Tersangka Baru Korupsi Bandara Sultan Hasanuddin Bertambah 5 Orang

Kompas.com - 18/01/2017, 13:23 WIB
|
EditorCaroline Damanik

MAKASSAR, KOMPAS.com - Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Kejati Sulselbar) menetapkan lima tersangka baru dalam kasus korupsi pembebasan lahan perluasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Sulselbar, Salahuddin, mengatakan, lima tersangka baru berasal dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Maros. Salah satu di antara lima tersangka baru itu adalah Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Maros, Andi Nuzuliah.

"Ada 5 tersangka baru sekarang, tapi sebelumnya ada 4 tersangka. Jadi total tersangka dalam kasus ini berjumlah 9 orang tersangka korupsi pembebasan lahan perluasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp 317 miliar. 5 tersangka baru ini statusnya PNS dari BPN Maros," kata Salahuddin dalam konferensi pers, Rabu (18/1/2017).

Salahuddin menjelaskan, penetapan 5 tersangka baru ini merupakan hasil pengembangan 4 tersangka sebelumnya. Sembilan tersangka ini diduga telah menyalahgunakan wewenang dan lalai dalam taksasi harga yang membuat negara merugi ratusan miliar rupiah.

"Selain Kepala BPN Maros, Andi Nuzulia, empat tersangka lainnya yakni Hamka (Kepala Sub-Seksi Pengaturan Tanah), Hartawan Tahir (Kepala Sub-Seksi Pendaftran), Muhtar (juru ukur) dan Hijaz Zainuddin (Kepala Seksi Survei, Pengukuran dan Penataan Kota). Nuzulia berperan sebagai panitia pengadaan tanah. Sisanya berperan selaku satgas A dan satgas B yang bertugas mengidentifikasi dan memverifikasi lahan secara fisik dan yuridis," terangnya.

Salahuddin mengungkapkan, lima tersangka baru ini menyamarkan warga yang berstatus penggarap lahan lahan maupun warga yang memiliki sertifikat lahan untuk mendapatkan ganti rugi.

Berdasarkan penyidikan sementara, para tersangka juga tidak melakukan komparasi data dengan pihak Provinsi Sulsel. Mereka hanya diam saat ada penggelembungan ganti rugi lahan dari Rp 186 miliar menjadi Rp 520 miliar pada 2015 lalu. Padahal, harga lahan di lokasi itu terbilang murah yakni Rp 200.000 per meter dengan total lahan pembebasan mencapai 60 hektar.

"Tidak jelas mana yang tanah milik negara maupun milik warga. Kami juga temukan adanya warga yang tidak berhak terdaftar sebagai penerima ganti-rugi. Itu artinya ada kesalahan dalam proses pendataan," tandasnya.

Dalam waktu dekat, tegas Salahuddin, para tersangka segera dipanggil untuk diperiksa. Sehingga, berkas perkara tersebut segera rampung untuk dilimpahkan ke Pengadilan.

"Empat tersangka terdahulu yang sudah ditahan yakni Machmud Oesman (Camat Mandai), Rasyid (Kepala Dusun Bado-bado), Raba Nur (Kepala Desa Baji Mangai), dan Sitti Rabiah (PNS Pemerintah Kabupaten Maros). Tidak menutup kemungkinan jumlah tersangka terus bertambah dalam kasus korupsi uang negara yang dikelola PT Angkasa Pura 1. Penyelidikan dan penyidikan terus berjalan," tambahnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bebas dari Penjara, Napi Asimilasi Perkosa Anak Calon Istrinya

Bebas dari Penjara, Napi Asimilasi Perkosa Anak Calon Istrinya

Regional
Terungkap Pabrik Miras Palsu Bermerek Impor di Bandung Barat

Terungkap Pabrik Miras Palsu Bermerek Impor di Bandung Barat

Regional
Saat Para Pemuda Antar Ketupat untuk Tenaga Medis Covid-19: Biar Mereka Ikut Lebaran

Saat Para Pemuda Antar Ketupat untuk Tenaga Medis Covid-19: Biar Mereka Ikut Lebaran

Regional
Polda Jateng Tunggu Hasil Lab Iptu SY, Pengendara yang Tabrak Rumah Warga

Polda Jateng Tunggu Hasil Lab Iptu SY, Pengendara yang Tabrak Rumah Warga

Regional
Aksi Babinsa Gendong Nenek dan Penderita Stroke untuk Mengambil BLT

Aksi Babinsa Gendong Nenek dan Penderita Stroke untuk Mengambil BLT

Regional
Dentuman di Kawah Gunung Ijen, Ada Gelombang Mirip Tsunami Setinggi 3 Meter, Satu Penambang Tewas

Dentuman di Kawah Gunung Ijen, Ada Gelombang Mirip Tsunami Setinggi 3 Meter, Satu Penambang Tewas

Regional
Longsor di Tol Ungaran, Kendaraan Dialihkan ke Jalan Nasional

Longsor di Tol Ungaran, Kendaraan Dialihkan ke Jalan Nasional

Regional
Ternak Warga Banyak yang Hilang Misterius, Ternyata Ini Penyebabnya

Ternak Warga Banyak yang Hilang Misterius, Ternyata Ini Penyebabnya

Regional
Update Corona di Kepri, Jumlah Pasien yang Sembuh 102 Orang

Update Corona di Kepri, Jumlah Pasien yang Sembuh 102 Orang

Regional
Bayi Berusia 6 Hari Positif Terjangkit Virus Corona di NTB

Bayi Berusia 6 Hari Positif Terjangkit Virus Corona di NTB

Regional
Mobilnya Tabrak Rumah Warga, Kapolsek Ini Dicopot dan Ditahan

Mobilnya Tabrak Rumah Warga, Kapolsek Ini Dicopot dan Ditahan

Regional
Hari Terakhir PSBB, Penambahan 1 Kasus Covid-19 di Kota Malang

Hari Terakhir PSBB, Penambahan 1 Kasus Covid-19 di Kota Malang

Regional
Lelah Periksa Swab Ratusan PDP di Jatim, Tim Mobil PCR Minta Libur

Lelah Periksa Swab Ratusan PDP di Jatim, Tim Mobil PCR Minta Libur

Regional
Detik-detik Keluarga Pasien Corona yang Kabur Adang dan Peluk Polisi hingga Ketakutan Tertular Saat Penjemputan

Detik-detik Keluarga Pasien Corona yang Kabur Adang dan Peluk Polisi hingga Ketakutan Tertular Saat Penjemputan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Soal Mobil PCR dan Kemarahan Risma | Video Pria Bugil Lari di Depan Hotel

[POPULER NUSANTARA] Soal Mobil PCR dan Kemarahan Risma | Video Pria Bugil Lari di Depan Hotel

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X