Kepala Rudenim: Banyak Pengungsi Selingkuhi Istri Warga Makassar

Kompas.com - 26/02/2018, 12:14 WIB
Kepala Rudenim Makassar, Boedi Prayitno seusai memberikan penghargaan kepada personelnya yang berhasil mengungkap kasus atau pelanggaran yang dilakukan pengungsi, Senin (26/2/2018). KOMPAS.com/Hendra CiptoKepala Rudenim Makassar, Boedi Prayitno seusai memberikan penghargaan kepada personelnya yang berhasil mengungkap kasus atau pelanggaran yang dilakukan pengungsi, Senin (26/2/2018).

MAKASSAR, KOMPAS.com — Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Makassar Boedi Prayitno mengungkapkan, banyak pengungsi dari negara konflik, seperti Afghanistan, Myanmar, Somalia, Sudan, Pakistan, Iran, Irak, Mesir, dan Sri Lanka berselingkuh dengan istri warga Makassar.

"Banyak sekali kasus pidana dilakukan oleh pengungsi yang bermukim di Makassar. Rata-rata kasus yang kami temukan adalah kasus perzinahan, yakni perselingkuhan. Pengungsi laki-laki selingkuhi dan berzina dengan istri warga Kota Makassar," ujar Boedi, Senin (26/2/2018).

Boedi mengatakan tetap memproses kasus tersebut dengan Undang-undang Keimigrasian. Pengungsi tersebut diproses hukum dengan diisolasi di Rudenim.

"Kami tidak bisa memproses lebih dari Undang-undang Keimigrasian. Kebanyakan pengungsi banyak yang melakukan tindak pidana. Sudah banyak kasus pidana yang kami serahkan ke aparat kepolisian, tapi tidak direspons dan ditangani aparat yang berwenang," keluhnya.

(Baca juga: Opsi Pengungsi Syiah Sampang saat Pemungutan Suara Pilkada Serentak )

Boedi mengatakan tidak bisa mendeportasi pengungsi berkasus karena mereka berlindung di bawah undang-undang internasional. Dalam UU tersebut disebutkan pengungsi yang mencari suaka tidak boleh dikembalikan ke negara asalnya.

"Sudah kami laporkan ke United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan International Organization for Migration (IOM), tetapi tidak mendapat respons yang baik," katanya.

"Mereka bilang, pengungsi tidak bisa dipulangkan ke negaranya yang sedang berkonflik. Jika dideportasi ke negara asalnya, sama saja dengan membunuh pengungsi," tambahnya.

Boedi berharap pemerintah segera mengatasi masalah pengungsi yang melakukan tindak pidana dan pelanggaran di Kota Makassar. Dia pun berharap, aparat berwenang menangani kasus tindak pidana yang dilakukan pengungsi.

"Jadi apa solusi dari masalah imigran yang berkasus di Makassar. Aparat harus ikut menangani kasus pidana yang dilakukan pengungsi. Termasuk pemerintah pusat, harus turun tangan menangani masalah imigran di Makassar," pungkasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

HKTI Siap Bantu Petani di Tegal untuk Pasarkan Hasil Pertanian

HKTI Siap Bantu Petani di Tegal untuk Pasarkan Hasil Pertanian

Regional
Video Viral Lima Perempuan ABG Rebutan Cowok di Ponorogo

Video Viral Lima Perempuan ABG Rebutan Cowok di Ponorogo

Regional
Kasus Covid-19 Melonjak, Gubernur Sulteng Minta Bupati dan Walkot Ajukan PSBB

Kasus Covid-19 Melonjak, Gubernur Sulteng Minta Bupati dan Walkot Ajukan PSBB

Regional
Staf TU IPDN Lombok Tengah Positif Covid-19

Staf TU IPDN Lombok Tengah Positif Covid-19

Regional
Separuh Wilayah Jatim Masuk Zona Kuning Covid-19, Khofifah: Ini Kerja Keras Semua Elemen...

Separuh Wilayah Jatim Masuk Zona Kuning Covid-19, Khofifah: Ini Kerja Keras Semua Elemen...

Regional
Dua Pejabatnya Meninggal karena Covid-19, Rektor UNS: Kami 'Lockdown' Kampus

Dua Pejabatnya Meninggal karena Covid-19, Rektor UNS: Kami "Lockdown" Kampus

Regional
Kasus Aktif Covid-19 Tersisa 41 Orang, Wali Kota Malang Minta Masyarakat Tak Terlena

Kasus Aktif Covid-19 Tersisa 41 Orang, Wali Kota Malang Minta Masyarakat Tak Terlena

Regional
LBH Ansor Pati Ikut Polisikan Gus Nur yang Dianggap Menghina NU

LBH Ansor Pati Ikut Polisikan Gus Nur yang Dianggap Menghina NU

Regional
Satgas Covid-19 Papua: 3.359 Pasien Positif Covid-19 Masih Dirawat

Satgas Covid-19 Papua: 3.359 Pasien Positif Covid-19 Masih Dirawat

Regional
PDI-P Pecat Kadernya yang Maju Pilkada Demak Lewat Partai Lain

PDI-P Pecat Kadernya yang Maju Pilkada Demak Lewat Partai Lain

Regional
16.000 Petugas KPPS di Kota Makassar Bakal Jalani 'Rapid Test'

16.000 Petugas KPPS di Kota Makassar Bakal Jalani "Rapid Test"

Regional
Siswa Kelas Virtual di Jateng Masih Bisa Nyambi Kerja

Siswa Kelas Virtual di Jateng Masih Bisa Nyambi Kerja

Regional
Nakes dan Petugas Lapangan Jadi Prioritas Pemberian Vaksin Covid-19 di Jateng

Nakes dan Petugas Lapangan Jadi Prioritas Pemberian Vaksin Covid-19 di Jateng

Regional
Polisi Selidiki Ambruknya Atap IGD Rumah Sakit Ciamis, Ambil Sampel dari TKP

Polisi Selidiki Ambruknya Atap IGD Rumah Sakit Ciamis, Ambil Sampel dari TKP

Regional
Polisi Temukan 6 Bom Molotov Saat Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law di Makassar

Polisi Temukan 6 Bom Molotov Saat Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law di Makassar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X