Kompas.com - 29/01/2021, 13:30 WIB
Pegawai BPBD mengecek lokasi bencana tanah bergerak di Dusun Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (26/1/2021). KOMPAS.com/BUDIYANTOPegawai BPBD mengecek lokasi bencana tanah bergerak di Dusun Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (26/1/2021).

KOMPAS.com - Sejak Minggu (13/12/2020), warga yang bermukim di kaki Gunung Beser, tepatnya di Dusun Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi dibuat resah oleh fenomena tanah bergerak.

Beberapa waktu terakhir, warga menjumpai retakan-retakan pada bangunan rumah dan tanah di permukiman hingga area persawahan.

Pada Jumat (2/1/2021) sore lalu, terjadi tanah ambles yang menggerus lahan persawahan tidak jauh dari permukiman.

Menurut data yang dihimpun oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Cijangkar, terdapat 16 unit rumah yang terdampak oleh kejadian ini.

Rumah-rumah tersebut dihuni oleh 18 kepala keluarga dengan total 40 jiwa.

Baca juga: Retakan Tanah Bergerak Semakin Banyak di Kaki Gunung Beser, Warga Resah Menunggu Penyelidikan Badan Geologi

Tanah bergerak juga mengancam 101 unit rumah yang ditempati 116 kepala keluarga dengan jumlah kesuluruhan 366 jiwa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ada 6 rumah yang dibongkar akibat bencana ini. Sementara itu, sebanyak 114 jiwa dari 37 kepala keluarga mengungsi.

Lakukan pengkajian awal

Petugas sedang mengecek rekahan tanah bergerak di Dusun Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (28/1/2021).KOMPAS.com/BUDIYANTO Petugas sedang mengecek rekahan tanah bergerak di Dusun Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (28/1/2021).

Bencana ini mulai dikaji oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Kamis (28/1/2021).

Pemeriksaan dan pengambilan data turut melibatkan Dinas Perindustrian dan Energi Sumber Daya Mineral (PESDM) Kabupaten Sukabumi.

Pengkajian awal bencana geologi ini didasari oleh laporan Pemdes Cijangkar yang ingin mengetahui kondisi tanah di lokasi bencana.

Baca juga: Melihat Kondisi Pengungsi Tanah Bergerak di Kaki Gunung Beser Sukabumi

"Untuk menjaga kekhawatiran masyarakat Dusun Ciherang, karena semakin hari semakin ada retakan," terang Kepala Seksi Pencegahan BPBD Kabupaten Sukabumi Nanang Sudrajat kepada Kompas.com, Kamis.

"Hari ini kami melaksanakan pengkajian manual, sambil menunggu penyelidikan secara detail dari Badan Geologi," ujarnya.

 

Nanang memaparkan hasil kajian yang akan dijadikan sebagai rujukan langkah berikutnya tetap menunggu penyelidikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi.

"Mudah-mudahan saja tim PVMBG bisa secepatnya ke Ciherang," ungkap Nanang.

Menurut Kepala Seksi ESDM pada Dinas Perindustrian dan ESDM Kabupaten Sukabumi Mukhsin Badrusalam, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya pergerakan tanah, antara lain curah hujan, tofografi, geologi, dan tutupan lahan.

Baca juga: Korban Bencana Tanah Bergerak Kaki Gunung Beser: Kami Minta Kejelasan, Masih Bisa Ditinggali atau Tidak

"Sekarang hanya mengambil data lapangan, melihat langsung rekahan-rekahan," jelas Mukhsin setelah pengecekan lapangan.

Ia menuturkan hasil lapangan ini bakal dianalisis oleh timnya, kemudian akan dilaporkan ke BPBD.

Mukhsin menjelaskan apabila dilihat secara topografi, fenomena ini terjadi di lereng.

Dari kacamata geologi, batu breksi dari formasi jampang telah mengalami pelapukan yang sangat kuat.

Baca juga: Bencana Tanah Bergerak di Gunung Beser Sukabumi, Warga yang Khawatir Tinggalkan Rumah

Air masuk ke tanah melalui rekahan. Kemudian, air bertemu dengan batuan yang kuat.

Keberadaan batu kuat ini sebagai medan gelincir yang menyebabkan terjadinya gerakan tanah.

