Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kasus Perkawinan Anak di Perbatasan RI-Malaysia Naik, Dinsos Khawatir Ada Kampung Janda

Kompas.com - 14/01/2023, 12:18 WIB
Ahmad Dzulviqor,
Gloria Setyvani Putri

Tim Redaksi

NUNUKAN, KOMPAS.com – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Nunukan, Kalimantan Utara menyatakan, terjadi kenaikan kasus pernikahan anak pada tahun 2022.

Kepala DSP3A Nunukan Faridah Aryani mengatakan, pada pertengahan 2022 sudah ada 30 kasus perkawinan anak. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding 2021 yang terdata belasan kasus perkawinan anak dalam setahun.

"Secara data, DSP3A mengeluarkan dispensasi nikah itu 23 lembar pada 2022. Masalahnya, yang menikah siri ini tidak terbendung dan cukup menjadi masalah serius," ujarnya, Sabtu (14/1/2023).

Baca juga: Soroti Dispensasi Pernikahan Anak di Ponorogo, Menteri PPPA: Perkawinan Picu Tingginya Putus Sekolah dan Kemiskinan Ekstrem

Rekomendasi pernikahan anak, diakui Faridah menjadi hal dilematis.

Pernikahan anak tak hanya soal pasangan bisa memenuhi sejumlah syarat dari Dinas Kesehatan, dokter kandungan atau bidan, DSP3A, dan psikolog.

Namun, pernikahan tak lepas dari keadaan mental atau psikologi, kemampuan menafkahi, dan kematangan organ reproduksi.

Dengan alasan tersebut, tentu Pemerintah dengan berat hati mengeluarkan rekomendasi. Sekalipun di antaranya ada pernikahan dini yang terkesan paksaan dari orang tuanya.

"Para orangtua selalu mengatakan dari pada berzina, lebih baik segera dinikahkan. Masalahnya, banyak yang lewat jalur pintas. Orangtua menikahkan dulu anaknya secara siri, baru mendatangi kami meminta rekomendasi," kata Faridah.

"Ini kan termasuk tipu daya, dan kami tidak bisa mencegah pernikahan dini yang diinisiasi orangtua anak selaku pemegang hak mutlak bagi putra putrinya. Tapi beberapa kasus, kita tidak mau keluarkan rekomendasi," imbuhnya.

Dari penelusuran di lapangan, kata Faridah, pernikahan anak paling muda berusia 15 tahun atau usia SMP. Tidak sedikit, usia pernikahan anak tak berumur panjang, hanya bertahan tiga bulan, enam bulan, atau kurang dari setahun.

"Kalau angka pernikahan anak tinggi, angka perceraian tentu tinggi. Tidak menutup kemungkinan ada kampung janda seperti wilayah perkotaan di Jawa sana. Ini menjadi bahan pemikiran kami juga," sambung dia.

Faridah menegaskan, kasus pernikahan siri anak, merupakan sebuah dilematis dan bak buah simalakama.

Pernikahan tersebut, dianggap sah secara agama, namun jika merujuk para hukum Negara, banyak hak anak yang hilang. Tidak ada keterikatan hukum, sehingga, kewajiban menafkahi istri atau keturunannya (jika ada), tidak didapatkan oleh para janda belia tersebut.

Baca juga: Angka Pernikahan Anak Tertinggi di Jatim, Trenggalek Canangkan Desa Nol Perkawinan Anak

DSP3A Nunukan, masih mencoba melakukan komunikasi dan mencoba meminta pendapat para ulama di Nunukan, apakah boleh dirumuskan sebuah punishmen atau sanksi bagi anak dibawah umur yang dinikahkan siri tanpa rekomendasi DSP3A, Dinas Kesehatan, dokter kandungan/bidang dan Psikolog sebagaimana MoU yang ada.

Apalagi, sejauh ini, data data yang diperoleh baru kasus pernikahan dini dari Pengadilan Agama yang notabene Muslim.

DSP3A masih butuh data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, untuk mengetahui berapa banyak jumlah pernikahan dini diluar mereka yang beragama Islam.

