Mengenang Masa Kecil Bagian I: Nangis Pingin Dibeliin Sepeda dan Domba

Kompas.com - 15/01/2021, 21:15 WIB
Emang (99), (kanan) vetaran perang yang pensiun dini di usia 25 tahun. Kepada Dedi Mulyadi, Wakil Kerua Komisi IV DPR RI (kiri), ia menceritakan pernah ada 8 peluru yang bersarang di dadanya. KOMPAS.COM/FARIDAEmang (99), (kanan) vetaran perang yang pensiun dini di usia 25 tahun. Kepada Dedi Mulyadi, Wakil Kerua Komisi IV DPR RI (kiri), ia menceritakan pernah ada 8 peluru yang bersarang di dadanya.

Sejak kecil saya sudah terdidik oleh bapak memiliki kepekaan terhadap lingkungan. Walaupun kami keluarga miskin dengan jumlah anak banyak, tapi keluarga kami selalu mengutamakan kepentingan orang lain.

Misalnya kami terbiasa melaksanakan selamatan. Setiap ada peristiwa selalu saja melakukan selamatan, potong ayam dan kambing. Saya selalu diajarkan bapak untuk mengantarkan makanan kepada orang paling miskin di kampung saya. Selalu begitu. Diajarkan hidup tidak pelit.

Di kampung saya dulu ingat ada seorang tunawicara bernama Nenek Suwati. Dia hidup sebatang kara. Saya diberi tugas bapak untuk mengantar makanan kepada Nenek Suwati dan ibu-ibu lain yang dianggap sangat miskin tetapi tidak punya keluarga.

Kalau ada pedagang yang tidak laku menjelang sore, mereka tak bisa pulang dan tak bisa bawa uang hasil jualannya, kami selalu menampung mereka untuk mampir ke rumah, menyimpan barang dagangannya. Kami juga tak punya uang, kami biasanya menukar atau memberi beras.

Kalau ada yang kemalaman, misalnya tukang sol sepatu dari Garut, penjual tikar dari Tasikmalaya, rumah kami dibuka untuk mereka menginap. Kami siapkan makan.
Saya ingat betul setiap sore ada Mang Anta. Dia berjualan kayu bakar. Bayangkan di kampung saya, yang waktu itu orang sudah biasa pakai kayu bakar dan ke kebun, dia berjualan kayu bakar. Kayu dari akar pohon karet.

Baca juga: Dedi Mulyadi Beri Beasiswa sampai Doktor dan Umrah, Rasa Syukur Anak Cabut Gugatan kepada Ibunya

Setiap petang, Mang Anta selalu lewat ke depan rumah. Bapak saya selalu minta dia mampir untuk menyimpan kayu bakar. Mang Anta ketika ditanya harga kayu bakar, dia selalu menghitung berapa jumlah anak di rumahnya lalu dikali biaya makan dua kali. Akhirnya ketika dia pulang, kami titipkan sejumlah beras dan ikan asin peda, setiap sore.

Itu pengalaman saya sejak kecil hingga sekarang masih tetap dilakukan. Tidak ujug-ujug sifat saya begini. Sudah diajarkan kepekaan sosial sejak kecil. Saya dari dulu tidak tegaan. Lihat orang baju lusuh, muka pucet, saya suka sedih.

Menangis pingin dibeliin pitpitan

Seiring dengan waktu, perjalanan hidup saya sangat pedih. Saya waktu kecil ingin punya pitpitan, sepeda roda tiga, karena saya tidak punya.

Sementara tetangga saya sudah punya sepeda seperti itu karena memang orangtuanya adalah guru.

Karena tak punya pitpitan, saya setiap hari hanya bisa mendorong tetangga naik sepeda roda tiga itu.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mayat Perempuan Muda di Kamar Hotel, Ada Luka di Belakang Kepala

Mayat Perempuan Muda di Kamar Hotel, Ada Luka di Belakang Kepala

Regional
Fenomena Desa Miliarder, Adakah yang Berubah di Masyarakat?

Fenomena Desa Miliarder, Adakah yang Berubah di Masyarakat?

Regional
Cerita Penjual Es Krim di Lampung, Kestabilan Pasokan Listrik Pengaruhi Omzet Penjualan

Cerita Penjual Es Krim di Lampung, Kestabilan Pasokan Listrik Pengaruhi Omzet Penjualan

Regional
Wali Kota Semarang Kaget Pompa di Trimulyo Berkurang

Wali Kota Semarang Kaget Pompa di Trimulyo Berkurang

Regional
Bocah 7 Tahun di Kotabaru Kalsel Tewas Digigit King Kobra Saat Mandi di Sungai

Bocah 7 Tahun di Kotabaru Kalsel Tewas Digigit King Kobra Saat Mandi di Sungai

Regional
447 Rumah Rusak akibat Gempa M 5,2 di Halmahera Selatan

447 Rumah Rusak akibat Gempa M 5,2 di Halmahera Selatan

Regional
Rahvana Sveta di Atas Panggung Gedung Wayang Orang Sriwedari, Memukau...

Rahvana Sveta di Atas Panggung Gedung Wayang Orang Sriwedari, Memukau...

Regional
Banjir Surut, Arus Lalin di Bawah Jembatan Tol Kaligawe Bisa Dilewati Kendaraan

Banjir Surut, Arus Lalin di Bawah Jembatan Tol Kaligawe Bisa Dilewati Kendaraan

Regional
Fakta Seputar Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Kelainan Genetik dan Sempat Buat Takut Nelayan

Fakta Seputar Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Kelainan Genetik dan Sempat Buat Takut Nelayan

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 28 Febuari 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 28 Febuari 2021

Regional
Menikmati Nasi Minyak, Makanan Khas Palembang yang Dulu Disantap Keluarga Sultan

Menikmati Nasi Minyak, Makanan Khas Palembang yang Dulu Disantap Keluarga Sultan

Regional
Tak Tertampung, Ratusan Pelajar SMP di Nunukan Bakal Belajar di SD

Tak Tertampung, Ratusan Pelajar SMP di Nunukan Bakal Belajar di SD

Regional
Masih Ingat Ibu di Cianjur yang Viral Hamil 1 Jam lalu Melahirkan, Ternyata Dihamili Mantan Suami

Masih Ingat Ibu di Cianjur yang Viral Hamil 1 Jam lalu Melahirkan, Ternyata Dihamili Mantan Suami

Regional
Respons PDI-P soal OTT Gubernur Sulsel: Orang Baik Tak Cukup, Kadang Lupa Diri

Respons PDI-P soal OTT Gubernur Sulsel: Orang Baik Tak Cukup, Kadang Lupa Diri

Regional
Perjuangan Driver Ojol di Semarang Terobos Banjir Demi Antar Makanan ke Pelanggan

Perjuangan Driver Ojol di Semarang Terobos Banjir Demi Antar Makanan ke Pelanggan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X