Cari Tahu Sikap Warga soal Pabrik Semen, Ganjar Panggil Tokoh Samin

Kompas.com - 15/12/2016, 12:37 WIB
Kontributor Semarang, Nazar Nurdin Gubernur Ganjar Pranowo berbincang dengan tokoh Sedulur Sikep dari empat daerah di Semarang, Kamis (15/12/2016)

SEMARANG, KOMPAS.com - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memanggil para tokoh Sedulur Sikep atau Samin dari empat daerah untuk mengetahui sikap dan ajaran mereka mengenai pabrik semen.

Ganjar ingin mengkonfirmasi stigma yang berkembang bahwa kaum Samin menolak pabrik semen. Pertemuan sendiri digelar di kompleks gubernuran Jateng di Semarang, Kamis (15/12/2016).

"Kemarin ramai (Demo Pabrik Semen), apa iya Sedulur Sikep kayak gitu? Saya mantep dan tahu, mana percaya dan iya. Kalau ada orang sikep yg nolak, dan setuju saya tahu itu makili siapa," kata Ganjar seusai pertemuan, siang ini.

Dalam kegiatan itu, sejumlah tokoh Sedulur Sikep dari empat daerah dipanggil. Mereka antara lain dari Kudus, Pati, Blora dan Bojonegoro (Jawa Timur). Ada sekitar 20-an tokoh yang dipanggil dan hadir dalam sarasehan tersebut.


Tokoh Samin Pati Sutoyo mengatakan, ajaran leluhurnya dari Samin Surosentiko tidak ada nama permusuhan. Semua warga adalah teman (Sedulur), termasuk manusia beserta alamnya. Dalam ajarannya, mereka dilarang untuk melakukan dendam, iri dengki, atau sifat buruk lainnya.

"Kalau berkaitan dengan semen, budidaya (alam) jadi sandang pangan itu tidak ditolak," kata Sutoyo.

Sedulur Sikep di Pati, lanjut dia, juga mayoritas tidak ikut demo menolak pabrik semen. Mereka juga tidak bicara spesifik mendukung keberadaan pabrik semen, mereka juga tidak menolak.

"Sikep Pati yang demo tidak ada. Yang ada itu keluarga dan IP dari Gunretno yang mungkin hanya 10 orang. Itu yang demo," ujar dia.

"Sikep di Desa Baturejo, Pati ada sekitar 800-an orang. Ajaran kami menuntun kejujuran, sabar dan menerima," tambahnya.

Selain memberi petuah ajaran Samin, mereka juga mengeluhkan layanan administrasi kependudukan yang mereka terima selama ini.

Ganjar pun mengucapkan terima kasih atas petuah dan ajaran itu. Dia juga berjanji untuk mengatasi keluhan warga Sikep soal pelayanan administrasi, seperti akta kelahiran yang dinisbatkan ke ibu, serta diskriminasi dalam bidang pendidikan.

"Sikep itu punya aturan, tata krama, nilai yang dilestarikan. Jadi bukan hanya soal semen, tapi soal agama, administrasi, perlakuan seperti anak tiri. Saya matur nuwun," ujar mantan anggota DPR RI ini.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorCaroline Damanik
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X