Budaya Pop di Angkot Minangkabau

Kompas.com - 25/03/2017, 08:10 WIB
KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Penulis buku Angkot dan Bus Minangkabau, Budaya Pop dan Nilai-Nilai Budaya Pop, David Revee di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (24/3/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Angkutan Kota atau angkot selama ini kerap dipandang sebagai moda transportasi biasa. Tak ada yang spesial dari transportasi umum yang memuat sekitar 15 orang penumpang ini.

Siapa sangka, ternyata angkot bisa menjadi salah satu simbol kreativitas, penentu kesuksesan, magnet ekonomi, hingga simbolisasi status sosial.

Setidaknya bagi David Revee, seorang sejarawan sekaligus akademisi di bidang bahasa yang juga menulis buku bertajuk " Angkot dan Bus Minangkabau, Budaya Pop dan Nilai-Nilai Budaya Pop".

Ribuan angkot dan bus di kawasan Padang dan sekitarnya begitu menarik perhatian David. Transportasi-transportasi tersebut dinilai sarat kosakata yang dramatis.

Ia amat terkesan dengan angkot dan bus di Minangkabau yang kerap dipenuhi kreasi simbol, warna dan kata-kata. Tak ketinggalan, dashboard angkot juga kerap dihiasi boneka-boneka yang dilengkapi lampu hias. Membuat kendaraan tersebut menjadi amat meriah.

"Kelihatannya orang Minang sangat suka dengan dolls (boneka). Sampai enggak bisa lihat jalan. Sering disebut diskotek berjalan," tutur David dalam acara diskusi bukunya di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (24/3/2017).

David kemudian mengamati angkot-angkot dan bus-bus tersebut, kemudian mulai mencatat satu persatu tulisan yang ada di tubuh kendaraan tersebut serta mengambil gambar dari kendaraan-kendaraan yang menurutnya menarik untuk diteliti.

Ia mencatat setidaknya ada 780 macam "bahasa" angkot dan bus Minangkabau. 58 persennya menggunakan Bahasa Inggris, 31 persennya menggunakan Bahasa Indonesia, dan hanya 12 persen yang menggunakan Bahasa Minang.

Adapun dari 31 persen bahasa angkot yang menggunakan Bahasa Indonesia, mayoritasnya merupakan bahasa gaul.

Sementara untuk tema kreasi, David mencatat tema balap atau racing adalah yang paling banyak ditemukan. Angkot-angkot kerap dimodifikasi bak mobil balap, dengan dekorasi garis-garis di badan mobil serta dijadikan ceper.

Selain tema racing, tema transportasi udara dan laut, luar angkasa, budaya pop internasional atau figur internasional, serta figur kartun juga menjadi tema-tema yang paling banyak dijumpai pada dekorasi angkot Minangkabau.

"Budaya pop yang ada di angkot dan bus di Minangkabau dinamis, lucu, kreatif," kata David.

Membawa gengsi hingga strata sosial

Halaman:


EditorErlangga Djumena

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X