Kompas.com - 06/07/2022, 21:20 WIB

BLORA, KOMPAS.com - Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menuai sorotan publik karena adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan.

Bahkan muncul dugaan penilapan uang donasi oleh petinggi ACT melalui laporan jurnalistik Tempo berjudul 'Kantong Bocor Dana Umat'.

Dalam laporan tersebut, diketahui bahwa petinggi ACT disebut menerima sejumlah fasilitas mewah berupa mobil operasional jenis Alphard dan penggunaan dana donasi untuk operasional yang berlebihan.

Baca juga: Presiden ACT Kaget atas Pencabutan Izin dari Kemensos

Yayasan ACT sendiri pernah menjejaki wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Bahkan, di Kota Sate tersebut, yayasan itu dianggap mampu membantu kondisi ekonomi masyarakat.

Yayasan yang saat ini di bawah naungan Ibnu Hajar itu pernah mendirikan sejumlah peternakan kambing di Blora.

Salah satunya yang terletak di Desa Gadu, Kecamatan Sambong. Dengan lahan seluas sekitar satu hektar, ACT mampu menggerakkan masyarakat untuk beternak kambing.

"ACT ke Blora sejak tahun 2014," ucap eks koordinator peternak ACT Blora, Wariyadhi saat ditemui wartawan di lahan miliknya, Rabu (6/7/2022).

Wari menjelaskan ACT mengontrak lahan miliknya selama lima tahun, terhitung sejak 2014.

Namun setelah kontrak tersebut berakhir, jejak-jejak keberadaan ACT masih dapat dijumpai di lokasi itu.

Baca juga: Pemprov DKI Didesak Ungkap Pola Kerja Sama dengan ACT

"Ya sisanya hanya ini," ujar dia sambil menunjuk bekas bangunan ACT yang meliputi gudang, tempat pengolahan pakan, hingga rumah panggung semi permanen bagi para perawat ternak tersebut.

Menurutnya, lahan miliknya yang dikontrak oleh ACT bisa dibilang kurang besar apabila dibandingkan dengan lahan lainnya.

"Kalau lokasinya ada 1 hektar, ada yang 5 hektar dan tersebar di beberapa tempat," kata dia.

Selain menyisakan sejumlah bangunan, lahan bekas peternakan kambing ACT juga kembali dimanfaatkan sebagai tempat perkebunan jambu, jeruk, hingga pepaya.

Selain di Desa Gadu, jejak peternakan kambing milik ACT juga ada di Desa Sambongrejo yang masih berada di Kecamatan Sambong.

Baca juga: Dinsos: ACT Kota Bandung dan Cirebon Tak Pernah Urus Izin

Di lokasi ini, masih terlihat jelas sisa-sisa ternak kambing milik yayasan tersebut. Seperti kandang kambing dan sejumlah peralatan lainnya dan yang paling nyata adanya spanduk dengan logo ACT.

"Di sini dulu kambingnya banyak," ucap Sinah salah seorang warga sekitar lokasi tersebut.

Sama seperti di desa sebelumnya, keberadaan ternak kambing ACT juga berakhir pada 2019 lalu. "Iya sama kayak yang di Gadu," kata dia.

Setelah tidak difungsikan sebagai tempat ternak, kini lahan tersebut dimanfaatkan untuk ternak jangkrik. Namun sayangnya, pemilik lahan tersebut tidak berada di lokasi.

"Dulu kandangnya ada dua tempat sampai ujung sana, tapi kini hanya tersisa satu saja," terang dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pimpin Sementara Kabupaten Pemalang, Wabup Tak Tahu Kegiatan Mukti Agung Wibowo Sebelum Ditangkap KPK

Pimpin Sementara Kabupaten Pemalang, Wabup Tak Tahu Kegiatan Mukti Agung Wibowo Sebelum Ditangkap KPK

Regional
Kabar Gembira, Ada Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor di Kaltim, Begini Skemanya

Kabar Gembira, Ada Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor di Kaltim, Begini Skemanya

Regional
DPRD Makassar Dukung Wali Kota, Kiranya Presiden dan Menhub Bisa Mendengar

DPRD Makassar Dukung Wali Kota, Kiranya Presiden dan Menhub Bisa Mendengar

Regional
Kronologi Penemuan Mayat yang Jatuh ke Selokan Sriwijaya Semarang

Kronologi Penemuan Mayat yang Jatuh ke Selokan Sriwijaya Semarang

Regional
Paket Narkoba yang Hendak Dikirim ke Lapas Baubau Berhasil Digagalkan

Paket Narkoba yang Hendak Dikirim ke Lapas Baubau Berhasil Digagalkan

Regional
Soal Pelecehan di Magelang, Keluarga Brigadir J: Skenario Ferdy Sambo Lucu, Berbelit-belit

Soal Pelecehan di Magelang, Keluarga Brigadir J: Skenario Ferdy Sambo Lucu, Berbelit-belit

Regional
Sebar Foto Bugil Pacar, Pria di Ende Terancam 6 Tahun Penjara

Sebar Foto Bugil Pacar, Pria di Ende Terancam 6 Tahun Penjara

Regional
Ketika Gibran Murka, Lepas Paksa Masker Paspampres yang Pukul Sopir Truk Saat Minta Maaf

Ketika Gibran Murka, Lepas Paksa Masker Paspampres yang Pukul Sopir Truk Saat Minta Maaf

Regional
Mobil Brio yang Dikemudikan Polisi di Maluku Tengah Tabrak Pohon, Satu Penumpang Tewas

Mobil Brio yang Dikemudikan Polisi di Maluku Tengah Tabrak Pohon, Satu Penumpang Tewas

Regional
695 Hewan Ternak Terjangkit PMK di Sumbawa, 4 Ekor Mati

695 Hewan Ternak Terjangkit PMK di Sumbawa, 4 Ekor Mati

Regional
Temukan 2 Ekor Monyet dalam Kondisi Mengenaskan di Kompleks FPIK Unsoed, Relawan Turun Tangan

Temukan 2 Ekor Monyet dalam Kondisi Mengenaskan di Kompleks FPIK Unsoed, Relawan Turun Tangan

Regional
Diduga Korupsi DAK Rp 1,2 Miliar di 28 SMP, Kepala Dinas Pendidikan Gunung Mas Diamankan

Diduga Korupsi DAK Rp 1,2 Miliar di 28 SMP, Kepala Dinas Pendidikan Gunung Mas Diamankan

Regional
Temuan Minyak Bumi Baru di Perairan Malaka NTT, Dinas ESDM Akan Bersurat ke Pusat

Temuan Minyak Bumi Baru di Perairan Malaka NTT, Dinas ESDM Akan Bersurat ke Pusat

Regional
Cicipi Kuliner Sorgum Kreasi SMK PGRI 2 Kudus, KSP Moeldoko: Rasanya Enak dan Punya Nilai Jual

Cicipi Kuliner Sorgum Kreasi SMK PGRI 2 Kudus, KSP Moeldoko: Rasanya Enak dan Punya Nilai Jual

Regional
Pupuk Subsidi untuk Sawit Dicabut, Pupuk Palsu Mulai Beredar dan Sulit Dideteksi

Pupuk Subsidi untuk Sawit Dicabut, Pupuk Palsu Mulai Beredar dan Sulit Dideteksi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.