Mendikbud: Istilah Tes Keperawanan Tidak Santun

Kompas.com - 22/08/2013, 15:47 WIB
Mendikbub Muhamamd Nuh, tidak setuju penerapan tes keperawanan untuk masuk sekolah karena itu tidak penting dan menimbulkan diskriminasi. KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMANMendikbub Muhamamd Nuh, tidak setuju penerapan tes keperawanan untuk masuk sekolah karena itu tidak penting dan menimbulkan diskriminasi.
|
EditorFarid Assifa

PAMEKASAN, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Muhammad Nuh menyatakan tidak setuju jika ada sekolah yang menerapkan tes keperawanan untuk penerimaan peserta didik baru. Dari istilahnya saja, Nuh tidak setuju karena tidak santun di telinga, termasuk juga dengan istilah pendidikan seks.

"Mendengar istilahnya saja saya tidak setuju. Jadi, saya lebih baik pakai istilah tes virginity yang kedengarannya di telinga lebih santun dan tidak kasar," ungkap Nuh saat berkunjung di Pondok Pesantren Al Hamidy, Banyuanyar, Potoan Daja, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Kamis (22/8/2013).

Tes virginity, kata mantan Rektor ITS ini, tidak penting. Sebab, tujuan pendidikan bukan ke arah itu. Yang perlu dilakukan sekolah adalah memproteksi anak didik dari hal-hal yang mengarah kepada hilangnya keperawanan. Jika ada anak yang sudah telanjur tidak perawan, sebaiknya diarahkan untuk bertobat agar tidak menambah masalah baru di tengah-tengah masyarakat.

"Kalau ada anak yang tidak virgin kemudian dilarang sekolah, lalu mereka mau dikemanakan? Kehidupan anak itu akan hancur dua kali. Jadi, saya tidak setuju," tandasnya.

Kalau ada tes keperawanan, kata Nuh, bagaimana dengan yang laki-laki? Hal itu akan menimbulkan ketidakadilan dalam pendidikan. Sekolah, kata Nuh, harus memberikan perlindungan kepada siapa pun dengan cara memberikan pendidikan yang baik kepada anak. Sebab, pemerintah sudah memberikan pelayanan yang besar kepada sekolah agar anak-anak bisa belajar dengan baik dan tenang.

"Buat apa pemerintah mengeluarkan anggaran yang besar kalau kemudian ada anak yang sudah sekolah kemudian mau dikeluarkan? Atau ada anak yang mau masuk sekolah kemudian dilarang? Ini kan menambah masalah," tandasnya.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sempat Kabur Dua Jam, Pemerkosa Wanita Penjual Gorengan Ditangkap, Mengaku Khilaf

Sempat Kabur Dua Jam, Pemerkosa Wanita Penjual Gorengan Ditangkap, Mengaku Khilaf

Regional
Pengakuan Ibu yang Aniaya Anaknya dengan Balok Kayu: Saya Memukulnya karena Kesal

Pengakuan Ibu yang Aniaya Anaknya dengan Balok Kayu: Saya Memukulnya karena Kesal

Regional
Istri Wali Kota Pontianak Positif Corona

Istri Wali Kota Pontianak Positif Corona

Regional
Melihat Lebih Dekat Emil Dardak Menggunakan Media Sosial...

Melihat Lebih Dekat Emil Dardak Menggunakan Media Sosial...

Regional
KPU Kepulauan Selayar Terima Anggaran Rp 22 Miliar untuk Pilkada 2020

KPU Kepulauan Selayar Terima Anggaran Rp 22 Miliar untuk Pilkada 2020

Regional
Covid-19 di Riau Bertambah Hampir 300 Kasus, Jumlah Total Melejit

Covid-19 di Riau Bertambah Hampir 300 Kasus, Jumlah Total Melejit

Regional
Tak Ada Listrik, Warga di NTT Terpaksa Nyalakan Pelita di Malam Hari, PLN: Kami Akan Survei

Tak Ada Listrik, Warga di NTT Terpaksa Nyalakan Pelita di Malam Hari, PLN: Kami Akan Survei

Regional
Kasus Covid-19 dari Klaster Santri di Bintan Bertambah 13

Kasus Covid-19 dari Klaster Santri di Bintan Bertambah 13

Regional
KA Siliwangi Berikan Tiket Rp 0, Catat Jadwal dan Cara Mendapatkannya

KA Siliwangi Berikan Tiket Rp 0, Catat Jadwal dan Cara Mendapatkannya

Regional
Sebelum Meninggal Terpapar Covid-19, Sinden Sering Isi Acara dan Bertemu Banyak Orang

Sebelum Meninggal Terpapar Covid-19, Sinden Sering Isi Acara dan Bertemu Banyak Orang

Regional
Kajari Jember dan 4 Pegawai Positif Covid-19, Kantor Tetap Buka

Kajari Jember dan 4 Pegawai Positif Covid-19, Kantor Tetap Buka

Regional
Fakta di Balik 16 Orang Positif Covid-19 Usai Arisan RT di Kulon Progo, Petugas Tracing 2 Pasar

Fakta di Balik 16 Orang Positif Covid-19 Usai Arisan RT di Kulon Progo, Petugas Tracing 2 Pasar

Regional
Klaster Baru, Sejumlah Santri di Banyumas Positif Covid-19, 2 Ponpes Diminta Lockdown

Klaster Baru, Sejumlah Santri di Banyumas Positif Covid-19, 2 Ponpes Diminta Lockdown

Regional
Beras Bansos Bercampur Biji Plastik, Ini Kata Bupati Cianjur

Beras Bansos Bercampur Biji Plastik, Ini Kata Bupati Cianjur

Regional
Detik-detik Pasar Wage di Purwokerto Terbakar, Ratusan Pedagang Panik Selamatkan Dagangan

Detik-detik Pasar Wage di Purwokerto Terbakar, Ratusan Pedagang Panik Selamatkan Dagangan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X