Mengingat Kembali Gempa Yogyakarta 11 Tahun Lalu

Kompas.com - 27/05/2017, 13:19 WIB
Poster pemain sepak bola yang langsung dipasang di pohon, serta karung bekas yang kembali dikumpulkan untuk alas tidur. Di Dusun Bondalem, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, ini hampir semua rumah telah rata tanah akibat gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006. KOMPAS.com/AMIR SODIKINPoster pemain sepak bola yang langsung dipasang di pohon, serta karung bekas yang kembali dikumpulkan untuk alas tidur. Di Dusun Bondalem, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, ini hampir semua rumah telah rata tanah akibat gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Hari ini, Sabtu (27/5/2017), tepat 11 tahun gempa bumi melanda Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah. Gempa yang berpusat di kabupaten Bantul 27 Mei 2016 silam menyebabkan ribuan orang meninggal dunia.

Pasca-gempa, masyarakat semakin waspada dan sudah siap dalam menghadapi bencana. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Bantul, Dwi Daryanto, menyampaikan, gempa 2006 terjadi sekitar pukul 05.53 WIB, berkekuatan 5,9 Skala Richer mengguncang bumi Yogyakarta sekitar 57 detik, menghancurkan ratusan ribu rumah dan menyebabkan ribuan orang meninggal.

Dari data BPBD Bantul, jumlah korban meninggal di wilayah Bantul ada 4143 korban tewas, dengan jumlah rumah rusak total 71.763, rusak berat 71.372, rusak ringan 66.359 rumah. Total korban meninggal gempa DIY dan Jawa Tengah bagian selatan, seperti di Klaten, tercatat mencapai 5.782 orang lebih, 26.299 lebih luka berat dan ringan, 390.077 lebih rumah roboh akibat gempa waktu itu.

Dwi menyebut, Bantul sebagai pusat gempa tahun 2006 lalu. Pusat gempa berada di Sungai Opak di Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong. Mulai dari pundong dusun potrobayan sebagai titik episentrum dan jalur gempa sampai ke Klaten.

Saat ini, di lokasi pusat gempa sudah berdiri tetenger atau tugu peringatan gempa Yogyakarta letaknya 300 meter dari pusat gempa yang merupakan tempuran sungai opak dan oya.

"Hampir semua kecamatan yang dilewati sesar opak terkena dampak paling parah saat gempa 2006 lalu," katanya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (27/5/2017).

Berkaca dari peristiwa itu, Pemerintah Kabupaten Bantul terus berupaya meningkatkan kesadaran mengenai potensi gempa yang sewaktu-waktu bisa terjadi di wilayahnya. Untuk itu diperlukan kesadaran semua pihak.

"Gempa tidak membunuh tetapi bangunan yang menyebabkan korban luka dan meninggal dunia," ujarnya.

Baca: Merajut Asa Dasawarsa Gempa Yogyakarta

Untuk membangun kesadaran masyarakat, salah satunya adalah dengan pembentukan desa tangguh bencana. Hingga 2016, tercatat sudah ada 15 desa, dan ditargetkan pada 2021 mendatang, 75 desa yang ada di Kabupaten Bantul semua telah menjadi desa tangguh bencana.

Adapun 15 desa yang sudah ditetapkan sebagai desa tangguh bencana itu sebagian besar desa yang berada di sepanjang pesisir selatan Bantul.

"Setiap tahun kita membangun rata-rata lima sampai tujuh desa tangguh bencana. Untuk anggarannya bersumber dari APBD Bantul dan Propinsi," ucapnya.

Selain desa, sudah ada delapan sekolah ditetapkan sebagai sekolah tangguh bencana. Tidak hanya sebatas pembentukan desa dan sekolah tangguh bencana.

Pasca-pembentukan, kegiatan pendampingan tetap dilakukan termasuk pelatihan pengurangan risiko bencana. Kawasan pesisir pun sudah terpasang Early Warning System (EWS), untuk mengantisipasi tsunami.

Baca: Melawan Lupa, Napak Tilas Gempa Yogyakarta

"Terus dilakukan pendampingan kepada masyarakat agar waspada. Setiap desa tetap diminta meningkatkan kewaspadaan sesuai kearifan lokal masing-masing," kata Dwi.

Bahkan, 2018 nanti, Bantul menjadi kabupaten tangguh bencana. Setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) nanti harus menganggarkan program pengurangan risiko bencana.

