Rumah Baru bagi Pasutri Lansia yang Anaknya "Down Syndrome" Mulai Dibangun...

Kompas.com - 16/10/2018, 06:30 WIB
Peletakan batu pertama pembangunan rumah Hernowo dan Kamilah berlangsung  Senin (15/10/2018) sore. Ketua RT 85 Dukuh Anjir Sukardi Hadi Purnomo, kontraktor pembangunan rumah Deddy Suherlan, dan Bambang dari Kompas.com meletakkan batu pertama menandai pembangunan rumah.KOMPAS.com/DANI J Peletakan batu pertama pembangunan rumah Hernowo dan Kamilah berlangsung Senin (15/10/2018) sore. Ketua RT 85 Dukuh Anjir Sukardi Hadi Purnomo, kontraktor pembangunan rumah Deddy Suherlan, dan Bambang dari Kompas.com meletakkan batu pertama menandai pembangunan rumah.

KULON PROGO, KOMPAS.com - Penantian memiliki tempat tinggal baru bagi pasangan suami istri Hernowo (60 tahun) dan Kamila (61), beserta Wahyu Heri Setiawan (13), anak mereka, tak lama lagi akan berakhir.

Pasutri lanjut usia ini segera memiliki rumah baru hasil donasi para pembaca Kompas.com yang terkumpul lewat Kitabisa.com.

Pembangunan rumah ini menggandeng seorang pengembang asal Jakarta. “Kami menargetkan tanggal 16 Desember 2018 sudah selesai,” kata Deddy Suherlan, pihak kontraktor pembangunan rumah,Senin (15/10/2018).

Hernowo, Kamilah, dan Wahyu bakal menikmati rumah seluas 45 meter persegi nanti. Rumah itu memanfaatkan tanah seluas 150 m2 dari tanah Hernowo yang seluas 2500 m2. Rumah baru itu  nanti terletak di seberang rumah Hernowo yang pertama.

"Mudah-mudahan semua lancar dan tidak ada penghalang," kata Dedy.

Baca juga: Cita-cita Pasangan Lansia yang Anaknya Down Syndrome dengan Rumah Barunya

Rumah mengusung konsep rumah tinggal sederhana dan bisa mengakomodir seluruh kegiatan kehidupan sehari-hari penghuninya.

Rumah terbangun seperti hurut T, terdiri 2 kamar tidur, 1 ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Rumah dilengkapi dengan 1 kamar mandi dengan pintu menghadap ke luar.

Selain itu, rumah nanti memiliki dapur luar. Dapur luar ini dibikin lantaran para lansia ini lebih terbiasa dengan pembakaran kayu ketimbang kompor gas dan sejenisnya. “Karena kebiasaan mereka masih menggunakan tungku,” kata Deddy.

Dinding rumah dari dari batako, diplester dan dicat. Atap menggunakan baja ringan lantas ditutup genteng metal.

Lantai rumah bakal keramik dan rumah juga akan memiliki plafon. Pondasi bangunan berupa batu kali. Sedangkan tulangan rumah dengan perkuatan besi beton.

Baca juga: Pasangan Lansia yang Anaknya Down Syndrome Akan Dapat Rumah Baru

 

“Proyek pembangunan rumah ini senilai Rp 120 juta,” kata Deddy. “Dengan kelebihan rumah sudah mengakomodir konstruksi tahan gempa,” lanjutnya.

Deddy mengatakan, selama pembangunan berlangsung pihaknya akan melibatkan 8 orang yang untuk saat ini didatangkan dari luar Kulon Progo.

Deddy mengungkap, ia sudah mencoba untuk mendapatkan pekerja lokal sekitar Hargorejo namun hasil nihil.

Tukang dan buruh tersita ke program pembangunan bedah rumah yang sedang digalakkan pemerintah Kulon Progo belakangan ini.

Peletakan batu pertama menandai pembangunan ini. Sebelum peletakan batu, warga menggelar pengajian di tapak tanah pembangunan rumah.

Baca juga: Hidup Suami Istri Lansia dan Anaknya yang Down Syndrome Berubah, Banjir Tamu hingga Sering Shooting

Ketua RT 85, Sukardi Hadi Purnomo mengatakan, pengajian menjadi kebiasaan warga sebelum melaksanakan apapun, termasuk pembangunan sepert ini. Mereka sekaligus memohon restu demi kelancaran pembangunan hingga selesainya.

"Mohon keselamatan pada Tuhan bahwa hajatan ini diridhoi semua bisa berjalan lancar dan terwujud seperti harapan," kata Sukardi.

Kamilah mengaku menanti cukup lama rencana pembangunan rumah baru itu. Ia bersyukur kini pembangunan dimulai. “Rasanya senang. Terima kasih sudah dibangun,” kata Kamilah.

Mengantar anak

Hernowo dan Kamilah sejatinya mengundang simpati para pembaca Kompas.com. Sepasang lansia ini tidak pernah absen mengantar anak mereka, Wahyu, menggunakan sepeda ontel ke Sekolah Luar Biasa Negeri 1 di Desa Gotakan di Kecamatan Panjatan. Jarak rumah hingga SLB sekitar 10 kilometer.

Keduanya mengantar Wahyu lantaran ia menyandang disabilitas tuna grahita atau downsyndrome sejak lahir. Hernowo dan Kamilah boncengan dengan sepeda butut ketika mengantar Wahyu. Dan ini berlangsung setiap hari.

Semangat mereka membangkitkan belas kasih pembaca Kompas.com dan banyak dermawan
di negeri ini. Mereka menggalang dana melalui Kitabisa.com untuk memberi sumbangan bagi keluarga ini.

Para donatur mengharapkan uang itu bisa dipakai untuk membangun rumah, membelikan kendaraan roda dua, atau pemberdayaan Hernowo sekeluarga.

Penggalangan dana hanya berlangsung 4 dari 15 hari yang dijadwalkan. Awal April 2018, penggalangan dana ditutup. Sekalipun hanya sebentar, dana yang terkumpul sejumlah Rp 210 juta.

 



Close Ads X