Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 18/11/2020, 20:59 WIB

KOMPAS.com - Komisi IV DPR mendorong untuk mengubah status Gunung Burangrang dan Cikuray menjadi taman nasional.

Wakil Ketua Komisi IV Dedi Mulyadi mengatakan usulan perubahan status dua gunung menjadi taman nasional itu berdasarkan pertimbangan menjaga kelestarian alam dan makhluk hidup di dalamnya.

"Insya Allah Gunung Cikuray dan Burangrang didorong untuk berubah status jadi taman nasional. Pertimbangan-pertimbangan konservasi jauh lebih penting dibanding pertimbangan apa pun. Aspek ekonomi itu bisa didapatkan dari konservasi," kata Dedi kepada Kompas.com via sambungan telepon, Rabu (18/11/2020) malam.

Baca juga: Banjir dan Longsor Terjang Bandung Barat, Sejumlah Rumah dan Sekolah Rusak

Dedi menjelaskan, Gunung Burangrang memiliki peran yang kuat dalam menjaga kelestarian alam di sejumlah daerah sekitarnya, yakni Subang, Purwakarta dan Bandung Barat.

"Di situ melahirkan banyak aliran air, sungai, udara menjadi terjaga. Selain itu, di dalamnya juga banyak macan tutul," ujar Dedi.

Sementara untuk Cikuray, Dedi mengatakan, area yang akan didorong menjadi taman nasional adalah seluas 15.000 hektar. Gunung yang berlokasi di Garut itu juga menjadi habitat satwa-satwa yang langka dan dilindungi.

Selain untuk menjaga kelestarian alam, Dedi mengatakan, perubahan status dua gunung di Jabar itu bertujuan untuk mencegah perubaan fungsi yang sering dilakukan di daerah yang godaan ekonominya tinggi tanpa mempertimbangkan konservasi.

Ia berharap proses perubahan status tersebut segera terealisasi. Komisi IV terus melakukan pembahasan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengenai usulan tersebut.

"Mudah-mudahan segera terealisasi," harap Dedi.

Jalan baru di Cikuray

Sebelumnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Garut membangun jalan baru yang melewati hutan lindung di Gunung Cikuray. Proyek pembangunan jalan penghubung antar-kecamatan tersebut sempat diprotes oleh Badan Pembina Forum Komunkasi Kadera Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Barat.

Baca juga: Bikin Jalan Lewati Hutan Lindung di Garut, Pegiat Lingkungan Protes

Ketua FK3I Dedi Kurniawan menyebut wilayah itu merupakan habitat satwa-satwa langka dan dilindungi seperti macan tutul, elang jawa, owa jawa serta merak hijau.

Wakil Ketua Komisi IV Dedi Mulyadi juga sempat meminta Pemda Garut untuk menghentikan proyek pembangunan jalan baru di kawasan itu. Alasannya, pembukaan jalur itu bisa menimbulkan kerusakan hutan dan ekosistem di dalamnya.

Baca juga: Soal Bangun Jalan Lewati Gunung Cikuray, Garut Diminta Belajar dari Banjir 2016

Sebab, pembukaan jalan itu bisa memudahkan pembalakan liar dan tumbuhnya bangunan liar yang tak terkendali sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan ekosistem dan konservasi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gubernur Sulsel Nilai Keberhasilan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Karena Kepimimpinan Jokowi

Gubernur Sulsel Nilai Keberhasilan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Karena Kepimimpinan Jokowi

Regional
Pemkot Semarang Luncurkan BUMP, Plt Walkot Ita Harap Kesejahteraan Petani Meningkat

Pemkot Semarang Luncurkan BUMP, Plt Walkot Ita Harap Kesejahteraan Petani Meningkat

Regional
Kisah Agus Falahudin, Penyintas Gempa Cianjur yang Gotong Royong Bangun Huntara

Kisah Agus Falahudin, Penyintas Gempa Cianjur yang Gotong Royong Bangun Huntara

Regional
Tanggapi Keluhan Masyarakat, Pemkot Semarang dan BBWS Tangani Timbunan Sampah di Kampung Nelayan Tambakrejo

Tanggapi Keluhan Masyarakat, Pemkot Semarang dan BBWS Tangani Timbunan Sampah di Kampung Nelayan Tambakrejo

Regional
Dompet Dhuafa Gandeng Beramaljariyah dan Evermos Salurkan Al-Qur'an dan Alat Salat

Dompet Dhuafa Gandeng Beramaljariyah dan Evermos Salurkan Al-Qur'an dan Alat Salat

Regional
LKPP Gandeng Telkom Gagas Platform Baru Pengadaan Barang/Jasa

LKPP Gandeng Telkom Gagas Platform Baru Pengadaan Barang/Jasa

Regional
Songsong Kemajuan Desa, BUMDes Wadas Studi Banding ke 4 Desa Sekaligus

Songsong Kemajuan Desa, BUMDes Wadas Studi Banding ke 4 Desa Sekaligus

Regional
BERITA FOTO: Banjir Terjang Aceh Utara, 11.000 Warga Mengungsi

BERITA FOTO: Banjir Terjang Aceh Utara, 11.000 Warga Mengungsi

Regional
Plt Walkot Semarang Optimistis Capai Target Nol Kasus Stunting pada 2023

Plt Walkot Semarang Optimistis Capai Target Nol Kasus Stunting pada 2023

Regional
Pelayanan Publik Jateng Diapresiasi Ombudsman RI, Ganjar: Saya Senang

Pelayanan Publik Jateng Diapresiasi Ombudsman RI, Ganjar: Saya Senang

Regional
Kisah Haru Nenek Berusia 90 Tahun Alami Kelumpuhan, Selamat Berkat Kartu Jateng Sejahtera

Kisah Haru Nenek Berusia 90 Tahun Alami Kelumpuhan, Selamat Berkat Kartu Jateng Sejahtera

Regional
Tahun 2023, Pemkot Balikpapan Fokus pada Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur

Tahun 2023, Pemkot Balikpapan Fokus pada Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur

Regional
Per September 2022, Angka Kemiskinan di Jateng Turun 0,27 Persen

Per September 2022, Angka Kemiskinan di Jateng Turun 0,27 Persen

Regional
Mewaspadai Generasi Shortcut dan Nirmoral

Mewaspadai Generasi Shortcut dan Nirmoral

Regional
Kali Semarang Akan Direstorasi Guna Perbaiki Penataan Kawasan Pecinan

Kali Semarang Akan Direstorasi Guna Perbaiki Penataan Kawasan Pecinan

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.