Cerita 11 Tahun Susuri Setapak di Hutan Belantara Kalimantan demi Mengajar...

Kompas.com - 30/10/2020, 14:31 WIB
Berta Bua’dera saat mengajar murid-murid di SDN Filial 004, Kampung Berambai, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Selasa (12/11/2019. KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATONBerta Bua’dera saat mengajar murid-murid di SDN Filial 004, Kampung Berambai, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Selasa (12/11/2019.

KOMPAS.com - Menyusuri jalan setapak di tengah lebatnya hutan Kalimantan Timur telah dijalani Berta Bua'dera (48), guru honorer asal Kota Samarinda, selama lebih kurang 11 tahun.

Berta merupakan guru honorer di SDN Filial 004 di Kampung Berambai, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Dari rumahnya, sekolah tersebut jaraknya lebih kurang 5 kilometer.

Beruntung, Kompas.com diberi kesempatan untuk menemani Berta menyusuri jalan setapak yang setiap hari dia lalui.

Baca juga: Fakta Pria di Boyolali Bawa Jenazah Ibunya Pakai Bronjong, Jadi Viral dan Penjelasan Polisi

Sebegai infirmasi, lokasi sekolah tempat Berta mengajar berada di pinggiran Samarinda, bersebelahan dengan Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Sebrang, Kutai Kertanegara. Kawasan ini sebagian besar masih hutan.

“Tiap hari saya begini, jalan kaki lima kilo menuju sekolah bawa bekal,” ungkap Berta kepada Kompas.com saat ditemui di sekolah, Rabu (29/10/2020) sore.

Baca juga: Kronologi Ulah Rasial Guru SMA di Jaktim, Tiba-tiba Ajak Murid Tak Pilih Ketua OSIS Non-Muslim

Orang utan hingga ular kobra

Berta Bua’dera saat berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang ia lintasi selama 11 tahun sejak 2009 di Kampung Berambai Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Rabu (28/10/2020). KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATON Berta Bua’dera saat berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang ia lintasi selama 11 tahun sejak 2009 di Kampung Berambai Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Rabu (28/10/2020).

Sembari menyusuri jalan setapak, perempuan kelahiran Tanah Toraja, Sulawesi Selatan tersebut menuturkan, kadang dirinya bertemu ular kobra, monyet, bahkan orangutan.

“Monyet paling sering ketemu. Orangutan dan ular jarang-jarang, tapi ular di sini rata-rata berbahaya, ular kobra. Tapi syukur sejauh ini saya aman saja,” harap Berta.

Berta mulai mengajar pada 2009. Saat itu, dirinya ditemani anaknya, Emanuel, yang belajar di sekolah tersebut.

Lalu, setelah anaknya lulus, Berta harus berjalan kaki sendirian.

Saat ini, sang anak sudah belajar di bangku SMK dan tinggal bersama adik Berta di Kota Samarinda.

Baca juga: Kadis PPPA: Kasus Kekerasan terhadap Anak di Kalimantan Timur Cenderung Menurun

Musim hujan, jalan jadi licin

Dari pengamatan Kompas.com, jalan setapak yang dilalui Berta tak mungkin dilalui kendaraan.

Menurut Berta, jalan itu awalnya dilalui orang-orang saat berkebun.

Sementara itu, dari sekolah, Kompas.com diajak Berta berjalan ke arah utara memasuki kawasan hutan. Medan yang ditemui cukup sulit.

Setelah melewati hutan, tampak beberapa rumah kayu, tetapi berjarak. Rumah-rumah itu, kata Berta, adalah milik petani yang mengurusi kebun kemiri.

Baca juga: Kisah Guru Honorer di Daerah Terpencil, Jalan 10 Km Lewat Jembatan Bambu Demi Mengajar

Setelah melewati kebun, kami memasuki tanah lapang. Kanan kiri jalan hanya terlihat rerumputan dan pepohonan.

Suasana sepi, hanya terdengar suara burung dan nyanyian hutan. Sesekali kami menanjak, menuruni bukit dan melintasi bebatuan.

