Geng Siswi SMA Pengeroyok Siswi SMP Tolak Syarat Diversi

Kompas.com - 25/05/2019, 08:52 WIB
Erik Mahendra, salah satu kuasa hukum AD (14), siswi SMP korban pengeroyokan geng siswi SMA di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. IstimewaErik Mahendra, salah satu kuasa hukum AD (14), siswi SMP korban pengeroyokan geng siswi SMA di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.


PONTIANAK, KOMPAS.com - Rencana penandatanganan kesepakatan diversi kasus pengeroyokan siswi SMP berinisial AD (14), oleh geng siswi SMA di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, gagal.

Sedianya, penandatanganan kesepakatan yang digelar di Pengadilan Negeri Pontianak, Kamis (23/6/2019) tesebut, merupakan hasil capaian upaya hukum diversi di tingkat kejaksaan pada Selasa (14/5/2019) silam.

Satu di antara tim kuasa hukum AD, Erik Mahendra mengatakan, batalnya penandatanganan itu lantaran ketiga pihak pelaku menolak poin-poin kesepakatan yang telah dicapai saat diversi terakhir di kejaksaan.

Baca juga: Diversi Kasus Pengeroyokan Siswi SMP di Pontianak Capai Kesepakatan

Bahkan, upaya diversi lanjutan yang ditawarkan pihak pengadilan, pada 14 Juni 2019 mendatang juga ditolak.

Menurut dia, ada sejumlah poin kesepakatan yang dibuat antara pihak korban dan tersangka saat itu. Yakni pihak keluarga tersangka akan melakukan silaturahim kepada pihak orangtua korban disertai mengganti biaya ganti rugi.

Kemudian, ada permintaan maaf pihak dari keluarga tersangka melalui media massa selama tiga hari berturut-turut. Terakhir, pihak tersangka harus menjalani sanksi pelayanan sosial selama tiga bulan di Lapas Pontianak. 

"Sejatinya, kesepakatan itu akan dituangkan dalam sebuah berita acara yang ditanda tangani Kamis (23/5) di Pengadilan Negeri Pontianak. Namun, ternyata ditolak," kata Erik, Sabtu (25/5/2019).

Menurut Erik, di samping sesuai dengan peraturan undang-undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), poin-poin kesepakatan tersebut juga telah disanggupi oleh pihak tersangka.

Misalnya, menyoal ganti rugi, jangan dipandang hanya dari segi material tapi sebagai bentuk nyata sebuah itikad baik.

"Ganti rugi inikan hal yang lumrah dilakukan dalam konteks kehidupan sosial. Dan itu pertanda ada itikad baik" ucapnya.

Kemudian terkait permintaan maaf di media sosial, hal ini penting, karena kasus ini pernah viral di berbagai platform media yang mengakibatkan psikologis korban terganggu.

Baca juga: Pengacara: Siswi SMP Korban Pengeroyokan Masih Menjalani Rehabilitasi Psikologis

"Kejadian ini murni penganiayaan, kalau ingin diselesaikan, sudah benar lewat jalur silahturahim dan meminta maaf lewat media supaya masyarakat tahu bahwa masalah ini sudah selesai," ujar dia.

Kendati demikian, Erik tidak mempersoalkan penolakan kesepakatan tersebut. Saat ini, pihaknya hanya ingin memastikan penanganan kasus tersebut sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, kuasa hukum ketiga pelaku, Deni Amirudin belum menjawab konfirmasi Kompas.com terkait alasan batalnya penandatanganan kesepakatan diversi tesebut.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Klaster Baru Penularan Corona di Kota Kupang Muncul dari Karyawan Bank

Klaster Baru Penularan Corona di Kota Kupang Muncul dari Karyawan Bank

Regional
Dipecat PDI-P, Anak Bupati Semarang: Saya Manut Bapak

Dipecat PDI-P, Anak Bupati Semarang: Saya Manut Bapak

Regional
10 Orang di Sekretariat DPRD Maluku Positif Corona

10 Orang di Sekretariat DPRD Maluku Positif Corona

Regional
Pegawai Bappeda Meninggal karena Covid-19, Gedung Pemkab Bojonegoro Disterilkan

Pegawai Bappeda Meninggal karena Covid-19, Gedung Pemkab Bojonegoro Disterilkan

Regional
Bawaslu Jateng Bentuk 44.077 Pengawas TPS Pilkada 2020

Bawaslu Jateng Bentuk 44.077 Pengawas TPS Pilkada 2020

Regional
Kesadaran Masyarakat Rendah, Bupati Tuban Perpanjang Pemberlakuan Jam Malam

Kesadaran Masyarakat Rendah, Bupati Tuban Perpanjang Pemberlakuan Jam Malam

Regional
Positif Covid-19, Tenaga Medis RSUD dr R Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro Meninggal

Positif Covid-19, Tenaga Medis RSUD dr R Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro Meninggal

Regional
Ganjar Usul Peserta Pilkada 2020 Berkampanye Lewat Media Massa

Ganjar Usul Peserta Pilkada 2020 Berkampanye Lewat Media Massa

Regional
Hujan dari Sore hingga Malam, 5 Kecamatan di Padang Dilanda Banjir

Hujan dari Sore hingga Malam, 5 Kecamatan di Padang Dilanda Banjir

Regional
Kereta Api Serayu Pagi Anjlok di Ciamis, Penumpang Dievakuasi

Kereta Api Serayu Pagi Anjlok di Ciamis, Penumpang Dievakuasi

Regional
'Saya Tak Kuat Lagi Jadi Bawahan Kapolres Blitar, Saya Mengajukan Pensiun Dini...'

"Saya Tak Kuat Lagi Jadi Bawahan Kapolres Blitar, Saya Mengajukan Pensiun Dini..."

Regional
Jokowi: Labuan Bajo Harus Betul-betul Menjadi Kawasan Premium

Jokowi: Labuan Bajo Harus Betul-betul Menjadi Kawasan Premium

Regional
Geledah Rumah di Kudus, Densus 88 Amankan Buku hingga Laptop

Geledah Rumah di Kudus, Densus 88 Amankan Buku hingga Laptop

Regional
Lihat Istri Tewas Terlilit Tali Sapi yang Digembalakannya, Suami Pingsan

Lihat Istri Tewas Terlilit Tali Sapi yang Digembalakannya, Suami Pingsan

Regional
Seorang Pegawai BPN NTT Meninggal karena Corona, 10 Orang Keluarga dan Teman Positif Covid-19

Seorang Pegawai BPN NTT Meninggal karena Corona, 10 Orang Keluarga dan Teman Positif Covid-19

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X