"Angka pernikahan dini tinggi, potensi perceraian juga tinggi. Tentu mereka belum matang secara psikologi, karena mereka adalah anak anak yang dipaksa dewasa. Nah janda-janda muda ini kita takutkan terjerumus pada pergaulan bebas, dan menjadi masalah baru, dengan trend internet yang kian terbuka saat ini," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
28th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Nenek di Flores Pulang Setelah 47 Tahun Hilang Saat Masih Gadis, Viral di Media Sosial

Kisah Nenek di Flores Pulang Setelah 47 Tahun Hilang Saat Masih Gadis, Viral di Media Sosial

Regional
Ajudan Kapolda Kaltara Ditemukan Tewas di Rumah Dinas

Ajudan Kapolda Kaltara Ditemukan Tewas di Rumah Dinas

Regional
[POPULER NUSANTARA] Siswa di NTT Tak Lagi Masuk Sekolah Pukul 05.30 Pagi | Soal Rempang, Istri Wawalkot Batam Diperiksa Polisi

[POPULER NUSANTARA] Siswa di NTT Tak Lagi Masuk Sekolah Pukul 05.30 Pagi | Soal Rempang, Istri Wawalkot Batam Diperiksa Polisi

Regional
BMKG Ungkap Penyebab Gempa M 6,6 Maluku yang Dirasakan hingga Sorong

BMKG Ungkap Penyebab Gempa M 6,6 Maluku yang Dirasakan hingga Sorong

Regional
Gempa M 6,6 Guncang Maluku Tengah Malam, Warga Berhamburan ke Jalan

Gempa M 6,6 Guncang Maluku Tengah Malam, Warga Berhamburan ke Jalan

Regional
Pulang Nonton Pameran, 3 Pemuda di TTU Ditembak Orang Tak Dikenal

Pulang Nonton Pameran, 3 Pemuda di TTU Ditembak Orang Tak Dikenal

Regional
Kualitas Emas Gorontalo Terkenal Sejak Zaman VOC

Kualitas Emas Gorontalo Terkenal Sejak Zaman VOC

Regional
ASN di Brebes Diduga Hadiri Deklarasi Ganjar di Semarang, Relawan AMIN Mengadu ke Bawaslu

ASN di Brebes Diduga Hadiri Deklarasi Ganjar di Semarang, Relawan AMIN Mengadu ke Bawaslu

Regional
Gempa Magnitudo 6,6 Guncang Maluku Barat Daya, Tak Berisiko Tsunami

Gempa Magnitudo 6,6 Guncang Maluku Barat Daya, Tak Berisiko Tsunami

Regional
Lansia di Ponorogo Meninggal dengan Luka Bakar Usai Bakar Sampah

Lansia di Ponorogo Meninggal dengan Luka Bakar Usai Bakar Sampah

Regional
Kekeringan, Warga di Pelosok Lebak Cari Air ke Hutan

Kekeringan, Warga di Pelosok Lebak Cari Air ke Hutan

Regional
Sempat Dibayar Rp 200 Ribu, Pelaku Pembunuhan Tidak Rela Korban Miliki Pria Lain

Sempat Dibayar Rp 200 Ribu, Pelaku Pembunuhan Tidak Rela Korban Miliki Pria Lain

Regional
Berawal Anak Bermain Api, Rumah Warga Kebumen Ludes Terbakar

Berawal Anak Bermain Api, Rumah Warga Kebumen Ludes Terbakar

Regional
Tangani Karhutla di Kalsel, BNPB Berencana Tambah Helikopter 'Water Boombing'

Tangani Karhutla di Kalsel, BNPB Berencana Tambah Helikopter "Water Boombing"

Regional
Kronologi Ayah di Pekanbaru Bunuh Bayinya, Korban Dibekap dan Jasadnya Ditutupi Selimut

Kronologi Ayah di Pekanbaru Bunuh Bayinya, Korban Dibekap dan Jasadnya Ditutupi Selimut

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com