Deddy Mizwar: Banjir Bisa Dideteksi dan Dicegah - Kompas.com

Deddy Mizwar: Banjir Bisa Dideteksi dan Dicegah

Reni Susanti
Kompas.com - 10/10/2017, 16:43 WIB
Warga bersama prajurit TNI AD dari Yonif 323/Buaya Putih Raider membersihkan lumpur atau material tanah pascalongsor yang menimpa dua rumah dan menyebabkan empat orang tewas tertimbun di Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (8/10). Berdasarkan data Pusdalops BPBD Pangandaran, sebanyak 17 titik terkena bencana banjir dan tanah longsor. Warga yang terkena dampak mengungsi di rumah saudara, tempat ibadah, Puskesmas dan balai desa setempat. ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI Warga bersama prajurit TNI AD dari Yonif 323/Buaya Putih Raider membersihkan lumpur atau material tanah pascalongsor yang menimpa dua rumah dan menyebabkan empat orang tewas tertimbun di Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (8/10). Berdasarkan data Pusdalops BPBD Pangandaran, sebanyak 17 titik terkena bencana banjir dan tanah longsor. Warga yang terkena dampak mengungsi di rumah saudara, tempat ibadah, Puskesmas dan balai desa setempat.

PANGANDARAN, KOMPAS.com - Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, meninjau lokasi terdampak banjir dan longsor Pangandaran, tepatnya di perumahan bumi estetika di Desa Cikembulan Kecamatan Sidamulih yang terkenda dampak cukup parah.

"Terima kasih kepada semua pihak dan saya lihat luar biasa ini sangat cepat sekali penanganannya langsung hadir di tengah masyarakat yang terkena bencana," ujar Deddy dalam rilis yang diterima Kompas.com, Selasa (10/10/2017).

Ia juga mengucapkan duka yang mendalam bagi korban meninggal dunia dan luka-luka seraya menyerahkan bantuan logistik dari Pemprov Jabar yang diserahkan kepada wakil bupati Pangandaran

"Ini sangat disayangkan bisa terjadi, karena persoalan banjir yang sebetulnya bisa dideteksi dan dicegah," ucapnya.

(Baca juga: Longsor di Pangandaran, Satu Keluarga Tewas)

Deddy berharap ke depannya setiap Kecamatan khususnya Pangandaran membentuk tim relawan mitigasi. Sebab bencana banjir dan longsor ini memang selalu terjadi setiap tahunnya di daerah tersebut.

"Saya kira setiap Kecamatan bisa membentuk relawan mitigasi karena kalau dilihat tadi ada tempat-tempat tertentu yang sudah jadi langganan hampir setiap tahun hanya debit airnya berkurang atau lebih tinggi. Ini bukan daerah baru yang kena bencana tetapi sekarang semakin meluas di tujuh Kecamatan," terangnya.

Dengan begitu Deddy memprediksi bencana yang merenggut nyawa 4 orang ini akibat ada kerusakan maupun alih fungsi lahan di hulu sungai.

"Artinya saya memprediksi ini ada kerusakan di hulu sungai yang harus juga segera dibenahi disamping tadi tim mitigasi bencana juga bisa bekerja lebih baik termasuk peringatan dini dari instansi terkait terhadap ancaman bencana," ucapnya.

(Baca juga: Banjir Bandang Juga Landa Pangandaran, Ratusan Rumah Terendam)

Menurutnya, berbeda dengan bencana gempa yang sulit diprediksi terjadi, banjir lebih mudah diketahui gejalanya

"Ini bisa kita prediksi kalau itu banjir sebetulnya, kecuali gempa yang sulit diprediksi," terangnya.

Deddy berharap tidak ada lagi korban jiwa saat terjadi banjir karena sudah ada pemberitahuan awal. Termsuk juga korban areal lahan pertanian yang tergerus banjir sehingga gagal panen. Mengingat Jabar berkontribusi besar bagi ketahanan pangan nasional.

"Jabar ini adalah Provinsi yang berkontribusi terhadap ketahanan pangan sangat besar dan nomor satu, kalau ini tidak ditangani saya kira akan mengancam ketahanan pangan nasional," tutupnya.

Kompas TV Di Ciamis, jembatan ambruk, sementara di Pangandaran, terjadi banjir dan longsor.

PenulisReni Susanti
EditorReni Susanti
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM