Meski Fisik Terbatas, Mukhlis Kayuh Sepeda Puluhan Kilo Jual Telur Asin demi Orangtua - Kompas.com

Meski Fisik Terbatas, Mukhlis Kayuh Sepeda Puluhan Kilo Jual Telur Asin demi Orangtua

Kontributor Surakarta, M Wismabrata
Kompas.com - 19/05/2017, 09:00 WIB
KOMPAS.com/M Wismabrata Mukhlis Eko Nugroho (28) di Sukoharjo giat menjual telur asin demi membantu orangtua meski memiliki keterbatasan fisik.

SUKOHARJO, KOMPAS.com - Mukhlis Eko Nugroho (28) mengaku punya keinginan yang besar untuk mencari nafkah demi membantu kedua orangtuanya. Keinginan itu melebihi keterbatasan fisik yang dimilikinya sejak lahir.

Meskipun hanya berjualan telur asin dengan mengayuh sepeda, Mukhlis berharap sudah membantu kedua orangtuanya.

Senyum lebar dan sinar mata penuh semangat terasa saat berbincang dengan Muchlis di rumahnya di Krangan, Kelurahan Nggeneng, Kecamatan Gatak, Sukoharjo, hari Kamis (18/5/2017).

Didampingi ibunya, Sumirih (51), Mukhlis bercerita awal mula dirinya berjualan telur asin. Sumirih kadang menerjemahkan apa yang dimaksud buah hatinya.

Mukhlis mengalami kesulitan untuk bertutur layaknya orang biasa. Hanya orang terdekat yang mampu memahami maksud ucapannya.

KOMPAS.com/M Wismabrata Mukhlis Eko Nugroho (28) di Sukoharjo giat menjual telur asin demi membantu orangtua meski memiliki keterbatasan fisik.
Namun demikian, dia mengaku pernah mewakili sekolahnya dalam lomba baca puisi tingkat nasional di Bandung.

"Waktu sekolah, anak saya sering ikut lomba, dan pernah mewakili sekolahnya lomba baca puisi. tidak dapat juara, hanya juara harapan. Itu sekitar tahun 2006," kata Sumirih, Kamis (18/5/2017).

(Baca juga: Marsinah, Ibu yang Gendong Anak Disabilitas demi Menimba Ilmu Agama)

Setelah lulus sekolah, Muchlis yang gemar bersepeda, meminta izin untuk bekerja membantu orangtua.

"Saat itu saya tidak izinkan karena kondisi anak seperti itu. Mau bekerja apa. Lalu, ada tawaran untuk berjualan telut asin. Kebetulan anak saya suka sekali bersepeda. Saat itu, saya masih kepikiran, nanti kalau ada apa apa dijalan. Lalu saya izinkan tetapi jam satu siang harus sudah pulang," kata Sumirih.

Awalnya, 50 butir telur asin dibawa Mukhlis keliling kampung untuk dijajakan dari rumah ke rumah. Hingga saat ini, Mukhlis dipercaya oleh pemasoknya untuk menjajakan 150 butir telur asin per hari.

"Ya tidak langsung laku, tapi kadang ada yang mborong, cepet larisnya. Kalau tidak ya enggak apa-apa, kadang ada yang beli di rumah," kata Muchlis.

Dia pun berbagi pengalamannya saat mengayuh sepeda roda tiga bikinan ayahnya, Suparno.

"Pernah ban kempes di jalan dan harus menuntun. Lalu lima kali ditabrak orang dari belakang," katanya.

Satu butir telur asin dagangan Mukhlis dijual kisaran Rp 2.000- Rp 3.000. Pelanggannya pun sudah tersebar di sekitar rumahnya di Gatak.

"Perumahan yang paling banyak dan juga perkantoran. Ada juga sekolah-sekolah," katanya.

Setiap jam 07.00 WIB, Mukhlis sudah mulai mengayuh sepedanya. Mukhlis kadang mengayuh hingga Kota Solo, tepatnya di daerah Purwosari. Bahkan kadang sampai daerah Solo bagian timur, Kampung Semanggi. Kurang lebih 10 kilometer dari rumah Muchlis.

"Saya mau bantu orangtua kok, Mas. Besok juga ingin punya toko kelontong, jadi tidak hanya jualan telur saja," katanya.

Mukhlis adalah putera pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Suparno dan Sumirih. Suparno bekerja jadi buruh proyek untuk menghidupi keluarganya. Di mata ibunya, Mukhlis merupakan sosok pemuda yang ulet meskipun memiliki kekurangan fisik.

PenulisKontributor Surakarta, M Wismabrata
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X