Sekda yang juga Kepala BPBD Bantul, Ryantono, menyampaikan, seluruh gedung pemerintahan di Kabupaten Bantul sudah terpasang jalur evakuasi saat terjadi bencana. Bahkan, pemkab sudah menyusun protap mengengai kesiapsiagaan bencana.

"Sebelum acara diumumkan mekanisme evakuasi saat terjadi situasi darurat, kalau ada tamu. Pembawa acara membuka dengan penjelasan mekanisme evakuasi termasuk jalurnya," ucapnya.

Baca ulasan dalam Visual Interkatif Kompas ini: Gempa Yogyakarta

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pembubaran Upacara Piodalan, Bupati Bantul: Semua Agama Statusnya Sama, Tidak Ada Beda-beda

Pembubaran Upacara Piodalan, Bupati Bantul: Semua Agama Statusnya Sama, Tidak Ada Beda-beda

Regional
Kronologi Korupsi Monumen Bahasa Pulau Penyengat Senilai Rp 2,2 M

Kronologi Korupsi Monumen Bahasa Pulau Penyengat Senilai Rp 2,2 M

Regional
Lokasi Pemusnahan Bom di Hamparan Perak Dikerumuni Warga

Lokasi Pemusnahan Bom di Hamparan Perak Dikerumuni Warga

Regional
Bangkai Babi dari Sumut Lintasi Sungai Aceh, Warga Resah dan Takut Makan Ikan

Bangkai Babi dari Sumut Lintasi Sungai Aceh, Warga Resah dan Takut Makan Ikan

Regional
Kadus: Lokasi Penemuan Yoni di Situs Candi Bowo Pernah Jadi Permukiman, Ditinggal Warga Sejak 1952

Kadus: Lokasi Penemuan Yoni di Situs Candi Bowo Pernah Jadi Permukiman, Ditinggal Warga Sejak 1952

Regional
Proyek Penyulingan Air Laut Rp 14 M Tak Berfungsi, Warga Pulau Ende Minum Air Asin

Proyek Penyulingan Air Laut Rp 14 M Tak Berfungsi, Warga Pulau Ende Minum Air Asin

Regional
Wisuda di Usia 85 Tahun, Kakek La Oede Jadi Sarjana Sastra Indonesia...

Wisuda di Usia 85 Tahun, Kakek La Oede Jadi Sarjana Sastra Indonesia...

Regional
Truk Roda 10 Disinyalir Jadi Penyebab Kelangkaan Solar di Sumbar

Truk Roda 10 Disinyalir Jadi Penyebab Kelangkaan Solar di Sumbar

Regional
[POPULER NUSANTARA] Polisi Tangkap Pelaku Pelempar Sperma di Tasikmalaya | Kakek Diwisuda pada Usia 85 Tahun

[POPULER NUSANTARA] Polisi Tangkap Pelaku Pelempar Sperma di Tasikmalaya | Kakek Diwisuda pada Usia 85 Tahun

Regional
Teror Harimau Hantui Warga Sumsel, Apa Penyebabnya?

Teror Harimau Hantui Warga Sumsel, Apa Penyebabnya?

Regional
Aktivis Antikorupsi di Aceh Tengah Hilang 10 Hari, Motor Ditemukan di Warnet

Aktivis Antikorupsi di Aceh Tengah Hilang 10 Hari, Motor Ditemukan di Warnet

Regional
5 Fakta Pelemparan Sperma di Tasikmalaya, Viral di Media Sosial hingga Pelaku Melawan Saat Ditangkap

5 Fakta Pelemparan Sperma di Tasikmalaya, Viral di Media Sosial hingga Pelaku Melawan Saat Ditangkap

Regional
Fakta Lengkap Teror Pelemparan Sperma di Tasikmalaya, Viral di Medsos hingga Pelaku Ditangkap

Fakta Lengkap Teror Pelemparan Sperma di Tasikmalaya, Viral di Medsos hingga Pelaku Ditangkap

Regional
Ditjen Perkeretaapian: Longsor di Proyek Double Track Diduga Karena Faktor Alam, Pekerjaan Sementara Dihentikan

Ditjen Perkeretaapian: Longsor di Proyek Double Track Diduga Karena Faktor Alam, Pekerjaan Sementara Dihentikan

Regional
Sepekan Terakhir Selalu Diserang OTK, Perkuliahan di Kampus UMI Tetap Berjalan

Sepekan Terakhir Selalu Diserang OTK, Perkuliahan di Kampus UMI Tetap Berjalan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X