Kapolri Sebut Bom Surabaya Aksi Balasan karena Pimpinan JAD Ditangkap - Kompas.com

Kapolri Sebut Bom Surabaya Aksi Balasan karena Pimpinan JAD Ditangkap

Kompas.com - 14/05/2018, 12:58 WIB
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) memberi keterangan pada wartawan usai meninjau rutan cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua pasca kerusuhan di Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5). Kapolri meninjau Mako Brimob pasca insiden antara narapidana teroris dengan petugas yang mengakibatkan lima anggota Polri dan seroang teroris meninggal dunia. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc/18.Indrianto Eko Suwarso Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) memberi keterangan pada wartawan usai meninjau rutan cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua pasca kerusuhan di Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5). Kapolri meninjau Mako Brimob pasca insiden antara narapidana teroris dengan petugas yang mengakibatkan lima anggota Polri dan seroang teroris meninggal dunia. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc/18.

SURABAYA, KOMPAS.com - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan, bom Surabaya tidak hanya terkait aksi teror ISIS tingkat global, tapi juga pembalasan atas peristiwa yang terjadi di tingkat nasional.

Menurut Tito, aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo ini merupakan balasan atas penangkapan pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid dan Jamaah Ansharut Daulah, kelompok yang terafiliasi ISIS di Indonesia, yaitu Aman Abdurrahman.

"Saya sampaikan, diduga pembalasan kelompok JAD karena pimpinannya, Aman Abdurrahman pada Agustus lalu tak dibebaskan," kata Tito Karnavian di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Senin (14/5/2018).

Tito menjelaskan, Aman Abdurrahman sedianya bebas pada Agustus 2017 silam. Saat itu, Aman telah menjalani hukuman atas dakwaan menggelar pelatihan teror di Aceh sejak 2009.

Baca juga: Polri Sebut Tuntutan Napi Teroris Mulanya Sepele, Lalu Ingin Bertemu Aman Abdurrahman

Namun, Aman Abdurrahman kemudian ditahan kembali atas tuduhan terlibat pendanaan aksi teror di Jalan MH Thamrin, Jakarta yang terjadi pada awal 2016.

"Divonis, seharusnya keluar Agustus (2017), tapi ditangkap kembali," ucap Tito.

Setelah itu, kepemimpinan diserahkan dari Aman ke pimpinan JAD Jatim bernama Zainal Anshori. Akan tetapi, tak lama setelah kepemimpinan diserahkan, polisi menangkap Zainal.

"Yang bersangkutan (Zainal) kemudian ditangkap lagi, lima-enam bulan lalu, dalam kaitan pendanaan untuk memasukkan senjata api dari Filipina selatan ke Indonesia," kata Tito.

Menurut Tito, dua penangkapan itu membuat kelompok JAT dan JAD meradang. Aksi teror pun direncanakan, termasuk kerusuhan di Mako Brimob yang dilakukan narapidana teroris pekan lalu, juga teror bom di Surabaya dan Sidoarjo.

"Mereka memanas dan ingin melakukan pembalasan. Jadi kerusuhan Mako Brimob tak sekadar makanan yang tak boleh masuk, tapi dinamika internasional dan uoaya kekerasan untuk pembalasan," kata Tito.

Baca juga: Kapolri: Jenis Bom di 3 Gereja Surabaya Sama-sama Bom Pipa


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Close Ads X