10 Tahun Gempa Yogya, Ada Sekolah Siaga Bencana di Bantul

Kompas.com - 27/05/2016, 07:07 WIB
Sri Sultan HB X menandatangani prasasti Napak tilas Peringatan Gempa Yogyakarta di pinggir pertemuan sungai Opak dan sungai Oya Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul KOMPAS.com / Wijaya kusumaSri Sultan HB X menandatangani prasasti Napak tilas Peringatan Gempa Yogyakarta di pinggir pertemuan sungai Opak dan sungai Oya Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul
|
EditorErlangga Djumena

BANTUL, KOMPAS.com — Gempa bumi tahun 2006 lalu tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan rumah warga di Daerah Istimewa Yogyakarta. Guncangan bumi itu juga membuat beberapa bangunan sekolah ambruk, terutama di Kabupaten Bantul yang mengalami kerusakan paling parah.

Belajar dari pengalaman itu, selama 10 tahun ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul telah membentuk sekolah siaga bencana di beberapa tempat.

"Selama kurun waktu 10 tahun, kita sudah membentuk beberapa sekolah tangguh bencana di Kabupaten Bantul," ujar Kepala BPBD Kabupaten Bantul Dwi Daryanto saat ditemui Kompas.com, Rabu (11/5/2016).

Dwi mengungkapkan, sekolah siaga bencana ini dibentuk mulai dari tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), maupun sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK).

Selain struktur gedung sekolah yang sesuai dengan standar wilayah rawan gempa bumi, sekolah siaga bencana ini juga memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai ancaman bencana alam yang ada. Termasuk apa yang harus dilakukan siswa untuk melindungi diri ketika bencana datang.

"Siswa dan guru dibekali pengetahuan mengenai kebencanaan dan pengurangan risikonya. Sekolah juga membuat jalur evakuasi dan titik kumpul," ujarnya.

Dwi menuturkan, sekolah siaga bencana ini dibentuk karena berkaca pada musibah tahun 2006. Gempa bumi bermagnitudo 6,3 itu tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga merenggut hidup 4.121 penduduk Bantul.

"Ada lebih dari 75 gedung sekolah di Kabupaten Bantul roboh total," katanya.

Bisa dibayangkan bagaimana jika gempa bumi sedahsyat itu terjadi pada jam belajar sekolah. Akan ada berapa ribu siswa yang akan menjadi korban karena tertimpa material bangunan sekolahan yang ambruk?

"Akan banyak anak-anak generasi muda kita yang menjadi korban jika kejadiannya jam sekolah. Maka, edukasi terhadap sekolah menjadi sangat penting," ujarnya.

Menurut Dwi, edukasi di sekolah tidak cukup hanya dengan memasukkan kurikulum berbasis penanggulangan bencana, tetapi juga harus menciptakan sekolah yang nyaman dan aman bagi siswa dan pengajar ketika terjadi bencana alam, salah satunya gempa bumi. Sebab, bencana alam seperti gempa bumi tidak dapat diprediksi. Tidak menutup kemungkinan gempa bumi bisa saja terjadi pada jam-jam sekolah.

"Kita tidak tahu kapannya (bencana datang) sehingga salah satu hal yang terpenting adalah menciptakan sekolah aman dan nyaman," ucapnya.

Dengan demikian, sebut dia, orang tua tidak panik seandainya bencana alam datang pada jam sekolah. Sebab, para orang tua mengetahui bahwa anak-anak mereka aman di sekolah.

"Kalau sekolah aman, ada bencana, orang tua tidak perlu panik. Mereka merasa nyaman karena anak-anak terlindungi dan aman di sekolah," ujar Dwi. 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Warga Kirimkan Susu untuk Balita Korban Penganiayaan Sadis di Medan

Warga Kirimkan Susu untuk Balita Korban Penganiayaan Sadis di Medan

Regional
Perempuan Pekerja Kafe Dibunuh dan Mayatnya Dibuang di Kolam Buaya, Ini Motif Pelaku

Perempuan Pekerja Kafe Dibunuh dan Mayatnya Dibuang di Kolam Buaya, Ini Motif Pelaku

Regional
Pengakuan Siswi SMP yang Menikah dengan Remaja 17 Tahun: Saya Bingung Mau Ngapain Lagi...

Pengakuan Siswi SMP yang Menikah dengan Remaja 17 Tahun: Saya Bingung Mau Ngapain Lagi...

Regional
Ibu Hamil Nyaris Melahirkan Saat Antre Pencairan BPUM di Bank

Ibu Hamil Nyaris Melahirkan Saat Antre Pencairan BPUM di Bank

Regional
5 Demonstran Jadi Tersangka Perusakan DPRD Jember, AMJ: Kami Minta Maaf, Mereka Bukan Bagian Kami

5 Demonstran Jadi Tersangka Perusakan DPRD Jember, AMJ: Kami Minta Maaf, Mereka Bukan Bagian Kami

Regional
Hubungan Asmara Tak Direstui, Gadis Penjual Kopi Nekat Gantung Diri

Hubungan Asmara Tak Direstui, Gadis Penjual Kopi Nekat Gantung Diri

Regional
Angin Kencang Terjang Kabupaten Timor Tengah Utara, 7 Rumah Warga Rusak Berat

Angin Kencang Terjang Kabupaten Timor Tengah Utara, 7 Rumah Warga Rusak Berat

Regional
Dianiaya Paman dan Bibi gara-gara Kencing, Balita 4 Tahun Ini Trauma, Menangis Jika Ketemu Orang Asing

Dianiaya Paman dan Bibi gara-gara Kencing, Balita 4 Tahun Ini Trauma, Menangis Jika Ketemu Orang Asing

Regional
Nasib Sial Pemandu Karaoke, Menolak Diantar Pulang Tamu, Malah Dipukuli Sampai Pingsan

Nasib Sial Pemandu Karaoke, Menolak Diantar Pulang Tamu, Malah Dipukuli Sampai Pingsan

Regional
Longsor Terjang Caringin Sukabumi, Mushala Hancur, 2 Rumah Rusak, Ada Retakan Tanah di Areal Persawahan

Longsor Terjang Caringin Sukabumi, Mushala Hancur, 2 Rumah Rusak, Ada Retakan Tanah di Areal Persawahan

Regional
Belajar dari Erupsi 2010, Warga Lereng Merapi Dirikan Komunitas Siaga

Belajar dari Erupsi 2010, Warga Lereng Merapi Dirikan Komunitas Siaga

Regional
'Saya Kaget Waktu Dengar Ada yang Jatuh, Ketika Dilihat Ternyata Orang'

"Saya Kaget Waktu Dengar Ada yang Jatuh, Ketika Dilihat Ternyata Orang"

Regional
Kakek 60 Tahun dengan Keterbelakangan Mental Tewas Dipukuli Pakai Bambu oleh Tetangganya

Kakek 60 Tahun dengan Keterbelakangan Mental Tewas Dipukuli Pakai Bambu oleh Tetangganya

Regional
Tersangka Perusakan Kantor Nasdem Makasar Bertambah, Jadi 13 Orang

Tersangka Perusakan Kantor Nasdem Makasar Bertambah, Jadi 13 Orang

Regional
KASN: Aparatur Sipil Negara yang Suami atau Istrinya Maju Pilkada Serentak Wajib Cuti

KASN: Aparatur Sipil Negara yang Suami atau Istrinya Maju Pilkada Serentak Wajib Cuti

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X