5 Fakta Terbaru Gempa Lombok, Wabah Malaria hingga Golkar Pecat Kadernya

Kompas.com - 18/09/2018, 19:18 WIB
Salah satu tenda pengungsian korban gempa di Gunung Sari, Lombok. Foto diambil pada Senin (20/8/2018).  KOMPAS.com/JESSI CARINA Salah satu tenda pengungsian korban gempa di Gunung Sari, Lombok. Foto diambil pada Senin (20/8/2018).

KOMPAS.com - Setidaknya 137 pengungsi di Lombok terjangkit malaria, petugas kesehatan segera melakukan tes darah dan membagikan kelambu berinsektisida.

Selain itu, anggota TNI mendaki Gunung Rinjani untuk memastikan kondisi jalur pendakian pasca gempa. Meski aman, pendakian ke Gunung Rinjani masih tertutup. 

Berikut fakta terbaru terkait kondisi bencana gempa di Lombok, NTB.

1. Malaria mengancam pengungsi di Lombok

Pasien korban gempa bumi dirawat di halaman RSUD Lombok Utara, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Selasa (7/8/2018). Berdasarkan data BNPB mencatat sedikitnya 105 korban meninggal dunia dan 236 korban mengalami luka luka akibat bencana gempa bumi yang terjadi Minggu (5/8/2018) dan kemungkinan masih akan bertambah.TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN Pasien korban gempa bumi dirawat di halaman RSUD Lombok Utara, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Selasa (7/8/2018). Berdasarkan data BNPB mencatat sedikitnya 105 korban meninggal dunia dan 236 korban mengalami luka luka akibat bencana gempa bumi yang terjadi Minggu (5/8/2018) dan kemungkinan masih akan bertambah.

Berdasar keterangan Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat, Rachman Sahnan Putra, hingga Minggu (16/9/2018), sudah tercatat 137 warga yang dinyatakan positif malaria.

137 warga tersebut tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Lombok Barat, Batu Layar, dan Lingsar.

Menurut Rachman, data tersebut akan terus diperbarui dari laporan tim yang ada di lapangan saat melakukan tes darah atau Mes Blood Service.

“Kita juga meminta bantuan tenaga dari puskesamas lain seperti Puskesmas Kuripan, mengingat harus 750 orang warga di wilayah Batu Layar yang harus menjalani tes darah atau MBS, itu harus terpenuhi karena ada yang positif di wilayah tersebut,” kata Rismayadi, Kepala Puskesmas Meninting, Rismayadi, kepada Kompas.com, Minggu.

Baca Juga: Percepat Pemulihan NTB Pasca Gempa, Puan Gelar Rapat Tingkat Menteri

2. Penjelasan Menteri Kesehatan terkait penyebaran Malaria di Lombok

Warga pengungsi gempa Lombok memasang kelambu agar terhindar dari gigitan nyamuk malariaKompas.com/fitri Warga pengungsi gempa Lombok memasang kelambu agar terhindar dari gigitan nyamuk malaria

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, upaya pencegahan penyebaran Malaria sudah dilakukan.

Namun, Nila mengakui, pasca gempa, daerah bencana di Lombok sangat ideal untuk berkembangnya malaria.

"Jadi memang betul malaria di Lombok itu masih endemis. Ada yang sudah eliminasi, kemudian ada beberapa kabupaten endemik sedang, ada yang agak tinggi," katanya kepada wartawan di Kuta, Bali, dikutip dari Antara, Selasa (18/9/2018).

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X