“Kalau tidak hati-hati bisa jatuh,” kata Berta dan mengingatkan saat turun hujan, daerah itu sangat licin.

Baca juga: Kisah Guru Honorer di Samarinda, 11 Tahun Jalan Kaki Susuri Hutan demi Mengajar

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mayat Bayi Perempuan Ditemukan Dalam Kantong Plastik, Begini Kronologinya

Mayat Bayi Perempuan Ditemukan Dalam Kantong Plastik, Begini Kronologinya

Regional
Haru, Nadif Ikuti Wisuda Virtual Seorang Diri di Makam Sang Ayah, Ini Ceritanya

Haru, Nadif Ikuti Wisuda Virtual Seorang Diri di Makam Sang Ayah, Ini Ceritanya

Regional
Deforestasi, Burung Migran dan Ancaman 'Bird Strike' di Bandara Kualanamu

Deforestasi, Burung Migran dan Ancaman "Bird Strike" di Bandara Kualanamu

Regional
Kisah Pilu 2 Nelayan Tersambar Petir Saat Melaut di Atas Kapal, Satu Orang Tewas

Kisah Pilu 2 Nelayan Tersambar Petir Saat Melaut di Atas Kapal, Satu Orang Tewas

Regional
'Kalau Pemerintah Bisa Bagi Vaksin Sebelum Proses Belajar, Kami Setuju KBM Tatap Muka'

"Kalau Pemerintah Bisa Bagi Vaksin Sebelum Proses Belajar, Kami Setuju KBM Tatap Muka"

Regional
Bupati Situbondo Tertular Covid-19, Puluhan Pejabat Lakukan Tes Swab

Bupati Situbondo Tertular Covid-19, Puluhan Pejabat Lakukan Tes Swab

Regional
Mantan Pegawai Bank Bikin Investasi Bodong, Larikan Uang Rp 15 Miliar Milik 15 Korban

Mantan Pegawai Bank Bikin Investasi Bodong, Larikan Uang Rp 15 Miliar Milik 15 Korban

Regional
Hakim Tolak Eksepsi Wasmad, Sidang Kasus Konser Dangdut Tegal Dilanjutkan

Hakim Tolak Eksepsi Wasmad, Sidang Kasus Konser Dangdut Tegal Dilanjutkan

Regional
PSBB di Kabupaten Bogor Diperpanjang, Belajar dari Kasus Acara Rizieq Shihab

PSBB di Kabupaten Bogor Diperpanjang, Belajar dari Kasus Acara Rizieq Shihab

Regional
Di Yogyakarta, Saluran Irigasi Penuh Sampah Diubah Jadi Habitat Ikan, Hasilkan Rp 48 Juta Per Panen

Di Yogyakarta, Saluran Irigasi Penuh Sampah Diubah Jadi Habitat Ikan, Hasilkan Rp 48 Juta Per Panen

Regional
Korban Terakhir yang Tenggelam di Bendungan Cikanteh Sukabumi Ditemukan

Korban Terakhir yang Tenggelam di Bendungan Cikanteh Sukabumi Ditemukan

Regional
Cerita Ayu, Rekening Ratusan Juta Dikuras Usai Dapat Bonus Pulsa Rp 100.000

Cerita Ayu, Rekening Ratusan Juta Dikuras Usai Dapat Bonus Pulsa Rp 100.000

Regional
Angka Kematian Covid-19 di Solo Capai 97 Orang, Didominasi Penyakit Bawaan

Angka Kematian Covid-19 di Solo Capai 97 Orang, Didominasi Penyakit Bawaan

Regional
Mengajar di TK Selama 57 Tahun, Nenek Chamimah Jadi Sarjana di Usia 78 Tahun, Ini Kisahnya

Mengajar di TK Selama 57 Tahun, Nenek Chamimah Jadi Sarjana di Usia 78 Tahun, Ini Kisahnya

Regional
Penipu Modus Jadi Tim Satgas Covid-19 di Padang, Mengincar Perhiasan Korban

Penipu Modus Jadi Tim Satgas Covid-19 di Padang, Mengincar Perhiasan Korban

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X