponik

3. Temukan pola tanam baru untuk tanaman porang

Ilustrasi menanam pohon.SHUTTERSTOCK Ilustrasi menanam pohon.

Berbekal pencarian di Google, Paidi mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana mengembangkan porang di lahan pertanian terbuka.

Hasil pencarian itu lalu dikumpulkan dalam satu catatan yang dinamai sebagai revolusi tanam baru porang.

"Menanam porang rata-rata harus di bawah naungan. Di sini, menanam tanpa harus naungan. Kami menggunakan revolusi pola tanam baru," kata Paidi.

Paidi mengatakan, dengan revolusi tanam baru hasil panennya berbeda jauh dengan pola tanam konvensional yang mengandalkan di bawah naungan pohon.

"Kalau pakai pola tanam konvensional, panennya paling cepat tiga tahun. Sementara dengan pola tanam baru bisa lebih cepat panen enam bulan hingga dua tahun dan hasilnya lebih banyak lagi," ujar Paidi.

Dia mengatakan, bila menggunakan pola tanam konvensional tidak akan bisa mengejar kebutuhan dunia.

Sementara dengan revolusi pola tanam intensif, satu hektar bisa mencapai panen 70 ton.

Baca juga: Dampak Abu Vulkanik Gunung Sinabung, Tanaman di 4 Kecamatan Terancam Gagal Panen

4. Omzet bisnis porang capai tembus satu miliar

Ilustrasi ekonomi digitalSHUTTERSTOCK Ilustrasi ekonomi digital

Menurut Paidi, ilmu yang dibagikan di media sosial itu dapat menarik petani di manapun untuk mengembangkan porang.

Apalagi, porang memang tergolong mudah untuk dikembangkan dan dipasarkan. Saat ditanya tentanf omzet yang ia dapatkan dari pengembangan porang di Desa Kepel, Paidi menebut sudah mencapai miliaran rupiah.

"Sudah di atas satu miliar," kata Paidi.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Desa Kepel Sungkono bahwa banyak warganya saat ini ikut menanam porang karena terinspirasi dengan kisah sukses Paidi.

Dua tahun terakhir, hampir 85 persen warga di Desa Kepel menanam porang.

“Tahun lalu penjualan porang di desa kami tembus hingga Rp 4 miliaran. Warga yang memiliki lahan seluas satu hektar bisa meraih untung hingga Rp 110 juta,” kata Sungkono.

Baca juga: BBKSDA Musnahkan Lebih Kurang 500 Tanaman Sawit Ilegal

5. Hindari tengkulak, desa dirikan Bumdes

-kirillov alexey -

Untuk membantu petani mengembangkan porang, Desa Kepel memiliki Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang akan mengurusi porang mulai pembibitan biar bisa jual sendiri.

Tak hanya itu, bumdes juga siap memberikan pinjaman modal kepada petani yang ingin mengembangkan porang.

"Kalau petani jual sendiri, harganya bisa dimainkan tengkulak," kata Sungkono.

Untuk pengembangan porang, Bupati Madiun Ahmad Dawami yang biasa akrab disapa Kaji Mbing mengharapkan semua petani mengembangkan porang menyusul adanya investasi besar pabrik porang di Madiun.

Dengan demikian, semua petani bisa menanam porang dan bekerja sama pabrik olahan.

"Dan tidak akan terjadi petani menanam, pabrik akan membeli dengan harga yang murah," ujar Kaji Mbing.

Baca juga: Kisah Mbah Mardinem Pelestari Adrem atau Tolpit, Penganan Bernama Unik dari Yogyakarta

6. Cita-cita memberangkat warga pergi umrah

Ilustrasi hajiKementerian Agama RI Ilustrasi haji

Tak hanya ingin menularkan ilmu bertanam porang, Paidi juga menginginkan seluruh petani di desanya bisa berangkat umrah ke Tanah Suci tanpa membebani biaya apa pun.

Untuk mengumrahkan petani yang tidak mampu, Paidi memberikan bibit bubil (katak) sebanyak 30 kilogram gratis kepada petani.

