5 Fakta Luncuran Lava Pijar Merapi, 3 Desa Terkena Hujan Abu hingga Munculnya "Wedhus Gembel"

Kompas.com - 31/01/2019, 14:00 WIB
Puncak Gunung Merapi terlihat dari Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (22/5). Pasca letutsan freatik Gunung Merapi yang telah terjadi empat kali sejak Senin (21/5) hingga Selasa (22/5) dini hari, status Gunung Merapi naik dari Normal (level I) menjadi Waspada (level II). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/ama/18. Aloysius Jarot NugrohoPuncak Gunung Merapi terlihat dari Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (22/5). Pasca letutsan freatik Gunung Merapi yang telah terjadi empat kali sejak Senin (21/5) hingga Selasa (22/5) dini hari, status Gunung Merapi naik dari Normal (level I) menjadi Waspada (level II). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/ama/18.

KOMPAS.com - Berdasarkan pantauan dari closed-circuit television (CCTV) di Pos Pengamatan Merapi di Kaliurang, Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar pada hari Selasa (29/1/2019) pukul 20.17 WIB.

Sementara itu, menurut keterangan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali Bambang Sinungharjo, tiga desa di Boyolali terjadi hujan abu.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi ( BPPTKG) dalam laman resminya, @BPPTKG , mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Status Gunung Merapi masih level waspada.

Berikut ini fakta di balik erupsi Gunung Merapi pada hari Selasa (29/1/2019):

1. Tiga desa di Boyolali terkena hujan abu

Pengendara melintas di jalur Boyolali-Magelang berlatar belakang letusan freatik Gunung Merapi di Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (11/5). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terjadi letusan freatik Gunung Merapi disertai suara gemuruh dengan tekanan sedang hingga kuat dan tinggi kolom 5.500 meter dari puncak kawah pada pukul 07.32 WIB. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho Pengendara melintas di jalur Boyolali-Magelang berlatar belakang letusan freatik Gunung Merapi di Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (11/5). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terjadi letusan freatik Gunung Merapi disertai suara gemuruh dengan tekanan sedang hingga kuat dan tinggi kolom 5.500 meter dari puncak kawah pada pukul 07.32 WIB.

Sedikitnya tiga desa di Kabupaten Boyolali, yaitu Desa Mriyan, Desa Cluntang, dan Desa Ringin Larik, terjadi hujan abu.

Ketiga desa tersebut terletak di wilayah Kecamatan Musuk, Boyolali. Menurut Bambang Sinungharjo, Kepala BPBD Boyolali, hujan abu tidak terlalu tebal dan aktivitas warga masih berjalan normal.

"Kita lihat masih aman dan terkendali karena hujan abu hanya tipis," terang Bambang dikonfirmasi, Selasa malam.

Baca Juga: Gunung Merapi Keluarkan Lava Pijar, 3 Desa di Boyolali Hujan Abu

2. Dua desa di Klaten sempat terkena hujan abu

Abu letusan freatik gunung Merapi menutup motor yang terparkir di kantor BPPTKG Yogyakarta.KOMPAS.com/Wijaya Kusuma Abu letusan freatik gunung Merapi menutup motor yang terparkir di kantor BPPTKG Yogyakarta.

Hujan abu juga sempat terjadi di dua desa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada hari Jumat (4/1/2019) malam.

Dua desa itu adalah Desa Tegalmulyo dan Tlogowoatu, Kecamatan Kemalang. Hujan abu terjadi setelah Gunung Merapi mengeluarkan guguran lava pijar sekitar pukul 21.01 WIB ke arah Kali Gendol Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Bambang Giyanto mengatakan, hujan abu terjadi sekitar pukul 21.30 WIB dan berlangsung selama 20 menit. Namun, tidak sampai mengganggu jarak pandang karena hanya tipis.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

445 Seniman Meriahkan Festival Asmat Pokman

445 Seniman Meriahkan Festival Asmat Pokman

Regional
Dua Warga Karawang Diduga Meninggal karena DBD

Dua Warga Karawang Diduga Meninggal karena DBD

Regional
Kasus Nenek Palsu di Surabaya Berujung Vonis 2 Tahun Penjara

Kasus Nenek Palsu di Surabaya Berujung Vonis 2 Tahun Penjara

Regional
Bawa Paksa Jenazah Bayi, Driver Ojek Online Minta Maaf secara Tertulis ke RSUP M Djamil Padang

Bawa Paksa Jenazah Bayi, Driver Ojek Online Minta Maaf secara Tertulis ke RSUP M Djamil Padang

Regional
Nonton Bareng Video Porno Meresahkan Warga, Ini Tindakan Pemkab Magetan

Nonton Bareng Video Porno Meresahkan Warga, Ini Tindakan Pemkab Magetan

Regional
Warga Jabar, Nantikan Keseruan Jabar Otofest 2019 Akhir Pekan Nanti

Warga Jabar, Nantikan Keseruan Jabar Otofest 2019 Akhir Pekan Nanti

Regional
Di Baubau, Utusan Kerajaan Korea hingga Thailand Dijamu 1.000 Talang Kuliner, Dihibur 700 Penari Kolosal

Di Baubau, Utusan Kerajaan Korea hingga Thailand Dijamu 1.000 Talang Kuliner, Dihibur 700 Penari Kolosal

Regional
Soal Bali Tak Layak Dikunjungi Tahun 2020, Ini Respons Wishnutama

Soal Bali Tak Layak Dikunjungi Tahun 2020, Ini Respons Wishnutama

Regional
Pemkab Agam Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir dan Longsor

Pemkab Agam Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir dan Longsor

Regional
Kisah Samiyati, Guru Honorer di Ende, 11 Bulan Mengajar Tanpa Digaji

Kisah Samiyati, Guru Honorer di Ende, 11 Bulan Mengajar Tanpa Digaji

Regional
Di Bali, Menteri Wishnutama Bicara Pentingnya Wisatawan Berkualitas

Di Bali, Menteri Wishnutama Bicara Pentingnya Wisatawan Berkualitas

Regional
Data Terbaru, Virus Hog Cholera Menyebar ke 16 Kabupaten, 10.298 Babi Mati di Sumut

Data Terbaru, Virus Hog Cholera Menyebar ke 16 Kabupaten, 10.298 Babi Mati di Sumut

Regional
Lagi, Jateng Dinobatkan Sebagai Provinsi Informatif

Lagi, Jateng Dinobatkan Sebagai Provinsi Informatif

Regional
Masih Ingat Balapan Tradisional Kadaplak? Permainan Ekstrem Ini Kembali Dihidupkan Generasi Milenial

Masih Ingat Balapan Tradisional Kadaplak? Permainan Ekstrem Ini Kembali Dihidupkan Generasi Milenial

Regional
Pembangunan Jalan Bua-Rantepoa Telan Biaya Rp 200 Miliar

Pembangunan Jalan Bua-Rantepoa Telan Biaya Rp 200 Miliar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X