"Kami hanya sebatas kajian awal. Selanjutnya untuk kajian secara detail oleh Badan Geologi," ucap Mukhsin.

Imbau warga agar selalu waspada

Seorang warga menunujukan retakan sudut bangunan akibat bencana tanah bergerak i Dusun Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (3/1/2021)KOMPAS.com/BUDIYANTO Seorang warga menunujukan retakan sudut bangunan akibat bencana tanah bergerak i Dusun Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (3/1/2021)

Mukhsin mengimbau supaya warga tetap waspada. Apabila terjadi hujan berintensitas cukup tinggi lebih dari dua jam, Mukhsin meminta warga segera mengungsi ke tempat aman.

"Karena air hujan dapat masuk ke dalam rekahan, sehingga dapat menjadi salah satu pemicu. Mengurug rekahan agar air tidak masuk ke dalam tanah," tutur dia.

Baca juga: Belasan Rumah dan Mushala Terancam Bencana Tanah Bergerak di Purworejo

Sumber: Kompas.com (Penulis: Kontributor Sukabumi, Budiyanto | Editor: Dheri Agriesta, Aprillia Ika)

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apresiasi Aksi Peduli Covid-19 Mahasiswa di Semarang, Ganjar: Bisa Jadi Contoh untuk Daerah Lain

Apresiasi Aksi Peduli Covid-19 Mahasiswa di Semarang, Ganjar: Bisa Jadi Contoh untuk Daerah Lain

Regional
Jamin Biaya Pemakaman Pasien Covid-19, Pemkab Wonogiri Anggarkan Rp 2 Juta Per Pemulasaraan

Jamin Biaya Pemakaman Pasien Covid-19, Pemkab Wonogiri Anggarkan Rp 2 Juta Per Pemulasaraan

Regional
Keterlibatan Pemerintah Bikin BOR di Wonogiri Turun Drastis Selama PPKM

Keterlibatan Pemerintah Bikin BOR di Wonogiri Turun Drastis Selama PPKM

Regional
Bupati Wonogiri Fokus Percepat Vaksinasi di Tingkat Kecamatan

Bupati Wonogiri Fokus Percepat Vaksinasi di Tingkat Kecamatan

Regional
Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk, Wali Kota Madiun Terima Penghargaan MKK 2021

Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk, Wali Kota Madiun Terima Penghargaan MKK 2021

Regional
Sapa Warga Subang dan Purwakarta, Ridwan Kamil Bagikan Sembako dan Tinjau Vaksinasi

Sapa Warga Subang dan Purwakarta, Ridwan Kamil Bagikan Sembako dan Tinjau Vaksinasi

Regional
Mahasiswa Bantu Penanganan Covid-19, Ganjar Pranowo Berikan Apresiasi

Mahasiswa Bantu Penanganan Covid-19, Ganjar Pranowo Berikan Apresiasi

Regional
Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi 'Getar Dilan' Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi "Getar Dilan" Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Regional
Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Regional
Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Regional
Kolaborasi Jadi Kunci Kudus Terlepas dari Status Zona Merah Covid-19

Kolaborasi Jadi Kunci Kudus Terlepas dari Status Zona Merah Covid-19

Regional
Ganjar Pranowo Disambangi Aktivis Mahasiswa Malam-malam, Ada Apa?

Ganjar Pranowo Disambangi Aktivis Mahasiswa Malam-malam, Ada Apa?

Regional
KRI Dr Soeharso-990 Bantu Pasokan Oksigen Jateng, Ganjar: Kami Prioritaskan untuk RS di Semarang Raya

KRI Dr Soeharso-990 Bantu Pasokan Oksigen Jateng, Ganjar: Kami Prioritaskan untuk RS di Semarang Raya

Regional
Kasus Covid-19 di Luwu Utara Tinggi, Bupati Indah Instruksikan Kepala Wilayah Jadi Pemimpin Lapangan

Kasus Covid-19 di Luwu Utara Tinggi, Bupati Indah Instruksikan Kepala Wilayah Jadi Pemimpin Lapangan

Regional
Walkot Benyamin Pastikan Tangsel Tangani Pandemi di Hulu dan Hilir Secara Serampak

Walkot Benyamin Pastikan Tangsel Tangani Pandemi di Hulu dan Hilir Secara Serampak

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X