Jokowi Diminta Buat Aturan Baru Protokoler Upacara HUT RI di Daerah

Kompas.com - 20/08/2018, 09:10 WIB
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) mengikuti Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (17/8/2018). Peringatan HUT RI tahun ini mengangkat tema Kerja Kita Prestasi Bangsa, ditandai dengan upacara penaikan dan penurunan bendera merah putih serta penampilan sejumlah pertunjukan seni dan budaya dari penjuru Indonesia. ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK APresiden Joko Widodo (kedua kiri) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) mengikuti Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (17/8/2018). Peringatan HUT RI tahun ini mengangkat tema Kerja Kita Prestasi Bangsa, ditandai dengan upacara penaikan dan penurunan bendera merah putih serta penampilan sejumlah pertunjukan seni dan budaya dari penjuru Indonesia.

KOMPAS.com - Budayawan Jawa Barat, Dedi Mulyadi meminta Presiden Jokowi membuat aturan baru tentang protokoler upacara bendera dalam memperingati proklamasi kemerdekaan RI yang digelar setiap 17 Agustus.

Aturan protokoler yang diubah adalah untuk di daerah dengan mengedepankan kearifan lokal.

Dedi mengatakan, saat ini terjadi perbedaan antara pengelolan tata kelola upacara di Istana Negara (pusat) dengan daerah.

Di Istana, kata Dedi, Presiden Jokowi bisa berinisiatif sendiri mengembangkan aspek-aspek tradisionalisme masuk ke tata upacara, seperti seragam adat kepala negara dan pakaian adat peserta upacara. Lalu inspektur upacara dan pasukan dibuatkan aksesoris tentara kerajaan, masuknya kereta kencana untuk membawa bendera ke areal istana.

"Pikiran itu dari dulu ingin saya kembangkan, tapi daerah terhambat oleh tata protokoler istana yang diatur sekretariat negara," kata mantan bupati Purwakarta dua periode kepada Kompas.com, Senin (20/8/2018).

"Untuk itu, untuk peringatan proklamasi ke depan, segera menteri sekretaris negara membuat aturan baru tentang protokler acara kenegaraan di kota dan kabupaten serta provinsi, sehingga daerah-daerah bisa mengembangkan tata kelola protokoler upacara bendera agustusan dengan membangun kearifan-kearifan budaya," lanjut Dedi.

Dedi menjelaskan, saat ini, dalam acara kenegaraan, misalnya, tata upacara bendera HUT RI, antara di pemerintah pusat dan daerah menjadi berbeda. Pemerintah pusat sudah mengembangkan aspek keindonesiaan dalam tata kelola upacara yang mengembangkan pluralisme dan kebinekaan.

"Namun daerah tidak bisa karena terikat protokoler yang diatur menteri sekretaris negara. Jadi harus disamakan antara pusat dan daerah," katanya.

Baca juga: Mengapa Jokowi Pilih Pakaian Adat Aceh saat Upacara di Istana?

Dedi mencontohkan, upacara agustusan, kepala daerah, anggota DPRD dan seluruh pejabat eselon di kota dan kabupaten harus berpakaian resmi seperti jas dan berdasi. Sedangkan di jakarta, Presiden Jokowi sudah bisa mengenakan baju tradisional.

"Sedangkan baju tradisional yang dipakai pejabat hanya digunakan pada hari jadi. Ini harus segera diubah," tandasnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hampir Sepekan, Gunungkidul Catatkan Nol Kasus Baru Corona

Hampir Sepekan, Gunungkidul Catatkan Nol Kasus Baru Corona

Regional
Pasien Covid-19 Tertua di Indonesia Sembuh, Kuncinya Disiplin

Pasien Covid-19 Tertua di Indonesia Sembuh, Kuncinya Disiplin

Regional
Nenek Berusia 100 Tahun Asal Surabaya Sembuh dari Covid-19, Bagaimana Bisa?

Nenek Berusia 100 Tahun Asal Surabaya Sembuh dari Covid-19, Bagaimana Bisa?

Regional
Kisruh Bantuan Mobil PCR, Saling Klaim dan Amukan Risma, Ini Akhir Ceritanya

Kisruh Bantuan Mobil PCR, Saling Klaim dan Amukan Risma, Ini Akhir Ceritanya

Regional
[POPULER NUSANTARA] Wali Kota Risma Tersulut Emosi | Kerangka Diduga Berusia Ratusan Tahun

[POPULER NUSANTARA] Wali Kota Risma Tersulut Emosi | Kerangka Diduga Berusia Ratusan Tahun

Regional
Saat Dosen Unpad Masuk Data Penerima Dana Bansos Rp 600 Ribu Per Bulan: Bingung Bantuan Apa Ini?

Saat Dosen Unpad Masuk Data Penerima Dana Bansos Rp 600 Ribu Per Bulan: Bingung Bantuan Apa Ini?

Regional
Polisi Pukul Pakai Rotan Warga Tak Bermasker, Tetap Diproses Hukum Meski Ada Masyarakat yang Mendukung

Polisi Pukul Pakai Rotan Warga Tak Bermasker, Tetap Diproses Hukum Meski Ada Masyarakat yang Mendukung

Regional
Detik-detik Satpam Tewas Dibunuh Maling, Berawal Saat Pergoki Pencurian Kelapa Sawit

Detik-detik Satpam Tewas Dibunuh Maling, Berawal Saat Pergoki Pencurian Kelapa Sawit

Regional
Jejak Kasus Pecatan TNI Ruslan Buton, Tuntut Jokowi Mundur hingga Terlibat Kasus Pembunuhan La Gode

Jejak Kasus Pecatan TNI Ruslan Buton, Tuntut Jokowi Mundur hingga Terlibat Kasus Pembunuhan La Gode

Regional
Kabur dari Rutan Polsek Malili, Satu Tahanan Titipan Kejari Luwu Timur Ditembak

Kabur dari Rutan Polsek Malili, Satu Tahanan Titipan Kejari Luwu Timur Ditembak

Regional
Tentang New Normal di DIY, Sri Sultan: Jangan tergesa-gesa

Tentang New Normal di DIY, Sri Sultan: Jangan tergesa-gesa

Regional
Kota Bandung Kini Terapkan PSBB Proporsional

Kota Bandung Kini Terapkan PSBB Proporsional

Regional
7 Pohon Tumbang Diterjang Angin Puting Beliung di Sukabumi, 1 Mobil dan Puluhan Rumah Rusak

7 Pohon Tumbang Diterjang Angin Puting Beliung di Sukabumi, 1 Mobil dan Puluhan Rumah Rusak

Regional
Pekan Depan, Keluar Masuk NTB Wajib Bawa Surat Bebas Corona

Pekan Depan, Keluar Masuk NTB Wajib Bawa Surat Bebas Corona

Regional
Sabtu, 2 Unit Mobil PCR Dijadwalkan Siaga di Surabaya, Ini Lokasinya

Sabtu, 2 Unit Mobil PCR Dijadwalkan Siaga di Surabaya, Ini Lokasinya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X