Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pasutri Ini Bangun Bisnis Busana Muslim Anak dari Nol, Kini Beromzet Ratusan Juta

Kompas.com - 06/05/2019, 08:37 WIB
Aprillia Ika

Editor

Asad belum berencana membuka konveksi sendiri. Ia masih ingin fokus di produk, desain, dan penjualan. “Kalau main produksi juga, maka akan memikirkan SDM (sumber daya manusia) yang banyak dan mesin. Sedang saya masih pengusaha baru,” jelasnya.

Menambah produk atas saran distributor

Yang menarik, kebanyakan pelanggan Bunayya bukan dari Bandung dan sekitarnya, juga bukan dari wilayah lain di pulau Jawa. Order banyak datang dari Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Untuk itu, Asad membuka kemitraan distributor, agen dan reseller yang sekarang jumlahnya 120 orang.

Nah, berangkat dari permintaan salah satu agennya di Kalimantan, dia menambah produk seragam muslim keluarga, sarimbit dalam bahasa Jawa. Menjelang Lebaran 2016, ia merilis produk tersebut.

“Agen itu tidak hanya kasih ide, tapi juga beli partai besar untuk konsumen dan keluarga besarnya,” kata Asad terharu.

Dan, Hari Raya Idul Fitri selalu jadi puncak permintaan. Di tahun awal berbisnis, Asad bisa mengantongi omzet Rp 50 juta selama Lebaran. Angkanya melonjak menjadi Rp 300 juta pada tahun kedua.

Baca juga: Gugat Bank Jateng, Pasutri Ini Justru Diputus Hakim Bayar Rp 5,4 M

Cuma, masalah sempat timbul pada Lebaran 2017. Konveksi milik mitra tidak siap menerima banyak order sekaligus.

Alhasil, banyak konsumen kecewa karena enggak mendapat produk pesanannya. “Saya waktu itu jadi bingung, ini nikmat atau tantangan,” sebut Asad.

Belajar dari pengalaman itu, Asad mengubah sistem order, satu bulan sebelum Lebaran tidak menerima pesanan lagi. Lalu, tujuh bulan sebelum hari raya, dia sudah menyiapkan semua bahan dan menetapkan lokasi produksinya.

Asad juga membangun sistem distribusi baru. Dia menunjuk satu distributor untuk memegang satu kota. Mereka langsung belanja partai besar ke Bunayya, dengan mendapat diskon 35 persen. “Di tahun ketiga, saat Lebaran, omzet sampai Rp 800 juta,” ungkap dia.

Bangun jaringan online dan offline

Di tahun ketiga pula, dia membuka toko fisik. Tapi, gerai offline ini milik mitra. Saat ini, ada empat gerai yang tersebar di Kota Pekanbaru, Jakarta, Bandung, dan Makassar.

Dia juga memiliki akun online dengan jumlah karyawan yang terus bertambah. Bermula dari tiga karyawan yang bekerja mengurus akun Bunayaa di Facebook dan Instagram serta pengemasan barang, sekarang jumlah pekerjanya ada 13 orang.

“Kami juga berencana menambah area store (toko), distributor, agen, dan reseller,” imbuh Asad.

Dia juga akan memperbanyak retailer yang merupakan rantai baru distribusi Bunayya dan ada di bawah reseller. “Kami dorong sebanyak-banyaknya agar setiap RW bahkan RT bisa ada satu retailer Bunayya,” kata Asad.

Baca juga: Kisah Pasutri Jadi Caleg Beda Dukungan Capres, Klaim Kecempret hingga Usung Koalisi Cinta Indonesia

Rencana lain, dia ingin menambah produk kaos dan tas anak. Asad juga ingin dekat sama konsumen secara langsung dengan ikut berbagai pameran.

Dan sejatinya, Asad sempat menerima order dalam jumlah besar di luar produk Bunayya sesuai keinginan pelanggan. Dia pernah mengerjakan pesanan jaket senilai Rp 150 juta.

“Sekarang fokus ke Bunayya, karena capek juga mengurus dua bisnis sekaligus,” ujar Asad. (Merlinda Riska)

Artikel ini sudah tayang di Kontan dengan judul "Sukses bisnis fesyen muslim keluarga dalam sekejap"

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com