Petani yang mendapatkan bantuan bibit dari Paidi harus menanam dan merawatnya hingga bisa meraih panen dalam jangka waktu dua tahun. Bila dihitung, panen porang dengan bibit bubil 30 kg bisa menghasilkan Rp 72 juta.

“Uang hasil panen itu bisa untuk memberangkatkan umrah pasangan suami istri. Tetapi kalau panen lebih dari itu, sisa uangnya kami berikan kepada petani,” ujar Paidi.

Baca juga: Ditemukan Tanaman Spesies Baru di Mandailing Natal

Sumber: KOMPAS.com (Muhlis Al Alawi)

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

[POPULER NUSANTARA] Penjelasan soal Pengepungan Asrama Mahasiswa Papua | Viral Video Ustaz Abdul Somad

[POPULER NUSANTARA] Penjelasan soal Pengepungan Asrama Mahasiswa Papua | Viral Video Ustaz Abdul Somad

Regional
Kerusuhan Timika, Polisi Tetapkan 34 Orang Tersangka

Kerusuhan Timika, Polisi Tetapkan 34 Orang Tersangka

Regional
Cerita di Balik Disabilitas Dilarang Beribadah di Masjid Raya Sumbar hingga Mengadu ke Wagup

Cerita di Balik Disabilitas Dilarang Beribadah di Masjid Raya Sumbar hingga Mengadu ke Wagup

Regional
3 Ruko Berisikan Mobil dan 'Sparepart' Hangus Terbakar

3 Ruko Berisikan Mobil dan "Sparepart" Hangus Terbakar

Regional
Yenny Wahid dan Mahasiswa Papua Kirimkan Salam Damai dari Makam Gus Dur

Yenny Wahid dan Mahasiswa Papua Kirimkan Salam Damai dari Makam Gus Dur

Regional
Jokowi Sebut Garam NTT Lebih Bagus dari Madura dan Australia

Jokowi Sebut Garam NTT Lebih Bagus dari Madura dan Australia

Regional
Pernyataan Unsur soal Mahasiswanya Jadi Tersangka Kasus 4 Polisi Terbakar

Pernyataan Unsur soal Mahasiswanya Jadi Tersangka Kasus 4 Polisi Terbakar

Regional
Buron 10 Bulan, Otak Pembunuhan Sopir Taksi 'Online' Ditembak Polisi

Buron 10 Bulan, Otak Pembunuhan Sopir Taksi "Online" Ditembak Polisi

Regional
Main Lilin di Loteng, Seorang Balita Tewas Terbakar

Main Lilin di Loteng, Seorang Balita Tewas Terbakar

Regional
Ketika Daerah Lain Ekonominya Masih Sulit, Semarang Malah Melejit

Ketika Daerah Lain Ekonominya Masih Sulit, Semarang Malah Melejit

Regional
Waspada Terhadap Jenis Kayu Bajakah yang Mengandung Racun

Waspada Terhadap Jenis Kayu Bajakah yang Mengandung Racun

Regional
Pembunuh Taruna ATKP Makassar Terima Vonis 10 Tahun Penjara

Pembunuh Taruna ATKP Makassar Terima Vonis 10 Tahun Penjara

Regional
Muntah-muntah Setelah Makan Bersama, 10 Santri Dilarikan ke Rumah Sakit

Muntah-muntah Setelah Makan Bersama, 10 Santri Dilarikan ke Rumah Sakit

Regional
28 Mantan Anggota DPRD Gunungkidul Belum Kembalikan Laptop, Alasannya Sibuk

28 Mantan Anggota DPRD Gunungkidul Belum Kembalikan Laptop, Alasannya Sibuk

Regional
 Jokowi Telepon, Ini Pesan untuk Gubernur Papua Barat Pasca-Kerusuhan Manokwari hingga Timika

Jokowi Telepon, Ini Pesan untuk Gubernur Papua Barat Pasca-Kerusuhan Manokwari hingga Timika

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X