Saung Angklung Udjo, Oase di Tengah Bisingnya Bandung - Kompas.com

Saung Angklung Udjo, Oase di Tengah Bisingnya Bandung

Kompas.com - 27/01/2016, 07:00 WIB
KOMPAS.com/Reni Susanti Salah satu pertunjukan di Saung Angklung Udjo (SAU) Bandung.
BANDUNG, KOMPAS.com - Lagu berjudul “Bunda” karya Melly Goeslaw ini terdengar sayup-sayup dari gedung pertunjukan Saung Angklung Udjo (SAU), Jalan Padasuka, Bandung, Jawa Barat.

Sebuah lirik lagu yang sarat makna, menceritakan bagaimana bakti dan rasa hormat seorang anak terhadap ibunya.

Meski terdengar sayup, ratusan pelajar yang tengah mengikuti angklung interaktif di SAU ini terasa begitu menghayati pesan dalam lagu.

Mereka bernyanyi, memainkan angklung, mencoba memasukkan nyawa lagu ke dalam alunan angklung yang mereka mainkan.

“Coba dengarkan, lagu tersebut mengandung unsur pendidikan,” ujar Direktur SAU, Taufik Hidayat Udjo di sela perbicangannya dengan Kompas.com.

Kondisi pun menjadi hening, “Itulah yang ingin kami sampaikan,” tambah Taufik.

Lagu, sambung Taufik, bukan hanya sebatas kata-kata yang dijahit menjadi sebuah kalimat. Lagu, memiliki makna yang secara tidak langsung akan mempengaruhi alam bawah sadar manusia.

Begitupun angklung, memiliki banyak fungsi, di antaranya musik dan pendidikan. Angklung harus dimainkan bersama-sama.

Di sana ada harmonisasi, kerja sama, saling pengertian dan saling menghargai satu sama lain untuk menghasilkan alunan nada yang indah.

Bahkan angklung, merupakan musik pemersatu dan perdamaian. Misalnya, bagaimana pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan berdampingan bermain angklung.

Mereka berdua tertawa dan berkonsentrasi dan bekerjasama memainkan angklung mengikuti komando perwakilan SAU.

“Mungkin mereka tidak sadar kalau sedang bersebelahan. Tapi itu merupakan pemandangan yang tak biasa. Di mana negara yang saling bermusuhan, bisa duduk berdampingan dan tertawa. Itu semua karena angklung,” papar Taufik.

Sebuah Oase

Kehadiran SAU sendiri di Kota Bandung seolah menjadi oase. Sebagai kota modern, Kota Bandung sangat padat dan dinamis. Kesibukan jelas terlihat dimana-mana. Bahkan di lingkungan SAU.

Tidak jauh dari SAU, terdapat Terminal Cicaheum yang sangat padat. Lalu lalang kendaraan membuat jalanan di seputaran SAU kerap dilanda kemacetan.

Selain itu polusi udara membuat emosi pengguna kendaraan semakin memuncak. Selain terminal, di kawasan itu terdapat sekolah, perguruan tinggi, pusat pebelanjaan, perkantoran, dan pemukiman padat.

Namun di tengah keramaian tersebut, berdiri sebuah bangunan yang sangat sejuk, asri, dihiasi pepohonan yang rimbun.

Bangunan yang didominasi unsur bambu itu tertata dengan apik dan rapi. Siapa pun yang berkunjung ke tempat ini akan merasa tidak sedang berada di tengah Kota Bandung yang padat.

Alunan angklung dan beberapa jenis musik lainnya serta berbagai pertunjukan kesenian, membuat pengunjung enggan untuk pergi.

“SAU memang seolah menjadi oase,” tutur Taufik.

Di sini, hampir semua jenis kesenian Sunda dimainkan. Baik musik, tari, nyanyian, hingga bobodoran Sunda.

Bahkan uniknya, di sini pengunjung tidak hanya jadi penonton. Pengunjung pun menjadi pemain dalam angklung interaktif.

Pagelaran tersebut dikemas dalam satu paket pertunjukan. Setidaknya, ada 600 pemain yang terlibat pertunjukan setiap harinya.


“Dalam sehari ada lima sampai delapan kali pertunjukan. Pemainnya berasal dari daerah SAU,” tuturnya.

Keaktifan SAU dalam melestarikan budaya Sunda yang dikemas dalam bentuk menarik inilah yang membuatnya menerima banyak penghargaan.

Satu penghargaan terbaru adalah Best ASEAN Cultural Preservation Effort dari Arean Tourism Association (ASEANTA).

EditorErvan Hardoko
Komentar
Close Ads X